Permukaan sloki menyentuh sloki lainnya, bunyi denting terdengar di antara tawa yang membahana.
“Akhirnya, setelah sekian lama kau berusaha, kau bisa berlayar juga.” Suara sang istri yang lembut terdengar bangga.
Hidung bangir milik lelaki itu kembang-kempis dibuatnya. Pujian dari sang istri jelas bukan apa-apa bila dibandingkan dengan namanya yang telah terukir dalam sejarah. Dua puluh tahun dia membangun perahu dari papan-papan harapan yang genting, kini laki-laki itu bisa berlayar sambil membusungkan dada.
“Aku akan mengantarmu ke lautan.” Istrinya bergerak, membungkus beberapa makanan ke dalam kotak bekal. Isinya kepercayaan, kebanggaan, serta doa yang dikemas sempurna. Baginya perjalanan suaminya kali ini adalah bentuk kesuksesannya juga, sebab ada ungkapan bahwa di balik kecemerlangan lelaki, terpatri pula peran wanita di sisi.
Akan tetapi belum juga kaki wanita itu menyentuh pepasir, suaminya sudah memintanya kembali.
“Kau pulanglah. Aku akan baik-baik saja disini.”
“Aku ingin mengantarmu sampai perairan. Biarkan aku melihat lautan yang mau kau manfaatkan jadi medan berlayar.”
“Nggak perlu! Pulang saja sana. Lautanku nggak ada beda dengan lautan yang pernah kita singgahi sebelum-sebelumnya.”
Pada akhirnya sang istri melihat kesungguhan akan keengganan suaminya, maka dia berbalik pergi.
Laki-laki itu menghembuskan napas dengan lega begitu sosok istrinya menghilang.
“Fuh, bagaimana bisa aku menunjukkannya padamu?”
Dia menaiki perahu dan mulai berlayar di atas lautnya, mendayungnya pelan-pelan. Air yang keruh beriak, lalu menguak penampakkan di bawah permukaannya. Beberapa mayat-mayat kerdil dalam kondisi mengenaskan terkulai di dasar yang tidak begitu dalam.
Lelaki itu mendayung, dan perahunya mulai melaju. Inilah rahasianya. Tiada seorang pun yang boleh tahu bahwa lautan tempat ia berlayar adalah genangan keringat dan airmata yang selama ini dia kuras dari orang-orang kecil. Bahkan istrinya sekalipun tak akan dibiarkan tahu.
