Aku terbanting dan menjelma sepucuk kertas di sisimu. Menjadi yang kautatap sepanjang waktu dan kaucumbui saban hari. Duniamu adalah literasi, dan kau sang penulis dengan pena bertinta emas, yang sungguh murah hati menyempatkan diri menandaiku yang sederhana. Kutakjubi dirimu di antara sederetan kata. Engkau, pewujud rentetan puisi indah nan megah dan mewah. Sungguh berdusta jika … Lanjutkan membaca Piyama
Ada Apa dengan Pantai?
Kulari ke hutan, tapi tak cukup nyali. Aku pun mundur lalu lari ke pantai, menghibur diri. Hitam, legam, kelam, tetap saja tak kubenci
