Cat Out of the Bag

Prompt: Secret

2229 kata

SEJAK pagi belum juga merekah dan angkasa masih terselubung gulita, Davina Leslaigh sudah merasa tubuhnya berulah. Fenomena kusutnya putaran hidup yang mewujud jadi serangan pasaran bernama meriang. Dia bukan bagian gadis-gadis di luar sana yang merengek manja di kala sakit menyerang, dan ini adalah peristiwa rutin yang dialaminya setiap bulan, namun tetap saja selalu mampu membuat kurva mood-nya anjlok hingga titik bawah. Rutinitas bulanan yang sampai kapan pun tetap saja merepotkan, sebab tubuh yang lemas dan gigi yang bergemelatuk menahan gigil, membuatnya jadi lebih sering naik pitam.

Pada bulan-bulan sebelumnya, ketika dia masih tinggal bersama William dan Oliver, kedua pria itu selalu mengira siklus ini sebagai gejala pre-menstrual syndrome. Sebagai manusia biasa yang awam akan sihir dan makhluk non-manusia, mungkin mereka tidak tahu kalau Davina adalah sesosok manusia serigala. Pada masa jelang purnama, gadis itu harus memutar otak demi mengarang alasan agar tidak bertemu muka dengan mereka, sebab salah-salah, pertemuan keluarga yang hangat bisa berbalik jadi tragedi tewasnya dua lelaki dalam amukan likantrof betina.

Meski begitu, Davina tahu, setelah lama menghuni Edentria yang dijejali beraneka makhluk fantasi, ada kecurigaan yang terbit dalam benak kedua lelaki itu. Lebih-lebih, sebulan belakangan, ia kerap memergoki Oliver memandanginya dengan tatapan menyelidik, diselipi sorot yang entah pengertian atau rasa kasihan, yang membuatnya tak nyaman.

Namun, ia tetap diam saja. Davina akan diam saja, memainkan peran tidak tahu apa-apa. Selagi Oliver dan William tak menanyakannya secara gamblang, mulutnya akan tetap terkunci rapat agar identitasnya tak terumbar. Biarkan saja mereka hidup dalam kecurigaan. Biarkan saja ketiganya hidup dalam kepura-puraan, karena Davy tidak akan menukar pengakuan identitasnya dengan risiko kehilangan keluarga.

Hari ini, pukul tiga sore, sebuah undangan makan malam tiba dari rumah Willov. Sejak resmi jadi siswi sebuah akademi berasrama, rumah dan toko alat pancing di bilangan Salvatore hanya dikunjunginya sewaktu-waktu. Ini pula yang jadi sebab informasi bahwa William kini tengah mengencani seorang wanita, terlambat mampir ke telinganya. Wanita dari bangsa yang paling dibencinya; vampir. Davina sendiri tidak menyimpan alasan pasti akan kebenciannya terhadap para penghisap darah. Mungkin saja karena dia telanjur terbawa anggapan menahun bahwa vampir adalah musuh manusia serigala, walau kenyataannya di zaman modern ini, sudah banyak yang melepaskan diri dari jerat dan sekat tersebut dengan menjalin pertemanan lintas-ras. Di akademi, bahkan ada vampir dan werewolf hidup seatap, dan mereka bersih dari kekisruhan atau malapetaka.

Mungkin, Davina memang tipe manusia serigala konservatif dan bedil. Tapi faktanya, melungsurkan rasa muak yang telah lama berkerak tidak semudah omong-kosong para motivator.

Konon, ada hal penting yang harus diumumkan William. Davina tidak mengantungi clue untuk menebak-nebak. Meski masih terbawa oleng akibat pusing, dia menjejalkan dirinya ke dalam bus menuju Salvatore, membawa sekelumit rasa penasaran, demi obsesinya pada pemecahan teka-teki. Kepada Kiji Jo, makhluk imortal dari Zydic, dia pernah menyombong kalau rasa penasarannya bisa membunuh diri sendiri.

Tamparan angin dihalaunya dengan jaket. Gemeletuk gigil ditahannya dengan mengunyah permen karet. Hingga penumpang lainnya terusik lantaran bunyi kunyahannya menggaung di dalam bus yang terjebak macet.

Rencana untuk bantu-bantu memasak pupus lantaran sosok Clarine, si vampir, berkeliaran di area dapur, berjibaku dengan William menyiapkan santapan, berbalutkan celemek cokelat tanah yang biasanya digunakan Davina, sampai si likan bersumpah dalam hati tidak akan pernah menyentuh benda itu lagi. Mendadak, benda favoritnya jadi ingin dibakarnya sampai jadi abu, seolah dengan begitu, sosok Clarine juga ikut lenyap dari peredaran.

Davina menggertakkan gigi ketika wanita pengisap darah itu tersenyum padanya. Sang likan beringsut dengan gusar. Opsi bermain game bersama Oliver yang sedang menjaga toko dirasanya jauh lebih baik ketimbang berada seruangan dengan rival.

Panggilan untuk lekas makan menyambar tak lama kemudian. Makanan telah siap. Davina dan Oliver naik selepas menutup toko. Ayam panggang, pasta, dan beberapa kaleng bir yang terhidang. Aroma daging terbakar dan bumbu-bumbu yang menguar mengundang salivanya menderas. Sayang, mengingat semua sajian itu dibuat dari tangan sesosok vampir, selera makannya musnah. Rasa-rasanya mau muntah setiap kali melihat Clarine tertawa dan tersenyum dengan polos.

‘Kalau saja tidak ada William di sana, sudah kuludahi wajahmu, Bangsat!’ maki Davina dalam benak.

Itu baru percikan apinya. Dapur nerakanya justru dimulai ketika William mengumumkan bahwa dia dan Clarine akan bertunangan. Dan, tidak tanggung-tanggung, pertunangannya akan dilaksanakan besok malam.

Besok. Malam.

Sialan. Besok malam itu purnama.

“Apa tidak terlalu cepat dan mendadak? Kenapa harus besok? Bukankah kalian perlu mengirimkan undangan dan segala macamnya?” tanya Davina, mencoba tenang, padahal di dalam tubuhnya bergolak magma yang hendak menyembur. Ingatkan Davina untuk berterima kasih pada Oda Nobunaga atas jasa menyiarkan langkah pengendalian emosi dengan mengatur napas.

“Tidak,” jawab William. “Pertunangan dilaksanakan tertutup. Hanya aku, Clarine, Oliv, kau, dan saudara Clarine saja yang akan hadir. Clarine ingin mempercepatnya. Lagipula semuanya sudah diatur oleh dia.”

Keparat. Entah sudah berapa banyak catatan dosa Davina atas lontaran makian dalam hati untuk wanita hemofagus di sisi William.

“Kau harus datang, Davy. Besok kau harus berkenalan dengan adik-adik Clarine.”

Davina ingin sekali berdecih, ‘Siapa yang mau berkenalan dengan keluarga palsu milik wanita vampire munafik ini?’ tapi kenyataannya dia hanya mampu bungkam. Mengatupkan gigi dan bibirnya rapat. Mendadak AC jadi tidak teraba eksistensinya. Dahi sang likan tetap menyembulkan titik-titik keringat halus.

Untuk menyenangkan hati orang yang sudah dianggapnya sebagai keluarga, ia anggukkan kepala, tanpa tersenyum sama sekali. Davina melanjutkan makan, dan ketika tiba-tiba matanya bertumbukkan dengan pandangan Clarine, vampire itu menaikkan alisnya seolah hendak menantangnya.


Langkah Davina terpecut kencang, menimbulkan derap yang terdengar berentetan, melontarkan partikel-partikel tanah ke udara malam. Sepasang kaki telanjang berbelok untuk membawa dirinya masuk ke dalam rerimbun hutan belantara.

Bias kemerahan lesap ditelan malam. Temaramnya angkasa diselimuti awan tipis yang pelan bergerak terbawa arus angin. Dari baliknya, beberapa titik cahaya sesekali menyembul, berkerlipan.

Kakinya masih berlari, menerjangi tanah, menikam bumi dengan kekuatan penuh, tidak peduli pada batu maupun ranting kering yang menusuk atau merobek kulit. Davina memburu waktu. Dia harus memberi jarak sejauh mungkin dari posisi para manusia dan dalam tempo secepat mungkin. Sebentar lagi penguasa malam terbit dan menaiki takhtanya di rembang angkasa.

Likantrof betina sampai di kedalaman hutan yang dipenuhi pohon berakar gantung dan berbatang lilit. Suara binatang malam menjadi penyela di antara bunyi napasnya yang saling memburu; ringkikan jangkrik, nyanyian kodok, serak burung hantu, auman anjing. Selain suara yang secara fisik mampu didengar oleh bermacam spesies, Davina bisa mendengar suara dan melihat yang lainnya. Desau dan gemerisik daun yang dilibas bayu berubah jadi bisikan, “Di sini tempatmu. Pulanglah…” Siluet pepohonan, ranting yang melambai, wujud Sequoiadendron yang menjulang bagai tarian dan lambaian sukacita seorang ibu raksasa yang menyambut anaknya. Padahal di telinga awam, Setra forest tidak lebih dari sekumpulan pohon yang dibabat kesunyian.

Bulan muncul di ufuk timur, perlahan merangkaki langit dengan gerakan anggun. Pepohonan mulai tampak lebih jelas disirami sinar keemasan dari lingkaran cahaya di angkasa yang kali ini sempurna tanpa cacat sama sekali.

Tubuh Davina bergetar. Sensasi itu; rasa sakit itu mulai muncul. Giginya bergemeletuk menahan gigil kala tulang-tulangnya bergemeretak. Mereka seakan dilepaskan dari sendi yang menjadi penghubung, lalu disatukan kembali dalam formasi berbeda. Kulitnya terasa dikelupas, dicerabut paksa, lalu digantikan oleh kulit yang baru, yang mencuat dari dalam rekahan dengan permukaan yang kasar dan penuh bulu.

Davina Leslaigh membuka mulutnya, erangan yang merobek batang tenggorok dan menyayat gendang telinga lolos dari sana. Rasa sakit yang mendera tubuh telah mencapai klimaks. Di saat seperti ini otaknya kehilangan daya berpikir, tapi dia masih sempat merasa dirinya hampir mati. Erangan yang keluar dari getaran pita suara berangsur melengking sekaligus semakin dalam dan berat, lalu menjelma lolongan yang menyayat malam. Sosok Davina telah lenyap digantikan seekor serigala berbulu coklat yang menggeram dan mengaum terus-menerus, dengan moncong terbuka dan cakar yang siap merobek siapa pun yang muncul di dekatnya.

Sayup-sayup terdengar lolongan dari kejauhan, menyahuti Davina. Serigala betina menerobos udara untuk memburu apa pun yang bisa dijadikan mangsa. Hidungnya mengendus-endusi udara; membaui segala aroma kehidupan yang beredar untuk nantinya dia bawa menuju kematian.

Baik dalam wujud manusianya atau serigala, Davina tidak menyadari kehadiran sepasang mata yang tadi mengikuti pergerakannya. Sesosok wanita berbau kayu lapuk basah dengan balutan busana hitam, yang kulitnya pucat ditempa sinar bulan. Di bibir semerah darah tersungging senyuman yang mencuatkan taring di sudut-sudutnya.

“Tik tok. Kena kau.”


Salvatore, kediaman Moreau

“Selamat atas pertunangannya, Willy.” Oliver memeluk sahabatnya dan menepuk pundak berbalut suit hitam itu beberapa kali dengan akrab.

“Terima kasih, Oliv. Kudoakan kau lekas menyusul.” William membalas pelukan sama akrab. Sinar lampu terpantulkan oleh benda logam yang melingkari jemarinya secara menyolok.

“Davy belum datang?” tanya William setelah tawanya lindap. Dia menoleh ke sekeliling. Acara pertunangannya sudah sampai di penghujung, tapi kehadiran gadis dua puluh tahun itu belum juga terendus, bahkan tiada juga tanda-tanda akan datang.

Sorot wajah Oliver beralih cemas. “Belum. Sejak pagi ponselnya tidak bisa dihubungi.”

“Aneh.” William mulai ketularan cemas. “Ke mana anak itu?”

Tepat ketika Oliver mau membuka mulut untuk menjawab pertanyaan itu, satu tangan dengan jari-jari lentik dan kuku dipoles semerah darah menempel di pundak William. Clarine muncul dari belakangnya, tersenyum manis yang dibalas oleh kedua pria. Gaun maroon dengan ornamen mengkilap yang menempel di beberapa bagian menampakkan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Surai pirangnya ia biarkan tergerai membingkai wajah, dengan gulungan ombak menyapu pundak kanan.

“Selamat atas pertunangannya, Clarine.” Oliver berbasa-basi. “Kuharap kau maklum bila William terkesan amatir dalam percintaan. Selama hidupnya dia hanya belajar soal sistem navigasi dan bagaimana mengendarai kapal.”

William mendesis. “Oh, kau dengar apa yang dikatakan oleh bujang lapuk bernama Oliver barusan?”

Derai tawa membebat udara. Suasana hangat ini tak disia-siakan Clarine. “Aku mau memperkenalkan kalian pada adikku. Dia sedikit terlambat, perjalanan dari Setra sedikit mengalami gangguan.”

Mata William melebar dengan binar kekeluargaan. “Oh, Jeanne sudah sampai?”

“Ya.” Kepala Clarine tertoleh ke belakang, dan sosok gadis yang tidak kalah cantik darinya muncul di sana. Polesan lipstik di bibirnya kian menyala oleh senyum semringah yang dilengkungkannya. Busananya hitam-hitam, sedikit kurang pantas dikenakan dalam acara seperti ini karena ia lebih terkesan mampir ke pemakaman ketimbang sebuah acara pertunangan. Bunyi ketukan samar bergema setiap kali ia melangkah, berasal dari peraduan sol boots setinggi lima inchi yang mengecupi lantai marmer.

“Hai, maafkan aku, William. Bukan harapanku untuk datang setelah acara tukar cincin dilakukan.” Dia memeluk William, lalu melemparkan dua bola mata sewarna madu ke arah Oliver. “Hai, kau pasti Oliver. William banyak bercerita tentangmu.”

“Aku penasaran apa yang digosipkan William tentang bujang lapuk ini pada calon adik iparnya.” Alis Oliver menaik sambil melirik penuh dendam pada William yang hanya mengangkat bahu.

Jeane menyemburkan tawa. “Jangan berprasangka buruk. William hanya sering memuji masakanmu enak.”

“Oh, syukurlah. Sekarang aku tahu bahwa usahaku nggak sia-sia.”

William menyela. “Hei, hei. Aku masih disini. Halo?”

Mereka kompak tertawa. Tawa yang mengundang kaki seorang lelaki yang dari tadi sibuk menyicip makanan di meja untuk ikut bergabung. “Hei, apa kalian menggosipkan aku? Aku tersinggung,” katanya dengan tampang sok serius.

Clarine menyahut. “Tidak kok, Aldrich. Kami membahas kenapa Jeane bisa sampai terlambat malam ini.”

William tersentak dalam kesadaran. “Oh iya. Kenapa kau bisa terlambat datang, Jeane? Ada kecelakaan atau apa?”

Jeane menghembuskan napas. “Akan kuceritakan, tapi bukankah sebaiknya kita duduk dulu?”

Corner sofa berwarna kelabu di ruang keluarga kediaman Moreau menjadi lokasi berkumpul. Ruang berdesain mewah dengan lampu gantung kristal sebagai penerangan. Wallpaper dindingnya berwarna kelabu dengan motif bunga higanbana terukir secara asimetris. Tampak sedikit ganjil sebab terkesan sebagai rumah yang guram, terlebih bila disandingkan dengan berkaleng-kaleng minuman yang kini hijrah ke meja, serta kehadiran lima individu yang terjejal di sana.

“Jadi?” tanya Aldrich. Mulutnya sibuk mengunyah kacang mede dari stoples yang dipangkunya dengan sayang.

Jeane yang duduk tepat di sebelahnya mulai bercerita. “Jalan yang kami lewati tersendat. Ada ambulans dan polisi setempat yang berkeliaran, katanya seorang warga sipil ditemukan meninggal di sana dalam kondisi mengenaskan.”

“Kenapa?” Clarine mengorek. “Jatuh dari tebing?”

Jeane menggeleng, tatapannya tegas dan jawabannya lugas, “Bukan. Diserang serigala.”

Rahang William sampai jatuh. “Serigala?” Separuh tak mengerti.

“Bukankah serigala biasanya menjauh dari pemukiman manusia? Mereka hidup berkelompok, bukan?” celetuk Oliver.

Desah yang dibuat-buat mencelat dari paru-paru Clarine. “Entahlah.”

“Itu sih kalau memang serigala sungguhan. Kudengar ada yang berkata bahwa serigala ini jadi-jadian,” terang Jeane. Kaleng birnya dijemput kembali, dan dengan gerakan anggun nan misterius, disesapnya pelan.

“Maksudmu werewolf?” Aldrich menunda memasukkan kacang ke dalam mulut beberapa lama.

Jeane mengangguk. “Semacam itu.” Kepalanya tertoleh pada William dan Oliver. “Kalian tahu werewolf, ‘kan?”

“Aku tahu, tapi bukankah itu hanya ada dalam cerita dongeng?” tanya William. “Film fantasi seperti Twilight?”

Clarine menyela. Tangannya mengusap lengan William. “Oh, ayolah, Willy. Kau tinggal di Edentria. Belum pernah bertemu dengan werewolf?”

William berpikir sejenak. “Kurasa belum.”

Clarine menoleh pada Oliver yang terlihat sama sekali tidak berminat pada topik ini; wajahnya mendadak masam dan kerut mencuat di kening. “Kau, Liv? Pernah bertemu werewolf?”

Oliver menyahut malas. “Kurasa, ya. Tapi bukankah sebaiknya momen ini dimanfaatkan untuk berbincang soal hal lain yang lebih baik daripada manusia serigala dan semacamnya?”

Namun, protesan adam berkukit cokelat itu tak membuahkan hasil. William terlihat menikmati topik ini, sementara ketiga keluarga Moreau terlihat tidak menaruh kepedulian setitik pun pada omongannya. Barangkali, ini isyarat agar dia kembali menggeluti posisi sebagai orang paling pasif di sini, menyaru dengan kelopak higanbana di dinding atau pura-pura tuli. Isi dari kaleng birnya menyembur ke tenggorokan dengan sekali libas.

“Malah bisa jadi, orang-orang di sekitarmu adalah manusia serigala itu sendiri.” Aldrich melanjutkan topik. Dalam nada suaranya terkandung pancingan.

“Benar. Sosok werewolf punya ciri tersendiri. Dia tidak akan terlihat dalam wujud manusia saat purnama,” timpal Jeane.

Clarine yang duduk di sebelah William menyibak tirai di balik punggungnya dan menengok ke luar. “Malam ini purnama.”

Untuk beberapa menit obrolan berhenti dalam cekaman kebisuan yang tidak nyaman. Oliver menyergah gelisah. Tiba-tiba Aldrich membuka mulutnya. “Oh, ya? Katanya kalian punya saudari perempuan. Siapa namanya? Davi? Davy? Di mana dia?”

Tinggalkan komentar