Aku terbanting dan menjelma sepucuk kertas di sisimu. Menjadi yang kautatap sepanjang waktu dan kaucumbui saban hari.
Duniamu adalah literasi, dan kau sang penulis dengan pena bertinta emas, yang sungguh murah hati menyempatkan diri menandaiku yang sederhana.
Kutakjubi dirimu di antara sederetan kata. Engkau, pewujud rentetan puisi indah nan megah dan mewah. Sungguh berdusta jika kutampik rasa yang sungguhan ada.
Aku terbanting dan kembali jadi aku. Terbaring di atas ranjang dengan kondisi piyama kusut dan kuyup.
Jarum jam masih berada pada posisi garis lurus dengan sedikit sudut, hanya berjarak sekian senti dari kali pertama kukatupkan kelopak mata.
Malam masih panjang, dan aku masih mengantuk. Kuganti piyama dengan yang baru, dan melanjutkan lelapku.
Semoga kali ini kujelmakan diri sebagai selimutmu, yang membungkusimu dengan kehangatan dari dinginnya udara malam. Atau menjadi dua lembar piyama yang menemani lelapmu hingga kautemui siapa-siapa (semoga aku) di sudut mimpimu.
Selamat malam.
