Disclaimer:
Semua karakter bukan milik hamba.
an astraff friendfiction, 2019
[Ju]
Wanita itu berada sepuluh meter di depan kakimu berpijak. Melayang, karena tidak punya bobot untuk bisa dipengaruhi gravitasi. Di wajah seburam kertas kelabu tersirat murka, demi memburu satu siswa bebal yang meminta-minta ampun, sebab rapalan mantra memaku dirinya untuk kabur dari amukan sesosok petinggi akademi.
Ini bakal jadi tontonan yang menarik gelakmu jika saja tokohnya bukan wanita itu. Wanita yang lantas menyeret paksa si dalang huru-hara; bocah bernama belakang Walter. Lalu berlalu dari hadapanmu sambil menyalak-nyalak garang.
Kepergiannya meninggalkan banyak suara. Ada tawa dan serapah siswa akademi yang menjejali taman, kesiau angin, nyanyian kodok, ringkikan jangkrik. Namun bagimu semua itu hanya menghadirkan sunyi.
Kamu menggeleng. Bukan seperti ini mestinya perasaan lelaki bekerja. Harusnya kamu bisa baik-baik saja. Semua kebaik-baiksajaanmu lungsur hanya karena pertemuan perdana setelah statusnya naik pangkat.
Wanita itu, dengan sorot matanya yang tajam dan auranya yang puguh, memerintah dan memberi aba-aba. Sementara kamu di sini, sang siswa jelata, dengan rindu yang tertambat, menatapnya lamat-lamat, tak berani bersitatap langsung dengannya.
Bahkan untuk jadi seorang pengamat saja, ia tidak kuasa.
—
[Kio]
Kamu pernah bertanya, apa bedanya takdir dengan nasib?
Lantas dia menjawab dengan keyakinan penuh: Takdir adalah mendapatkanmu. Nasib adalah kehilanganmu.
Awalnya kamu tidak mengerti dan enggan repot memaksa kepalamu untuk mengerti. Hingga perlahan namun pasti, jeda itu hadir mencipta kerenggangan yang lengang.
Kamu.
Dia.
Berdiri berhadapan, dengan hati yang tak lagi sama.
“Aku tidak memahamimu lagi, Wan.”
“Sudahlah, Yukio. Ini adalah konsekuensinya. Sekarang kamu adalah staf akademi.”
“Apakah menjadi staf itu dosa?”
Sang adam menggigit bibir. Di tengah deru rinai hujan yang mengenai payung masing-masing, di tengah dingin yang menusuk tulang, laki-laki itu menarik napas menghalau ngilu dalam rusuk.
“Aku bukan Namsoon yang bisa bebas memadu kasih bersama seorang staf. Mulai sekarang, aku tak bisa lagi sebagai seorang laki-laki kepada seorang perempuan. Tetapi seorang siswa kepada pengajar.”
Kamu memandang lawan bicara dengan tampang nanar.
“Juan.”
“Saya permisi, WKA-sensei.”
Sebuah bungkukan hormat dihadiahkan kepadamu. Kemudian dia berlalu, menyisakan sejumput kenangan dan segenggam kepedihan.
Di sana, tinggal kamu dan payungmu. Beserta rinai hujan yang membekukan hatimu.
Saat itu juga kamu tahu. Baginya, takdir adalah buah perjuangan. Namun, nasib adalah apa yang harus kauterima tanpa perlu melawan.
Untung saja kamu tidak beraga. Jika saja kamu masih manusia, mungkin kamu tidak mengerti mana yang lebih ngilu: gemeletuk gigi menahan gigil, atau selamat tinggal karena hati yang ganjil.
—
[Ju]
Jemarimu menyentuh pigura kaca mungil di atas nakas. Foto di dalamnya tak mungkin luput membuatmu kehilangan senyum. Dulunya. Bagaimana hantu, demigod, dan manusia, bisa berpose begitu akrab dalam satu bingkai kesempatan. Dua pria berwujud, mengapit satu wanita tanpa raga. Dua pria dengan senyum lebar menyertai satu wanita tanpa eksprsi.
Kini, yang tersisa hanya ampasnya. Rasa pahitnya. Bukannya kebas, rasa itu malah makin dalam menebas.
Terkadang kamu rindu pada masa lalu. Masa di mana semua orang belum dihempas badai bernama perubahan. Di mana wanita itu masih jadi siswa baru, sama sepertimu. Sayang, waktu berjalan selalu linier. Ia tidak pernah berulang dan tak bisa diulang.
Semua orang pun pergi dengan perubahan.
Penerimaan siswa akademi berlangsung setiap pergantian musim. Orang-orang silih berganti, datang dan pergi, menyambangi lalu permisi.
Tiada yang akan peduli pada satu entitas yang hilang kabar.
Tidak ada yang akan peduli pada pemergianmu di malam yang sunyi.
Tidak ada; apalagi bagi sewujud staf akademi yang punya segudang urusan untuk diurusi.
Kamu melangkah menembusi malam, di kala semua penghuni sedang lelap di bawah nyanyian jangkrik. Meninggalkan semua yang sudah meninggalkanmu di belakang. Menghampiri antah-berantah yang bisa membuatmu lupa akan hantu janda yang pernah menghuni wisma para asosial.
