Kuliah berakhir pukul dua belas siang. Mata kuliah teori selalu tak pernah gagal membuatku ingin menganjing-anjingkan segalanya. Padahal sudah sengaja kuambil jurusan yang praktikal agar dapat menjauh dari berbagai hafalan yang meremas otak.
Belum lagi tugas-tugas yang berjejeran seperti kaki-kaki kelabang, dengan deadline yang terus maju, maju, sampai akhirnya terasa mengancam kehidupan.
“Tugas anjing!” teriak Albert tepat begitu anak-anak yang lain keluar, sambil menyandarkan kepalanya ke lipatan tangan di sandaran kursi belakang. Dia telah mewakili serapahku. Dengan begini aku merasa tak sendirian. Dengan begini aku merasa bukan cuma aku saja yang stress gara-gara tugas dan segala kegilaan menjadi mahasiswa.
Berbeda dengan kami, Doni malah kelihatan santai betul. Cowok yang masuk jurusan ini melalui jalur undangan itu merapikan kerah kemejanya sambil menimpali, “Kalau nggak mau ada tugas, jangan kuliah, Al. Hehehehe.”
Albert mendelik padanya dengan tatapan membunuh. “Jancok kau, Maz.”
Pecahlah ketawaku dan Doni. Albert dengan logat Ambonnya yang kental selalu terdengar ganjil bila dipadukan dengan bahasa Jawa. Namun, cowok berambut keriting itu tetap saja menggunakannya. Entah dia tak sadar, atau dia sadar akan keanehannya dan sengaja mempertahankannya agar kelihatan lucu.
Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengajak kedua sohibku ini mengerjakan tugas bersama. Seperti biasa, Doni selalu kubutuhkan sebab kapasitas daya pikir dan ketangkasannya dalam akademik tentu sangat membantu proses pengerjaan tugas, sedangkan Albert selalu kubutuhkan untuk merancang kudapan dan camilan nikmat.
“Nugas di kosku, Bos? Mangga sudah berbuah ini. Ada pepaya juga, dapat dari bibiku.”
Aku tak hiperbolis. Apa pun bahan makanan yang disentuh oleh Albert, akan menjelma jadi sesuatu yang sangat lezat. Daripada jadi mahasiswa teknik sipil, kurasa dia lebih berbakat kalau jadi mahasiswa tata boga. Bagiku, skill memasaknya cukup tangguh bila dibandingkan dengan aku yang cuma bisa masak air, mi instan, dan telur ceplok. Sayang, prospek kemapanan akan lulusan teknik sipil dan tata boga berbanding jauh. Di awal milenium baru ini, kita tak bisa macam-macam sebelum terjamin punya masa depan yang cerah.
Bolaku langsung disambar Doni, “Asek. Ngerujak, Nyok!”
“Singgah dulu ambil bahan lainnya, Bung!” Albert bangkit dengan gaya sok cool, pura-pura nggak antusias.
Kami singgah bentar ke kos Albert yang lebih dekat kampus demi mencari gula merah dan kacang, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke kosku. Bumbu dapur di kosan Albret lumayan komplit dan rapi. Berbeda denganku yang tak bisa membedakan laos dengan jahe atau ketumbar dengan merica.
Rujak yang kami buat cuma berbahan buah dua. Rujak juga bukan tipe makanan yang butuh api, tapi tetap saja aku percaya kalau makanan apa pun akan lebih nikmat bila diolah dengan tangan seorang Albertus Wattimena.
“Esial, lupa asam, Gun. Nggak ada asam gitu?” tanya Albert dari kesibukan mengulek, yang kelihaiannya setara ibu-ibu beranak tiga, sementara aku lagi merebus lima bungkus mi selera pedas di panci untuk dimakan bertiga, dan Doni bersantai di atas ranjang sambil memetiki gitarku.
Aku tertegun setelah menyingkirkan sampah bungkus mi instan ke dalam keranjang. “Eh, iya. Nggak ada, Bung. Kucoba minta ke ibu kos dulu.”
Aku pun beranjak sambil membawa keranjang sampah tadi yang kugeletakkan di depan pintu. Kuhampiri rumah ibu kos, tapi rumahnya tertutup rapat. Sial, aku lupa kalau sejak pagi mereka berangkat untuk pesta keluarga di luar kota. Harapan berikutnya adalah rumah Bu Ma’ruf, ibu Lala yang terkenal sangat murah hati.
“Assalamualaikum!” teriakku dari pintu depan.
Tak lama kemudian, Kak Tami, salah satu kakak Lala, keluar. “Wa’alaikumsalam. Eh, Guntur. Iya, Gun?”
“Ng … Mau nanya, Bu Ma’ruf punya asam? Boleh minta sedikit nggak?” tanyaku sesopan mungkin.
Kak Tami tersenyum. “Mau ngerujak bareng teman ya, Gun? Masuk aja, ke dapur.”
Memang sudah tradisi anak kosan untuk berpesta rujak setiap musim mangga berbuah. Maka, apabila ada yang masuk meminta asam atau gula merah di masa-masa seperti ini, dapat diipastikan sembilan puluh persen hendak membuat rujak. Sepuluh persennya ya tanya sendiri kalau mereka menjawab ‘Enggak.’
Kuekori langkah kakak keempat Lala yang age gap-nya dengan si bungsu lumayan jauh itu. Belakangan baru kusadari kalau usiaku dan usia Kak Tami cuma beda setahun, hanya saja Kak Tami nggak berkuliah. Terkadang aku heran bila memikirkan kelahiran Lala enam tahun silam, ketika Bu Ma’ruf dan Pak Ma’ruf sudah sangat tua. Apakah Bu Ma’ruf mendapatkan menopause setelah melahirkan Lala? Kira-kira bagaimana ya rasanya punya anak yang lebih cocok jadi cucu sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini tak pernah berani kusuarakan, hanya bisa bercokol di pikiran sendiri.
Sudah berkali-kali aku masuk ke rumah Bu Ma’ruf, menembusi sampai pintu belakangnya, tapi tetap saja aku selalu takjub pada bagian dalamnya yang hangat dan sejuk dalam satu waktu. Di ruang tamu berdinding hijau, ada dua lukisan bergambar pepohonan dan persawahan serta ka’bah dan kaligrafi. Ventilasinya dari kaca, tapi berhubung rumah ini diapit oleh pohon-pohon besar seperti kesambi, mangga dan sukun, di siang hari, udaranya tetap terasa segar. Terkecuali dapur, semua pintu dan jendela diselubungi tirai berwarna sama, oranye muda. Perabotannya sederhana, jenis furnitur kuno yang eksis satu dekade sebelumnya, tapi masih apik. Kutangkap simpulan bahwa benda-benda itu dibeli sebelum masa pensiun Pak Ma’ruf, dan memiliki nilai memori yang berharga bagi pasangan suami istri itu.
Berbeda dengan rumah ibu kosku yang cuma dihuni oleh Pak Kasim dan istrinya sementara anaknya berkuliah di luar kota sehingga terkesan lengang, rumah ini ramai oleh langkah-langkah kaki dan celotehan Lala.
Benar saja. Begitu aku muncul di lubang pintu dapurnya yang tak berpintu dan punya lebar dua kali lubang pintu biasanya, suara Lala yang sedang sibuk membantu ibunya memasak, langsung menyapa runguku dengan begitu lancar dan nyaring. Bu Ma’ruf sendiri terlihat repot menghadapi wajan-wajan, pertanyaan Lala yang seperti tiada habisnya, beserta tingkah bocah itu yang selalu ingin menyentuh apa saja dengan dalih ingin membantu. Melihat kejadian itu, aku mendenguskan tawa geli.
Geliat di dapur baru berhenti ketika Kak Tami mengumumkan kedatanganku.
“Bu, Gun minta asam dikit.”
Kedua kepala yang tadinya membelakangi kami langsung menoleh.
“Eh, ada paman Gun,” kekeh Lala. Dua giginya di depan ompong, membuatku ikut ketawa. Sepertinya baru kemarin tanggal atau dicabut. Pasalnya dua hari sebelumnya, ketika kujemput dari kos Raina, giginya masih utuh.
Ah, Raina. Apa kabar dia? Belum pernah lagi kutemui gadis itu. Sepertinya bakal romantis kalau kukirimkan puisi lewat radio. Kira-kira Raina suka mendengar radio nggak? Tidak lucu kalau kukirim salam tapi tak sampai ke orangnya.
“Pasti mau ngerujak, ya?” tanya Bu Ma’ruf sambil tersenyum, sementara tangannya sibuk membuka wadah makan dari plastik yang penuh berisi asam-asam yang dipadatkan. “Lala, tolong ambil plastik dari lemari, ya. Satu plastik mika, satu plastik item yang gede.”
Buru-buru kubuyarkan lamunan tentang Raina dan kaki jenjangnya puisi untuknya.
Lala melompat dari atas kursi kayu yang dijadikan tempat berdiri untuk mengawasi pekerjaan ibunya, lantas membuka pintu lemari. Dipungutnya secarik plastik mika bening untuk diisi sebongkah asam, dan kantung plastik hitam ukuran besar yang belum kutahu buat apa.
“Sebentar ya, Gun.”
Tahu-tahu, Bu Ma’ruf mengeluarkan empat bungkus plastik keripik singkong berukuran sekilo-sekilo dari lemari dan memasukkannya bersama mika berisi asam ke dalam plastik hitam jumbo itu. Diulurkannya plastik dalam genggamannya kepadaku. “Ini, sejak pagi mau Ibu kasih ke anak-anak kos kamu, tapi nunggu si Dian kok nggak datang-datang. Pintu yang lain juga sepertinya masih ketutup. Mumpung kamu datang, Ibu nitip dibagikan ke empat kamar kosmu, ya. Jadi itu buat kamu, Anya dan suaminya, Dian, sama Ucup.”
Aku mengerjap. “Ya ampun, makasih banyak, Bu. Iya, nanti saya bagi-bagikan. Makasih sekali lagi, Bu, Kak Tami.” Kutatap bergantian Bu Ma’ruf dan Kak Tami yang melengkungkan senyum. Baru hendak keluar dari pintu dapur, aku teringat belum memberikan pita-pita rambut yang kubeli kemarin lusa untuk Lala.
“La, mau ikut nggak? Ngambil pitamu.”
“Pita apa?” tanya Lala sambil mengerjap-ngerjap bingung, tapi belum sempat kujawab dia sudah memutuskan. “Aku ikut deh. Aku ikut Paman Gun sebentar ya, Ma. Mau lihat gimana bikin rujak.”
Bu Ma’ruf kelihatan bimbang. “Nggak makan dulu, La?”
“Habis lihat bikin rujak dan ngambil pita, aku pulang kok.”
Akhirnya Bu Ma’ruf mengangguk. “Ya udah, daripada kamu ngerecokin Mama di sini.”
Tawa kami pecah berhamburan, sementara Lala cuma cengengesan. Dia nyengir seakan sengaja memamerkan dua giginya yang ompong di depan itu, membuat gelakku jadi semakin kencang.
Setelah mengucapkan terima kasih lagi dan berpamitan, aku dan Lala keluar dari pintu rumah itu. Lala melemparkan sandal kecilnya ke undakan tangga. Kutunggu sampai dia selesai mengenakannya, sebelum kami berjalan beriringan ke kosku.
Kedatangan tuyul perempuan dengan dua kuciran rambutnya yang mencuat ke atas seperti fountain membuat Doni yang sudah menyusun piring-piring di lantai mengelilingi panci berisi mi dengan uap yang mengepul, menjatuhkan rahangnya. “Anak mana kauculik, Gun?”
Albert yang sibuk mencuci buah ikut menoleh dan bengong.
“Anak tetangga.” Kulirik kamar Dian dan lainnya yang masih tertutup rapat. “Nih, asamnya, Al.”
Sodoranku langsung disambar dengan penuh antusias sebelum cowok keriting itu kembali menggeluti bumbu rujaknya. Buah-buahan yang ada sudah dipetiki dan dicuci, tinggal diris-iris. Albert memang sangat gesit kalau urusan dapur begini.
“Halo, semuanya,” sapa Lala sambil cengengesan. Kutebak Doni hampir ketawa, pasti karena melihat gigi Lala. “Aku Lala. Teman Paman Gun. Teman-teman Paman Gun, berarti temanku juga. Senang bertemu Paman-paman.”
Kali ini Doni dan Albert menghentikan aktivitasnya untuk sepenuhnya bengong, meneliti Lala yang masih memamerkan senyum cerah dengan dua jendelanya yang terbuka. Keheningan itu baru dipecahkan oleh tawaku yang lepas.
“Eh, baru pertama kali lihat anak begini?” ledekku. “Ini Paman Doni, dan itu Paman Albert.” Kuperkenalkan mereka yang sepertinya tak kuasa memperkenalkan diri sendiri karena ketakjuban yang membuat mereka terpaku.
“Halo …,” sapa Doni dan Albert berbarengan, masih terkesima.
“Lagi pada mau makan-makan, ya? Woah, rujak. Woah, mi. Pasti enak,” kata Lala, berlagak menghirup aroma mi selera pedas yang menguar seiring uapnya yang membumbung, sementara aku menaruh kantung plastik berisi keripik untuk anak kos lain di atas lemari plastikku, dan membuka ransel untuk mengeluarkan aksesoris rambut yang mau kuberikan pada Lala.
“Mau makan bareng, La?” tawar Albert. Kali ini dia sudah berhasil menarik diri dari keterkesimaan, dan kembali menggeluti bumbu rujaknya, menambahkan asam di dalamnya.
Lala menengok sebentar pada bumbu rujak di dalam ulekan dan mi di dalam baskom alumunium. Kernyitan mencuat di hidungnya. “Terima kasih, tapi enggak deh, kayaknya pedas. Aku juga sudah janji mau makan di rumah. Takut kekenyangan. Hehehe.”
Barangkali, jawaban Lala yang kelihatan bijak, sopan dan sangat beraturan membuat Doni penasaran. “Kamu sekolah di mana? Kelas berapa? Umurmu berapa?”
“Aku sekolah di SD Singasari, kelas satu, umurku enam tahun Desember nanti,” jawab Lala sambil duduk memperhatikan gerakan Albert. “Paman Albert dan Paman Doni teman kuliah Paman Gun, ya?”
“Iya,” jawab Albert dan Doni kompak.
Kutahan tawa yang hendak menyembur ketika melihat Doni yang sepertinya nggak mau repot menyembunyikan rasa takjubnya pada Lala. Matanya berbinar persis anak kecil diberi mainan baru. Namun, berhubung ingat Lala belum makan, langsung kusodorkan tiga lusin aksesoris rambut berwarna-warni yang kubeli kemarin pada Lala. “Nih, La. Pita-pita rambutnya.”
Lala tampak semringah. “Wah, cantik sekali. Terima kasih ya, Paman Gun.” Kuacak-acak rambutnya, gemas. Duh, ini bukan pertama kalinya benakku bertanya-tanya dulu Bu Ma’ruf dulu hamilnya ngidam apa ya, sampai hasilnya keluar dalam wujud Lala ini? Dia bukan cuma menggemaskan, tapi juga cerdas.
“Sama-sama.”
Bola mata anak kecil itu mengguliri Albert yang kini sedang membelah pepaya, Doni yang masih terperangah sembari memangku gitar, dan aku yang tersenyum, lalu berkata, “Oh, iya. Paman-paman mau makan. Aku pamit dulu, ya. Mau makan juga. Selamat makan,” sambil melambaikan tangannya seperti pose ‘dadah-dadah’ yang langsung kami balas dengan kikuk. Kuantar kepergiannya dengan guliran mata, tersenyum kecil melihatnya berjalan sambil melompat-lompat sampai tubuhnya hilang di pintu rumahnya.
“Lucu, ya.” Itu respons Albert berikutnya.
Doni menggeleng-geleng. “Anak kelas satu SD, tapi bicara dan perawakannya kayak udah bijak gitu, ya. Mau buat yang begitu juga.”
Langsung kutoyor kepalanya sampai dia tergelak-gelak.
“Suaranya bagus lho, kalau nyanyi. Aku yakin dia bisa sukses nanti,” ucapku optimis. Melihat kepercayaan diri Lala, bakat, kecerdasan dan caranya membawa diri, aku benar-benar percaya dia bakal cemerlang di keesokan hari.
“Aku tunggu deh, kurela membujang demi dia,” timpal Doni yang kubayar pakai toyoran lagi.
Albert mendelik sadis. “Halah, besok-besok kau ketemu cewek bening juga luluh lagi. Membujang tahik kambing, puih.”
Kami tergelak. Kulihat Albert telah selesai memotong-motong buahnya ke dalam baskom. “Ngemi dulu ya Bung, baru ngerujak. Kalau terbalik bisa tinggal di wese kita.” Dia mencuci tangannya di luar, yang disusul oleh aku dan Doni, kemudian mulai menyendok makan siang kami yang ‘anak kos’ banget ke dalam piring-piring makan berbahan kaleng.
“Eh, ngomong-ngomong soal cewek bening,” ucapku, menjeda sedikit untuk menyeruput kuah mi yang sedap, “kemarin aku ketemu satu. Anak Bugenvil.”
Albert tampak antusias. “Ha? Gimana? Gimana?”
Langsung kuceritakan semua kejadian yang berlangsung dua hari yang lalu, pertemuan antara aku dan Raina yang membuatku terbayang-bayang. Lengkap dari awal sampai akhir, sebab kutahu dua kawanku ini adalah penggila drama.
“Buset … sikat, Bung!” timpal Doni.
Albert mengamini. “Eh, tunggu dulu. Kau bilang Raina? Kayaknya aku pernah dengar namanya. Raina Manado, bukan?”
Aku mengangkat bahu. “Nggak tahu aku dia asalnya dari mana.” Kusendok lagi mi dari dalam panci ke piringku yang sudah kosong.
“Kalau Raina Manado, lumayan terkenal dia. Kuliah di FKIP, setahun di atas kita.”
Kujentikkan jari. “Nah, kalau itu kayaknya benar! Terkenal sebagai apa?”
Albert yang sudah menandaskan makannya, kini berbalik untuk mengambil air minum. Dia minum seteguk sebelum menjawab, “Sebagai orang cantiklah.”
Aku manggut-manggut. “Memang cantik, sih.” Kubayangkan wajanya. Berikutnya, malah ada rasa gelisah yang menelusupi dadaku. Aku tahu dia cantik, kelewat cantik malah. Dia agak judes, tapi kalau dipikir, mungkin itu semacam tameng yang dipasang agar tidak banyak cowok brengsek yang mendekatinya. Kalau memang dia terkenal, sudah berapa banyak cowok yang mencari perhatiannya? Atau jangan-jangan, dia malah sudah memiliki pasangan?
Dan kusadari tiada yang kuketahui dari Raina selain namanya, kecantikannya, dan tempat tinggalnya. Unsur yang pasti diketahui oleh semua orang.
Aku mendesah.
“HOY GUN, NGELAMUN AJA!” sergah Albert yang membuatku terlonjak sampai sendokku jatuh dan melenting di atas karpet nilon.
Doni tersenyum setan. “Mikir jorok, ya? Muehehehe.”
“Anjing,” makiku sambil memunguti sendokku kembali. Kualihkan perhatianku pada mi instan yang tersisa di dalam panci. “Nggak ada yang mau nambah lagi?”
Keduanya menggeleng. “Nggak ah, kenyang.” Doni lebih memilih menyicipi rujak sambil memainkan gitarku, dan Albert beringsut keluar buat merokok. Cowok gimbal itu memang selalu nyebat setelah makan. Kalau nggak, mulutnya bisa terasa masam.
Kuhabiskan mi di dalam panci, lalu beranjak keluar, mencuci semua peralatan makan kami dan kembali masuk untuk mengelap dan menyusunnya di rak mungilku. Aku selalu suka tinggal sendiri. Ngekos membuatku bisa melakukan apa yang nggak bisa kulakukan di rumah orangtuaku.
Begitu selesai membereskan kekacauan yang kami timbulkan–ceceran mi dan tetesan kuahnya di lantai–sebelum lantai kosku dikerubungi semut-semut keji, aku menarik bantal yang diduduki Doni di atas ranjang, dan melemparkannya ke lantai. Kulirik jam meja di kabinet. Pukul setengah dua siang. Nggak masalah bila aku tidur sebentar.
“Sore aja kali ya nugasnya?” tawarku sembari merebahkan tubuh di lantai beralaskan karpet nilon. “By the way, kalau mau keripik ambil saja di atas lemari. Yang dimakan sebungkus aja, ya. Tiga bungkus sisanya itu jatah anak kos lain.” Aku menguap. Dengan alunan petikan gitar Doni, angin yang menelusup masuk lewat pintu, serta perut kenyang, aku bermimpi ketemu Raina, bersama Lala.
