Doni dan Albert baru saja beranjak dari kamarku sekitar dua puluh menit yang lalu, setelah kami mengerjakan tugas–yang tak rampung, tentunya. Alasannya, mau malam mingguan. Macam aku tak tahu saja kalau mereka itu sama sepertiku, jomlo ngenes yang tak laku-laku.
Seringkali aku bingung kenapa kami bertiga tak ditempeli cewek-cewek. Namun Doni selalu punya jawaban pamungkasnya, “Kita kurang modal.”
Sebagai anak perantauan, kami memang tak punya aset yang bisa menggaet cewek-cewek. Aku dari Lombok, Albert dari Ambon, dan Doni dari Banjarmasin, dianggap orang kampung di kota besar seperti ini. Masyarakat di sini sepertinya sangat Jawasentris. Kalau bukan orang Jawa, artinya kami orang kampung.
Belum lagi nasib kami sebagai mahasiswa sederhana. Uang bulanan pas-pasan. Syukur-syukur mendapat beasiswa seperti aku kemarin sehingga bisa sedikit hidup mewah.
Malam ini kuputuskan menyendiri sambil ditemani denting dawai gitar yang kupetik di atas bak penampung air. Lampu kamar tiga kawan sekosku masih padam. Mereka belum pulang juga. Kulemparkan pandangan ke rumah ibu kosku, sama sepinya. Ke mana semua orang? Dalam kesunyian, malam minggu jadi terasa kian menyedihkan, dan aku jadi semakin terlihat mengenaskan.
Mendadak, kuteringat pada rencana untuk mengirim puisi untuk Raina. Sayangnya, aku masih belum tahu apakah Raina demen mendengarkan radio.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Sementara asyik memetiki dawai-dawai gitar hingga membentuk melodi acak, Lala keluar dari pintu, dengan mikrofon bedak bayinya. Melihatnya yang sudah siap untuk konser kecilnya, langsung kupanggil saja ia.
“Lala!”
Anak itu menoleh. Matanya berbinar ditimpa cahaya lampu teras yang berwarna kuning, lalu tersenyum semringah. Dia kelihatan mencari-cari sesuatu, tapi bukannya datang, anak itu malah kembali ke dalam. Awalnya, kupikir dia tidak berminat duduk-duduk bersamaku di sini, tapi rupanya dia muncul kembali, membawa sepasang sandal mungilnya yang ia kenakan untuk menghampiriku.
Kusunggingkan senyum lebar untuk menyambutnya.
“Halo, Paman Gun.” Dia melongok ke lampu-lampu kamar yang padam. “Sendirian saja, ya?”
Kekehanku mencelat lebih miris dari yang kuniatkan. “Iya, nih.”
Dia duduk di sebelahku. Kali ini, kakinya tak lagi dibiarkan menggantung, malah dilipatnya dengan pose duduk bersila. Terlihat nyaman, sembari tangannya memain-mainkan mikrofon bedak bayinya. “Teman-teman Paman Gun sudah pulang semua?”
Aku mengangguk sebagai jawaban. “Sudah pulang sejak magrib tadi. Lala mau nyanyi nggak? Diiringi pakai gitar.”
Lala mengangguk, terlihat antusias. Ketika kutanya mau bernyanyi lagu apa, anak itu langsung menyebut Twinkle-twinkle.
“Lala bisa nyanyi bahasa Inggris, memang?”
Diangguk-anggukkannya kepala. “Bisa. Aku bisa nyanyi We Wish You Merry Christmas, Jingle Bell, Brother John …” Dia berhenti sejenak untuk berpikir. “Banyak. Diajari sama temanku yang Kristen.”
Sepertinya, Lala memang sangat antusias dalam mempelajari segala sesuatu. Dia selalu bersemangat mendapatkan informasi baru. Kubayangkan kerja otaknya seperti kamera, merekam semua informasi, untuk kemudian ditampilkan pada saat-saat yang tepat.
Kutepuk-tepuk kepalanya, penuh sayang.
“Yuk deh, Twinkle-twinkle Little Star.”
“Di G!” serunya. Membuatku terpengarah beberapa detik.
“Oke. Main di G.”
Kupetik senar sebagai intro. Tanpa memberi aba-aba tanda masuknya, Lala sudah langsung bisa menyanyikannya dengan tepat.
twinkle-twinkle little star
how I wonder what you are
up above the world so high
like a diamond in the sky
twinkle-twinkle little star
how I wonder what you are
“Medley bintang kecil, ya ….” ujarku sambil mencoba mencocokkan permainan agar bisa masuk lagu baru.
bintang kecil di langit yang biru
amat banyak menghias angkasa
aku ingin terbang dan menari
jauh tinggi ke tempat kau berada
Lala menyanyikannya dengan mulus sambil menggoyangkan kepalanya ke kanan-kiri, dan menengadah ke angkasa dengan bedak bayinya di depan mulut. Kutepuk-tepuk tanganku dengan heboh dan katrok setelah Lala menyanyikannya dua putaran sementara ia cuma cengengesan. Lama-lama aku bisa menasbihkan diriku sebagai fans anak ini. Pelafalan bahasa Inggrisnya pun bagus meski sedikit terkendala oleh giginya yang tanggal di depan itu.
“Kamu ikut les vokal, ya?” tanyaku, hendak memenuhi rasa penasaran akan suara dan kelincahan Lala dalam bernyanyi.
Lala menggeleng. “Nggak, kok. Tapi di kelas aku jadi dirigen,” jelasnya sambil menggerak-gerakkan tangan dengan gerakan konduktor.
Kuangguk-anggukkan kepala sok paham, padahal menurutku tiada korelasinya dirigen dengan kemampuan vokal.
“Kutebak, Paman Gun pasti tidak punya pacar.”
Aku tersedak ludahku sendiri. Di tengah kehebohanku akan nyanyian Lala, bocah ini malah menyinggung-nyinggung perasaanku. Aku berlagak sakit hati dengan menyentuh dadaku dan memasang muka merana. “Ya ampun. Sakit sekali hatiku dihina oleh Lala. Akh.”
Lala tergelak-gelak lepas, seolah dia puas telah menyakitiku. “Soalnya Paman kelihatan kesepian, tapi sepertinya bahagia kalau kutemani. Paman mau kucarikan pacar?”
Dudukku langsung menegak. Kuperhatikan ekspresi Lala yang sangat lucu; dia tersenyum sambil menaik-turunkan alisnya. Kalau aku betulan jadi orangtuanya dan digoda begini, akan kuselidiki dia bergaul dengan siapa saja.
Baiklah. Aku lupa kalau dia bergaul denganku.
“Memangnya kau punya teman yang tidak punya pacar juga?” kupancing dia.
Dia mengangguk, terlihat bangga. “Aku punya banyak teman, kok.” Kutunggu dia bicara lagi, tapi Lala tak menambah sepatah kata tambahan pun, malah menatapku dengan sorot mata menelisik, lalu berbisik penuh rahasia, “Aku tahu Paman Gun tertarik dengan Kak Raina.”
Astaga. ASTAGA. Kucengkeram gagang gitarku dengan tangan yang berkeringat. Bisa-bisanya aku dibikin mati kutu dengan ucapan anak kelas satu SD. Ada panas yang menjalari pipiku dan memaksa kekeh maluku mencuat seenak jidat.
“Kelihatan banget ya, La?” tanyaku pasrah. Mungkin perasaanku memang terlihat jelas, sampai-sampai Lala saja bisa membacanya.
Alarm kepalaku mendengking.
Sialan.
Kalau anak SD saja tahu, bagaimana dengan orang dewasa? Di pelupuk mataku kembali terbayang adegan Dian yang tersenyam-senyum sambil berdeham kepadaku. Lalu adegan Anya yang juga mengulum senyum ketika aku mengembalikan kunci motornya.
Sialan kuadrat.
“Tenang saja, aku nggak bakalan kasih tahu siapa-siapa, kok,” terang Lala menenangkan sambil mengacungkan dua jarinya. Yang sayangnya tak kubutuhkan karena aku tahu semua orang pasti sudah telanjur tahu. Aku terkekeh pilu.
“Kak Raina sama sepertiku, dia suka bintang, makanya mengambil jurusan Fisika. Kak Raina suka makan bakso 88 di pasar malam. Kak Raina suka puisi, tapi kurang suka hal-hal romantis. Warna kesukaan Kak Raina itu merah. …”
Sontak, aku tercengang menatap anak kecil di sebelahku yang masih berpikir sambil mengetukkan jemari ke pelipisnya. Kata-kataku lenyap entah ke mana.
“Ng … apa lagi, ya? Oh.” Lala menatapku sambil tersenyum lebar. “Kak Raina tak punya pacar, kok.” Tangan kecilnya menepuk-nepuk punggungku beberapa kali.
Retorikaku seakan lenyap. Terisap oleh ketercenganganku yang berlebihan. Sekalinya bicara, kata-kata keluar tersendat-senat, mirip orang gagap. “La … k-kok … kamu … ngasih tahu semua … ke … P-paman?”
Jawabannya datang begitu cepat dan mantap. “Karena Paman Gun orang baik, dan Kak Raina juga orang baik. Aku suka melihat kalian berdua.”
Aku masih mematung, menekuri semua kata-kata Lala, sementara gadis kecil itu sudah berceloteh lagi. “Yah, walaupun kelihatannya Kak Raina itu galak, sebenarnya dia baik sekali ….”
Suasana di antara kami tersobek ketika Bu Ma’ruf keluar dari pintu depan sambil meneriakkan nama Lala. Anak itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, sembari berseru, “Di sini, Ma!” Berikutnya, dia menoleh ke arahku. “Haduh, Mama sudah memanggil. Aku masuk dulu ya, Paman Gun.” Lalu menurunkan kakinya, memakai sandal.
“Eh, La, La!” cegahku sebelum ia berlari.
Dia menoleh. “Iya, Paman?”
Aku cengengesan malu, melirik ragu antara Lala dan Bu Ma’ruf yang sudah menanti anaknya. “Dia … Suka dengar radio nggak?”
Lala memiringkan kepalanya, berusaha mengingat-ingat. “Kak Raina pernah dengar radio.” Jawaban yang tidak memuaskan, tapi setidaknya aku punya peluang.
Aku mengangguk. “Makasih, La.”
Lala terkekeh, “Sama-sama, Paman.” Kemudian berlari masuk, sementara aku mengangguk sopan pada Bu Ma’ruf yang mengomeli Lala untuk tidak mengganggu paman-paman.
Dalam kesendirianku, senyumku tersungging lebar sekali. Aku persis orang sinting kelebihan endorfin yang jadi kepengin ketawa terus. Di kupingku terngiang-ngiang lagu Titiek Puspa:
Jatuh cinta berjuta rasanya
Biar siang biar malam terbayang wajahnya
Jatuh cinta berjuta indahnya
Biar hitam biar putih manislah nampaknya
Stop sampai di situ, karena lirik berikutnya sudah tak relevan dengan kondisiku. Kami baru bertemu sekali, tidak ada adegan dia jauh, dekat, dan aktif. Hanya diam. Diam dan judes. Dan, aku pun belum diberi kesempatan untuk salah tingkah, jual mahal, atau cari perhatian. Hanya rindu. Merindu dan mengenaskan.
Kuhela napas dalam-dalam, berharap oksigen mampu meneguhkan hati dan menegakkan tekadku. Setelah semua nyaliku terkumpul hingga membuncah di dalam dada, aku beringsut ke kamar. Kusandarkan gitar ke dinding, lalu menyalakan radio kecil dan menggerak-gerakkan antenanya sambil memutar-mutar tube pencari frekuensi sampai tiba pada sebuah siaran dari channel LadangSuara yang memperdengarkan cuap-cuap sang penyiar.
“–jutnya ada pesan dari Tara di kos-kosan Lembayung, ‘nitip salam buat Rose di Maranatha, selamat malam minggu, semoga lagu dariku bisa menemani kamu di malam ini.’ Sebelum Blu putarkan Jika-nya Melly Goeslaw untuk Rose, Blu ingatkan kembali buat teman-teman yang mau menitipkan salam rindu untuk mengirim email melalui …”
Tangkas, kurobek kertas apa pun yang pertama kali kulihat untuk menuliskan apa deret huruf yang berikutnya dibacakan. Hidungku pun kembang-kempis seiring dadaku yang naik dan turun dalam kelegaan. Telah kukukantungi alamat itu. Sebuah alamat yang bakal berfungsi sebagai Pak Posku yang baik, mengirimkan luahan hati seorang laki-laki bernama Guntur kepada seorang perempuan bernama Raina. Sebuah alamat yang tidak tercatut di belahan bumi manapun, dan cuma bisa dikunjingi lewat jaringan-jaringan tak kasatmata bernama internet.
Lekas-lekas kumatikan kembali radio itu, menyambar jaket dan dompet, untuk kemudian keluar dari kos usai memadamkan lampu. Ada satu warung internet di sebelah wartel di dekat kampus, yang menyediakan jasa sewa komputer dengan tarif per jam. Dan, berhubung ini adalah malam minggu, pasti aku bakalan antri sampai subuh kalau tidak bergegas.
***
Di depan komputer itu …
Mata mengedip. Tangan gemetar. Peluh bercucuran. Tapi di sisi lain, aku malah kedinginan.
Kulirik kipas angin yang berputar di atas kepala. Kupikir, aku akan mensyukuri posisi strategis bilik terpencil dan terdekat dengan sumber kesejukan, nyatanya aku malah menderita seperti orang sekarat. Meski aku tahu jelas, kesekaratanku ini bukan disebabkan oleh kipas angin. Melainkan karena gugup.
Apa? Apa yang kulakukan sekarang?
Mendadak, kusesali kedatanganku ke sini. Seperti baru saja terjaga dari mimpi atau malah baru dirukyah dari kesurupan setan, kupertanyakan apa yang kulakukan sekarang. Kutatap kolom suratku yang masih bersih tak ternoda, kecuali satu garis kecil yang berkedip-kedip genit seolah menunggu disentuh. Tapi aku masih geming. Begitu pun putaran otakku.
Dan, secara mendadak pula, rentetan kalimat menghakimi diri mulai mengetuk-ngetuk batok kepalaku dari dalam. Memangnya Raina mendengarkan radio? Memangnya Raina mendengarkan saluran ini? Memangnya Raina suka lagu yang mau kuminta diputarkan untuknya? Memangnya Raina mau ….
Keringatku semakin membanjir, terutama di bagian ketiak. Mungkin ketika pulang, aku harus merendam baju putih ini jika tidak mau benda ini punya noda kuning menjijikkan.
Tiupan angin dari kipas pun terasa semakin kencang. Kutatap piringannya yang berputar cepat itu dengan mata memelotot. Tatap … Tatap … Fokus …. Perlahan-lahan piringannya melambat, melambat, me lam battt … m e l a m b a a a a a a t t t t .…
lalu keluarlah deretan huruf dari dalamnya, yang terbawa angin kipasannya mendekat, membentuk kata-kata tersusun di dalam kepalaku.
Jari-jariku mulai mengetik.
