Undersea Memorabilia

Prompt: Nostalgia

Torah melompat dari tepi tebing. Bersama detik yang berlalu, suhu kian terasa turun sementara tekanan semakin naik. Sensasi gerakannya samar; bila matanya dipejamkan, rasanya dia tengah bergeming dan tak bergerak sama sekali.

Padahal faktanya, dia sedang meluncur dan terus saja melungsur.

Haruskah kamu melakukan ini?” Tiba-tiba, pertanyaan ibunya terngiang di kuping.

Dia melorot, semakin ke bawah …

Kamu mau Ayah menyertaimu?” Suara ayahnya turut menggedor gendang telinga dari dalam.

Semakin jauh ia turun, menjauh dari dunia di atas dan di belakangnya.

“Aku enggak mengerti kenapa kamu mau repot-repot. Ini enggak berguna, toh semuanya sudah hilang sekarang,” kata adik perempuannya.

Torah mendongak–hanya sesaat–dan tersadar bahwa tebing tempat ia meloncat tadi sudah tidak lagi tampak di pelupuk mata.

“Iya. Tidak.” Ia melirih. “Karena memang aku harus melakukannya,” jawabnya pada udara.

Cahaya terus berubah. Dunia di sekitarnya perlahan bergeser lewat gradasi biru; dari warna biru cerah dan berkilau, ke biru hampir guram yang menekannya dari semua sisi. Jemarinya menjentikkan aqualite1-nya, dan seberkas sinar memancar dari silinder kecil yang menempel di bahu. Memperlihatkan rupa sosok di hadapan yang sebelumnya hanya berupa bayangan.

Nyaris saja Torah menjerit, sebelum teringat regulator yang ia jepit di bibir. Terhirup olehnya sedikit air laut; tak cukup membuatnya batuk, tapi lumayan membuatnya meringis karena rasa asinnya menghentak kesadaran. Sosok bersirip dan berinsang yang disorot pun sama terkejutnya, lalu dengan cepat berbalik dan memelesat pergi, beringsut ke tempat yang aman; kegelapan yang tak bisa ditembus cahaya Torah.

Jantungnya memukul-mukul rongga dada, tetapi lelaki itu harus melanjutkan apa yang telah dimulainya. Dalam keheningan lautan legam, darah yang berdesir di nadinya berdenyat-denyut di telinga bagai dentum bas sebuah klub malam.

Torah sudah cukup umur dan karenanya, ia diizinkan secara hukum buat menyingkir dari bekunya salju di rumah untuk menjejalkan dirinya ke dalam lautan yang hangat dan deras di kawasan tropis. Kota yang dulu pernah ada, tapi amblas ke bawah lautan karena hempasan bencana beberapa tahun silam. Kota yang pernah menjadi tempat hidupnya.

Orang tuanya tak kuasa menghentikannya. Mereka harus memaklumi bahwa apa yang Torah lakukan adalah buah yang jatuh dari keduanya sendiri. Di usia delapan belas tahun, ayahnya jatuh ke dalam jurang karena mematuhi luapan adrenalin masa muda.

Dan kini Torah bertanya-tanya setelah ia mewarisi luapan adrenalin ini: benarkah dia menginginkannya? Atau, apakah dulu dia hanya menginginkan ini karena dia tak bisa memilikinya?

Kini, setelah Torah punya kuasa penuh untuk terjun ke mana saja, apakah dia akan melakukan ini lagi, atau akankah cukup sekali saja? Apakah esok ketika usianya telah menanjak lebih tua dan pemikirannya jadi lebih bijaksana, ia akan mengerti mengapa ayah dan ibunya menghadangnya? Akankah perjalanan ini melucuti impian dan ambisi masa mudanya?

Beribu pertanyaan melayang di kepala, sejalan dengan gelembung yang dihembuskannya keluar paru-paru. Namun, tidak seperti gelembung-gelembung itu, pertanyaan itu terus-menerus bercokol dalam benak; mereka tidak kunjung melayang ke atas, pecah di tengah jalan, atau ditakdirkan untuk dilepaskan ke udara bebas.


Torah semakin dekat. Selama beberapa menit, matanya telah mampu menangkap siluet gedung pencakar langit dari kejauhan. Masih terlalu jauh untuk bisa menangkap setiap detilnya, tetapi setidaknya, ada kehidupan yang tidak jauh dari tempatnya kini, ditandai dengan konstruksi buatan manusia yang megah itu. Setidaknya, Torah berharap.

Didorongnya mimpi dan prasangka buruk jauh-jauh. Ia toh sudah cukup dewasa sekarang. Jika orang-orang dekatnya tahu dirinya takut, mereka bakal tersenyum puas dan dengan angkuh berkata, “Lihat? Apa kubilang!”

Di bawah kakinya kini ada genangan kegelapan. Membentang dari tubir tebing yang compang-camping di belakangnya. Torah tidak pernah takut akan air, tetapi saat ini, tiba-tiba dia merasakan thalassophobia2 yang menyelusup dengan lancang.

Selain senter selam yang diikat di bahunya, Torah juga dibekali light cannon3 yang diamankan pada ikat pinggangnya. Benda itu sedikit lebih besar dari senter selamnya dan sekilas tampak bagai sepucuk pistol. Ia melepaskannya sekarang dengan hati-hati dan menyalakannya. Seorang rekannya menyorotkan sinar aqualite kepunyaan keluar dari ujung lampu tembak, sedangkan Torah mengarahkan aliran cahaya dari cannon-nya ke bawah.

Sinar yang memancar memang tak cukup kuat untuk menerangi segala yang tertimbun di bawah sana, tetapi cukup membantu Torah melihat.

Atap rumah beserta jalanan yang dulunya merupakan taman bermain. Sekoloni ikan dengan sirip keperakan dan menyemburatkan kerlipan pelangi, berenang dalam bola-bola raksasa yang berkilau. Hiu–sebagiannya berkepala bagai bentuk palu, yang lain dengan sirip besar–berpatroli di cakrawala kota tua, mencari makanan. Kehadiran para predator membuat detak jantung Torah semakin balapan. Syukurlah, untuk saat ini, hewan-hewan itu tampaknya tak tertarik pada bau manusia.

Sesaat, Torah mendentangkan sebuah gagasan di tengah ketakjubannya. Kota tepi pantai yang dulunya ramai, rupanya masih menjadi kota metropolis yang ramai. Bedanya, sekarang ia menjadi peradaban bagi kehidupan air.

Torah menjatuhkan diri ke tepi tebing. Dunia yang tertinggal di masa lalu menjulang untuk menyambutnya, bagai lambaian tangan teman lama yang berujar, ‘Selamat datang kembali, Torah’.

Betapa ia rindu hidup di sini.


Ingin rasanya ia lepaskan diri dari lifeline4. Torah tahu hal ini dilarang dalam misi penyelaman atau penyelamatan, tapi sumpah, dia benar-benar ingin melakukannya. Torah harus melakukannya. Dia harus melihat. Dia harus menjalaninya, merasakannya, dan menghirup segala yang terbentang di depan mata; tak cuma dengan paru-parunya, tapi juga dengan hati dan seluruh inderanya.

Tatkala kakinya menghantam udara kota yang terendam air, jantungnya seolah bergema. Menggema dari inti hidupnya, lalu bersama adrenalin, memancar ke dunia di sekelilingnya.

Crak! Akhirnya, dilepaskannya lifeline dan dibiarkannya menjuntai. Benda itu berayun, menari dalam gerakan lembut. Apakah ada alarm yang meraung, di atas sana? benaknya bertanya. Apakah mereka tahu dia telah memutuskan lifeline? Pasti mereka tahu, ‘kan? Itu adalah koneksi satu-satunya antara ia dengan rekannya di atas; tali yang menuntunnya pulang serta penyedia oksigen cadangan seandainya tangkinya amblas atau rusak. Torah mengamati selang kehidupannya itu. Tiada gelembung yang mencelat dari mulutnya.

Pemuda itu mengangkat bahu. Kenapa dia mesti cemas sekarang? Itu masalah nanti, setelah dia kembali ke permukaan. Jika dia kembali ke permukaan.

Dia memutuskan untuk berjalan-jalan; mengarungi kota dalam laut tepat di depannya. Dan ia bergerak dengan gerakan lambat yang berlebihan, seperti para astronot dalam video amatir hitam-putih dari sekian milenium silam.

Sementara itu, lifeline di belakangnya melambai bagai bendera tertiup angin.


Seluruh penduduk kota telah diusir pergi, dan kini alienlah yang menjadi penghuni baru.

Lelaki itu membelah jalanan kota, mencoba beradaptasi dengan semuanya. Dia perlu setidaknya satu lustrum untuk mendokumentasikan pemandangan kota baru ini dengan benar. Ia biarkan dirinya berkelok-kelok dalam perkiraan yang samar tentang rute yang perlu dia ambil, dengan rela membiarkan dirinya berkeliaran di sana-sini, mematuhi ke mana pun insting mengarahkannya.

Bangunan–baik yang megah maupun yang sepele, telah terkikis menjadi bentuk berpucuk bulat, dengan sudut-sudut tajam yang melunak. Permukaan logamnya berkarat, terkelupas, dan dibubuki rona kecokelatan, sementara sebagian besar kacanya lenyap, entah dipecahkan oleh alam atau oleh penghuni lautan. Jalan di bawah kakinya telah retak dan terkelupas dengan paving yang bolong di sana-sini, diselimuti serdak-serdak samar. Namun, sejauh ini, hambatan kecil seperti itu tak jadi masalah baginya. Ketika dia menemukan celah di jalannya, Torah manfaatkan pengetahuannya akan ilmu fisika bawah laut dan meloncat di atas lubang. Aksi heroik yang membuatnya merasa jadi karakter dari videogame atau film aksi-fantasi.

Karang beraneka warna bersembulan di antara karang buatan yang merupakan penjelmaan dari beton dan baja. Didekatinya persimpangan jalan dengan mengandalkan memori samar-samar. Pada sisi kanannya, sebelum persimpangan, dinding kuning, merah muda, ungu dan hijau mencuat ke atas, yang tak lain adalah wujud tanaman yang dikiranya masih sepupuan dengan sukulen gurun. Mereka saling bertumpuk, tumbuh satu sama lain, tampaknya puas hidup tanpa sekat. Mereka terlihat seperti keluarga yang nyaman. Torah ingat sekian tahun silam, lokasi itu adalah sebuah bank kota, yang megah dan berbalut marmer, dengan aroma karpet yang selalu terkesan seperti baru dibersihkan.

Sementara di sebelah kirinya, berhelai tanaman tipis dengan warna hijau tosca berayun dan bergoyang tertiup gelombang angin abisal. Beberapa ekor ikan menyelusup masuk dan keluar dari labirin rumput laut, sepenuhnya mengabaikan makhluk asing berwujud manusia di tengah-tengah mereka.

Dan, di luar persimpangan, ada sebuah taman kota kecil. Mulai merasa terpaut dari dunia nyata, Torah menyeberangi jalan dan memasuki kebun yang telah diperbarui melalui gerbang yang telah lama hilang.

Pohon-pohon membusuk di bawah air. Bangkainya telah berjaya membentuk struktur dan kehidupan organik yang baru. Karang staghorn5 dengan rona oranye dan biru, terumbu karang berwarna pink salmon, dan variasi karang lain yang memantulkan aneka spektrum warna telah tumbuh di tempat yang dulunya hanya ditempati batang bidara dan akasia.

Spesies ikan yang beraneka ragam–begitu banyak sehingga Torah tak sanggup menyebutkan bahkan separuh namanya saja–berkelindan, meliuk dan melesat acak. Beberapa ekor berwarna kuning dengan garis-garis biru, yang lainnya oranye, ada yang merah muda di atas dan putih pada bagian bawah, yang lainnya berwarna biru bagai menyaru dengan perairan di sekitar.

Plankton bioluminescent6 menyala. Merah, merah muda, ungu, biru. Terjebak pada ceruk redup taman, menerangi sekeliling bagai suar kembang api. Andai saja Torah tak sedang mencengkeram regulator dengan kuat pada sela-sela giginya, mulutnya pasti akan menganga dengan decak kagum. Dipadamkannya lampu invasifnya dan menyisiri sepanjang jalan melalui taman. Membiarkan dirinya hanya dituntun oleh cahaya dari miliaran organisme melayang.

Torah melewati kota dalam keadaan linglung. Dia keluar dari sisi jalan, seperti seorang lelaki yang terbangun dari mimpi.

Namun, Torah tahu dia kian dekat. Perutnya bergejolak dan berputar. Hatinya disodoki kegembiraan sekaligus kecemasan.


Setelah lima menit, Torah akhirnya sadar akan apa yang dia temukan di sini.

Mulanya, tak ia kenali, dan ia bertanya-tanya ‘kenapa harus kayak begini?‘ Apa yang tampak di depan matanya pasti telah mengalami perubahan yang sama dengan yang dialami sisa peradaban kuno.

Rumah keluarganya–rumah lamanya–yang dahulu tak bisa dibedakan dengan rumah para tetangga karena dibangun secara identik, kini sudah tidak lagi serupa. Setiap rumah didekorasi dengan gaya yang unik; karang, tanaman, dan rumput laut dengan corak, warna, dan bentuk yang berbeda, kini bermekaran di sekelilingnya.

Jantung Torah kembali berulah. Seakan organ pemompa darahnya telah naik ke pangkal tenggorokan. Dia melangkah menuju pintu, yang secara ajaib masih utuh. Plakat beromor 3317 sudah berkarat tetapi masih bisa terbaca. Ia menyapukan jemarinya ke atas goresan angka-angkanya, menyaksikan serpih-serpih kecil karat lebur dalam air karena sentuhan kuku. Tangannya merayap ke gagangnya. Sepintas ia khawatir benda itu terkunci dan tidak bisa dibuka.

Namun, rupanya, Torah tak perlu khawatir. Bagaimanapun, air laut telah membantunya, merusak kait serta engselnya. Diputarnya pegangan, dihelanya pintu, dan seketika permukaan pintu mencelat dari bingkainya. Dia terhuyung-huyung kala benda itu ambruk ke depan dan rebah dengan tenang di dasar.

Torah harus menahan tawa–tertawa dengan regulator terpasang di mulut itu suatu kemustahilan.

Sejenak batinnya menggembung dengan pemikiran bahwa dirinya telah menjelma jadi Neil Armstrong. Ogah larut dalam anggapan konyol itu, Torah bergegas mengambil langkah lebar memasuki rumah tuanya.

Dan, dengan cepat pula, ia tersadar bahwa rumah ini sudah bukan lagi miliknya.

Di dalam sana, poros cahaya memecah kegelapan, menembaki sudut yang agak saru. Alga dan teritip menutupi dinding, sementara alang-alang laut setinggi pinggang orang dewasa tumbuh menjalar dari lantai. Torah melirik ke sekeling–ke dalam bekas ruang makan serta ruang tamu–dan langsung memutuskan untuk tak menodai ingatannya akan tempat-tempat bahagia yang pernah mewarnai masa kecilnya.

Ia menaiki undakan tangga, berhati-hati agar tidak mengusik biosfer kecil yang mekar di sana. Di sekelilingnya, ada kehidupan baru yang berkembang.

Kamar tidurnya tak lagi seperti dulu. Jendelanya hilang, dan vegetasi laut kini menginvasi. Televisi kini menyisakan kerangka yang lebur, dan kerangka lain yang berdiam di bawahnya pasti dulunya adalah konsol game-nya. Koloni crustacea telah menyulap benda itu jadi sarang. Sedang tempat tidur dan lemarinya adalah takhta tanaman merambat nan kusut berwarna ungu dan hijau, dan isinya bukan lagi helai pakaiannya, melainkan beberapa ekor belut yang beberapa detik kemudian menghilang ke dalam lubang di lantai. Torah bergidik.

Tempat persembunyian lamanya–rak-rak mainan, selimut benteng, kartun dan komik, boneka binatang, karpet lembut, lampu malam warna-warni, pemandangan jalan di bawah, di mana anak-anak lain mengendarai sepeda dan menendang sepakbola, bermain, dan tertawa– mulai terdengar samar-samar di telinga.

Dia melihat semuanya; hal-hal yang melayang lamat-lamat. Segala gema, sketsa, bayang-bayang pudar … menabraknya–semuanya, sekaligus.


Segalanya telah ditinggalkan. Pasukan pribumi yang muak pada pemerintahan negeri telah melakukan pemberontakan dan mengklaim tiga perempat dari tanah itu.

Torah hanya seorang anak kecil dari keluarga pendatang dengan usia tak lebih dari enam tahun. Dia ingat masa-masa sebelumnya, yang indah maupun yang ladah karena keduanya bersanding bagai dua sisi koin. Dia ingat peristiwa itu sendiri–pembicaraan orang dewasa yang tiada henti-hentinya, perdebatan tanpa akhir, ambivalensi awal yang berubah jadi kepanikan massal.

Ia berpegang teguh pada ingatan yang samar-samar tentang kehijauan, rerumputan, pepohonan, angin sepoi-sepoi, denting tawa kekanak-kanakan, obrolan orang dewasa yang bahagia, aroma alam tropis khatulistiwa yang memanjakannya, bunga-bunga, kulit-kulit cokelat yang keseringan dikecup matahari, keringat segar, bau rempah, aspal hangat, lumpur dan tanah, aroma tembaga dari hujan, tembang daerah yang mengingatkannya akan surga …

Telah Torah baca kenangan ini ratusan kali, ribuan kali, begitu sering sampai penglihatannya menjadi lusuh bagai foto yang keseringan disentuh. Kini, semua ingatan ini dengan bercampur aduk dengan panas dari dalam jiwa yang sembrono, sampai–bahkan di dalam lautan ini–Torah mulai merasakan air mata membakar matanya.

Dia tidak akan pernah pergi; tidak pernah. Ini dunianya, rumahnya, hidupnya. Di sinilah tempatnya, di mana ia menemui hidup, pernah bahagia, akan bahagia; di mana ia dulu tinggal, ia tinggal, dan akan tinggal. Dan, bahkan jika mereka mengirim seseorang kemari untuk membawanya kembali, dia akan berontak, karena inilah yang dirindukan jiwanya; hatinya seperti jangkar jatuh yang menimbangnya sampai ke dasar lautan. Dia merasakan tarikannya, tak berdaya untuk melawan. Dia tidak akan pernah kembali, tidak pernah.

Dan Torah tahu semua itu hanya bualan.

Alarm yang menandakan tekanan udara rendah mendengung dalam kesunyian, melepaskan hiruk-pikuk gelembung di depan matanya.

Hatinya tenggelam dengan realitas yang dingin. Sensasi itu mengingatkannya pada perasaan yang ia miliki sewaktu masih kecil.

Dia akan kembali. Dia akan kembali. Walau Torah tak takin apakah dia akan turun lagi begitu dia kembali ke permukaan. Kenangan yang menyembur ini hangat, lembut, nyaman dan menghibur. Ia merasa aman di sini, terlindungi di sini, di dalam cangkang kerang, seolah dirinya adalah mutiara. Namun, itu bukan kehidupan. Hidup adalah inversi dari itu. Kehidupan ada di atas sana, berenang bersama hiu. Hidup itu dingin, menakutkan, tetapi bersinar dan berkilauan dengan kehidupan yang dinamis, bersama teman, keluarga, musuh, orang asing, semua berkeliaran di sekitar, melintasi jalan setapak, saling bertabrakan dan bertumbukan, meninggalkan satu sama lain ….

Di bawah sini ada kenyamanan, tetapi di sini juga ada kerusakan. Segalanya telah membusuk. Torah tahu ketenangan itu akan mencekiknya. Mungkin tidak serta-merta pada awalnya, tetapi perlahan-lahan, seiring waktu, bagai rumput laut yang melilit tenggorokan burung camar. Tidak apa-apa mencelupkan kaki di sana-sini dalam kolam nostalgia, tetapi itu adalah kolam yang mati; sekelompok hal yang telah lama berlalu. Dan, bukan tempat yang dimaksudkan untuk makhluk hidup.

Kini Torah mengerti. Dia mengerti ibunya yang bertanya apakah dia sungguhan harus turun. Dia mengerti ayahnya yang bertanya apakah dia ingin ditemani. Dia mengerti adiknya, yang bijaksana melebihi usianya, yang mengatakan bahwa semua sudah hilang sekarang. Dia mengerti apa yang keluarganya di negara yang berjarak sekian jam dari sini, pikirkan. Dia mengerti.

Lifeline-nya menggantung, mengambang tanpa tujuan di tempat Torah meninggalkannya. Ketika ia menghubungkan dirinya kembali dengan jaringan kabel itu, perasaan bersalah tiba-tiba menelusup ke relung dada. Apakah mereka panik di sana? Ingin tahu di mana dia? Jangan-jangan mereka khawatir apakah dia masih hidup? Ada suara klik! dan deru menyeru ketika regulatornya mulai mengambil udara dari lifeline, alih-alih tangki yang sebagian besar isinya sudah tandas.

Direnggutnya napas dalam-dalam sebelum ia mengetuk dua kali tombol up. Kemudian, Torah merasa dirinya ditarik, dengan sangat lembut, dari lumbung yang dalam. Dia terbang. Naik. Menjulang tinggi, di atas kota yang dulu. Ya, tempat ini masih sebuah kota, penuh kehidupan dan berkembang. Namun ia adalah sebuah kota yang tidak lagi diperuntukkan bagi umat manusia.

Torah mengarahkan light cannon-nya ke mana-mana. Tak begitu jauh di bawahnya, dilihatnya tiga siluet: dua ekor paus dan libasan ekor mereka, terbang melintasi gedung pencakar langit. Jika saja dia menajamkan telinganya, sepertinya dia bisa mendengar lagu cinta nan melankolis yang melayang bersama dengan arus laut.

Cahaya di sekelilingnya berubah. Warna biru dari perairan yang melingkupinya kian intensif. Torah mematikan cannon, dan setelah ragu sesaat, dipadamkannya aqualite-nya juga. Jika orang asing dari kegelapan ingin menyambutnya sekali lagi, kali ini, Torah tak akan menghalangi mereka.

Dia mendongak, berharap bisa melihat langkan tempat dia memulai penyelamannya. Netranya belum bisa menangkap kehadiran puncak tebing, tetapi dia bisa melihat sinar mentari yang retak berhamburan melalui gelombang, jauh di atas. Di sekelilingnya menari pelangi yang berkilau gemerlap; kecantikan dari atas yang belum pernah dia saksikan sebelumnya.

Torah bangkit ke atas, dari kegelapan.


Catatan Kaki:

1. Aqualite: sejenis senter selam yang digenggam
2. Thalassophobia: rasa takut akan lautan atau perairan
3. Light Cannon: lampu sorot LED
4. Lifeline: tali pengaman fleksibel yang biasanya digunakan orang di ketinggian
5. Karang staghorn: terumbu karang bercabang banyak
6. Plankton bioluminescent: bioluminesensi (emisi cahaya) yang dihasilkan oleh plankton

Satu respons untuk “Undersea Memorabilia

Tinggalkan komentar