INK in Action

Disclaimer:

Semua karakter kecuali Illama Han bukanlah milik hamba.

an AstraFF Friendfiction, 2019


Lampu menyala tiba-tiba. Sinar putihnya menyulap ruangan yang semula gulita jadi benderang, serta mengoyak nyenyak yang semula bertandang.

Kelopak mata Illama berkedut sejenak, lalu terkuak. Kernyitan samar terukir pada jembatan antara kedua matanya ketika semburan cahaya asing itu menembusi retina. Beberapa detik berlalu dengan usaha memusatkan fokus pada hal-hal di hadapannya.

Informasi membanjiri keseluruhan indera. Angkasa putih. Bumi putih. Sekeliling putih. Di mana ini? Sedang apa ia di sini?

Butuh waktu cukup lama untuk menemukan konklusi bahwa dirinya terjejal ke dalam sebuah ruangan putih-bersih berukuran tiga kali tiga meter nan asing. Bukan angkasa, tapi langit-langit. Bukannya bumi, tapi lantai marmer. Napasnya sesak, udara terasa pengap. Seakan kandungan oksigen di dalam sana sudah ludes terhimpit karbon dioksida yang memenuhi ruangan.

Tunggu ….Apakah dirinya sendirian di sini? Apakah dirinya dikurung?

“Uh …”

Sebuah lenguhan yang familier menghela kepalanya untuk berputar ke sisi kanan. Kerut-kerut di wajah semakin dalam selagi otaknya berupaya mencerna situasi ….

Tim guild-nya sudah tak aktif lagi. Namun, bagaimana bisa ia terlesak di sini bersama sang saintis bertudung dari Mart dan si superwoman Lee?

Apa pun yang terjadi, ini tidak mungkin dalam rangka menunaikan misi guild, ‘kan?

“Lho? Illama? Nidia?” Si Portaler, Lee Kangjoo yang tampak tak kurang bingung darinya bersuara seusai memandang berkeliling. “Kita …, di mana ini? Apa yang terjadi?”

“Saya juga enggak tahu, Mbak Kangju,” jawab Illama perlahan, berusaha menahan lidahnya agar tidak menelurkan pertanyaan konyol seperti ‘Apa yang kalian–kita lakukan di sini?’ Kebingungan yang terpancar dari ekspresi Kangjoo pasti pertanda ia juga tidak kalah buta. Gadis Blossom berpaling pada Nidia Amalia yang bersandar pada dinding putih, “Nid?”

Yang dipanggil mengangkat bahu; gestur nonverbal bahwa ia pun sama tidak tahu. “Aku cuma tahu bahwa kita bertiga terisolir dari dunia luar.” Jemarinya mengetuk dinding di balik punggungnya. “Dinding ini dari baja. Lalu, lihat itu,” Telunjuknya teracung pada sisi dinding putih yang menaungi mereka, “Itu,” beralih pada langit-langit putih yang rata dengan hanya dua buah lampu berdaya besar yang dipasang downlight di atas kepala mereka, “Sama sekali tidak ada pintu atau jendela, atau ventilasi udara, atau lubang apa pun.”

Lee Kangjoo tercekat. Mendadak ia yang tak punya ketakutan apa pun jadi terjangkit klaustrofobia. “Ugh …, aku sesak napas. Kita bisa mati kehabisan oksigen di sini.”

Illama menenggak ludah demi membasahi kerongkongan yang terasa kering, sembari ingatannya berusaha memutar kembali adegan apa saja yang bisa dihelanya.

Bagaimana mereka bertiga bisa terkurung di sini? Apakah ada sesuatu yang terjadi sebelum ia tak sadarkan diri?

Sayangnya, nihil. Kosong-melompong. Tiada seberkas pun ingatan yang bersangkut-paut dengan latar belakang keberadaan mereka di sini.

“Apa ini?” Suara Lee Kangjoo kembali menarik atensi di tengah keheningan yang gersang. “Oh, ada kertas.” Ia memungut secarik kertas di lantai, yang nyaris saja terinjak olehnya. Warna yang sama putih membaurkan benda lampai itu dari perhatian tadinya. Kedua rekannya langsung merubungi persis semut mengerubuti remah roti.

“A-apa ini? Ini ….?”

“Hm.” Illama menggumam. Iris jelaganya memindai lekat-lekat deretan kata yang tercetak di sana. “Sepertinya ada yang mau mengajak kita bermain teka-teki. Kita harus memecahkannya untuk bisa keluar dari kotak aneh ini.”

“Dan dengan kata lain,” sambar Nidia, “kita hanya punya dua pilihan. Selesaikan ini sesegera mungkin, atau kita bertiga mati konyol di sini karena kehabisan oksigen.”

Gelegar tawa terdengar tiba-tiba, entah dari mana datangnya. Ia seolah bersumber dari piranti stereo yang ditanam dalam dinding-dinding kukuh. Ketiga anak manusia dalam kubus misterius terlonjak.

Dengking yang menggaung menyusul bagai suara mikrofon yang didekatkan pada sumber gelombang tinggi. Lalu, tawa tadi berganti jadi sebuah ultimatum.

“Bila kalian memang anak-anak dari akademi Runako vampir genit itu, kalian semestinya bisa menyelesaikan teka-teki ini secepat mungkin. Atau …, mungkin kalian betah berada di sini sampai akhir hayat? Hahahaha ….! Kalian hanya kuberi waktu lima kali enam puluh detik. Lekas selesaikan, atau kalian akan jadi santapan ruang pemangsa ini. Hahahaha …!”

Tawa itu lindap di udara, pelan-pelan, begitu halus bagai volume stereo yang diminimkan perlahan sampai habis sama sekali. Menyisakan ruang yang lengang dengan desah napas ketiga anak manusia yang saling berpandangan bimbang.

Bagi ketiganya, ini hal yang aneh. Marple’s INK yang menyatukan mereka sudah lama dibubarkan pasca Nidia Amalia undur diri. Ini menyimpulkan bahwa kehadiran mereka di sini bukan dalam rangka penuntasan misi Guild.

Lantas, apa?

Terdengar suara yang kembali memecah hening, kali ini seperti bunyi mesin yang berderit. Dari sisi dinding tepat di hadapan mereka, sebuah papan digital dengan warna silver yang mengilap ditempa sinar lampu, mencuat sekonyong-konyong. Di sudut kiri bawahnya tersemat sesuatu seperti sebatang pena mekanik.

Kangjoo meringis. Nidia berdecak. Illama mengembuskan napas.

“Ini merepotkan,” gumam ketiganya berbarengan.

Pada bagian atas papan silver, sebuah panel mungil menyala. Terpampang penghitung mundur digital yang dimulai dari deret angka 00:05:00.

“Ingat, waktu kalian hanya lima kali enam puluh detik. Selanjutnya, selamat tinggal!” Suara misterius itu kembali membahana. Disusul bunyi lengking bagai ringkik kuda yang membelah rungu, dan kali ini memaksa ketiganya menyumpal kuping dengan jemari.

“Sial, aku bisa tuli kalau begini.” Lee Kangjoo meniup tangan dan menempelkannya ke corong telinga.

Illama menggumam, “Penghitung waktunya berjalan.”

Benar saja. Angka yang tertera di panel terus mundur perlahan-lahan. Selama beberapa detik, ketiga gadis itu termangu sambil membisu.

Sebelum akhirnya kebisuan itu dipecahkan oleh Nidia, “Ayo, selesaikan.”

Tiga pasang mata meneliti carik kertas di tangan gadis dari asrama rusa merah. Sebuah teka-teki tercetak di dalamnya dengan potongan huruf seperti kolase; digunting dari banyak sumber dan disusun menjadi dua kalimat berbunyi:

Di atasmu; surya mulai gencar. Ialah sebuah bilangan masa kala Ra diapit sang banteng dan si kembar.

“Apa ini?” Kangjoo bergidik, berang bercampur jijik. Seumur-umur jadi anggota persekutuan trio Marple, ia paling anti teka-teki dan membiarkannya jadi urusan Nidia atau Illama. Lantas, usai mereka telah terlepas dari guild dan segala tetek-bengek per-guild-an, haruskah ia dihadapkan lagi dengan kemuakannya? “Aku benci ini. Ck. Hei, Nidia, kau kan jago berdiksi. Setidaknya kau bisa selesaikan ini sesegera mungkin. Illama, kau juga suka teka-teki. Ayo, cepatlaaah,” desaknya.

“Diamlah,” desis Nidia. Ia tampak berpikir keras. Gurat-gurat wajah dalam bingkai kerudung hitam yang biasanya nirekspresi kini mendadak pucat. Entah karena cemas, atau karena setengah mati bernapas.

Tampang Illama di sisinya tak kalah berliput pias. Kalau dirinya, memang karena betulan cemas.

“Hei–”

“APA?!”

Lee Kangjoo tercekat. Baru sepatah kata tersumbar, sudah langsung disambar kedua temannya–yang terkenal kalem–dengan histeria berlebihan. Ia meringis, keki bercampur malu.

“Eh, aku berpikir, apakah kita tidak bisa mendobrak dindingnya saja?”

Illama dan Nidia menghela napas yang semakin sesak.

“Itu tidak mungkin, Mbak Kangju.” Gadis berhijab dari Blossom tersenyum tipis. “Seperti kata Nidia tadi, dindingnya dari baja. Kita tak punya pilihan lain.”

“Waktunya tinggal empat menit dua detik.” Nidia memandangi panel waktu yang terus berhitung mundur.

Tidak bisa seperti ini. Memeras otak di kala engkau terkurung dengan kapasitas oksigen yang semakin lama semakin, berkurang tiada beda dengan mengukus diri di dalam sebuah rumah kaca. Gerah. Panas. Otak mendidih. Yang kaurogoh hanya kesia-siaan karena otakmu kadung meleleh dan tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

Illama berusaha menekan rasa gerah itu sedalam mungkin. “Sebaiknya kita duduk saja, ayo, Nid, Mbak Kangju,” ajaknya.

Memang lebih baik duduk ketimbang berdiri. Setidaknya cuma napas dan otak saja yang dipetal, kaki mereka tak ikutan pegal-pegal.

Ketiganya duduk bersila di lantai pualam yang dingin. Lumayan, rasa dinginnya menjalar sampai ke otak hingga bisa menekan sedikit emosi. Kertas teka-teki dihamparkan di tengah-tengah agar bisa leluasa dipelototi.

“Bagaimana bila kita membedahnya perkata? Siapa tahu bisa lebih membuka jalan pikiran kita.” Kesatria wanita Portal memberi usul. Ia merogoh saku seragamnya demi sebuah ponsel, sampai berdecak pelan. “Huh, sudah kuduga tidak ada sinyalnya. Sialan, tempat apa sih ini?”

“Di atasmu, surya mulai gencar? Apakah maksudnya siang hari?” gumam Illama.

“Bisa. Kalau begitu kita simpan sebentar. Mari menuju ke kalimat kedua.” Nidia mengusap dagu di sela napas yang kian merengap. “Banteng dan si kembar itu menurutku seperti menyiratkan gugusan bintang. Kalian tahu rasi bintang gemini dan taurus, kan? Simbolnya itu.”

“Oh, bisa, Nid.” Kangjoo menjentikkan jari selepas melesakkan kembali ponsel yang tak berguna di saat genting, ke dalam sakunya. “Lalu, Ra? Apa maksudnya Dewa Ra yang melambangkan matahari?”

“Kalau Ra berarti matahari, berarti nyambung dengan siang hari. Tapi berikutnya kok jadi enggak berkorelasi dengan Taurus dan Gemini?” Illama berpikir ulang.

“Oh!” Mendadak, timbul ide di kepala Nidia. “Atau jangan-jangan, ini tentang astronomi? Posisi bintang ketika matahari diapit oleh rasi gemini dan taurus?”

“Tapi …, apa? Nid? Kita kan, nggak bisa googling. Nggak paham juga,” desah Lee Kangjoo. Berbeda dengan rekannya, ia malah kehilangan semangat. Gadis itu tahu diri kapasitas dirinya yang sangat jauh dengan istilah sains.

Menimpali ungkapan Lee Kangjoo, lengan Illama terulur ke pundak gadis Portal sembari mengelus, mentransfer semangat, dan berujar, “Kita sudah sejauh ini, Mbak Kangjoo. Atau jangan-jangan, ini nggak ada hubungannya dengan siang hari? Di atasmu itu mungkin maksudnya utara? Dalam peta, arah utara selalu digambarkan di atas, kan?”

“Waktunya tinggal tiga setengah menit lagi …,” Nidia mengultimatum. “Mungkin ini maksudnya …, titik balik matahari di bagian utara bumi. Tapi apa jawabannya tidak kepanjangan, ya?” Di masa sekarang, wajah Nidia yang selama ini mulus bagai porselen malah dihinggapi kerut-kerut akibat berpikir keras. “Ketika titik balik utara tiba, itu artinya permulaan musim panas di belahan bumi utara, setahuku. Lalu, apa hubungannya dengan Taurus dan Gemini? Aku lupa-lupa ingat istilahnya. Summer …”

“Summer Lincoln?” Lee Kangjoo menyahut seperti orang bodoh. “Anak Mart, hahahahaha!”

Nidia melemparkan tatapan apa-kau-mau-mati yang sukses membuat Lee Kangjoo bungkam. Ia yang sudah terinduksi semangat, jadi cengengesan. “Ya, intermezzo sebentar, dong. Aku bisa cepat tua lama-lama, huh. Eh, maaf, deh. Ayo, lanjutkan, Summer …?”

“Summer Soltice, bukan? Aku pernah membacanya dulu. Kalau tidak salah, Summer Soltice berlangsung di akhir tahun, bukan? 21 Desember?” terka Illama usai meredakan rasa geli.

“21 Desember? Bukannya itu winter? Kau tahu, Korea masuk ke bagian belahan bumi utara. Desember berarti Natal, dan Natal berarti salju. Mana ada summer-summernya? Duh …” Lee Kangjoo berdecak.

“Oh, maaf. Apa pun waktunya, coba masukkan ‘Summer Soltice’ di papan itu,” ujar Illama sembari nyengir.

“Siapa?” tanya Kangjoo. Namun, melihat Illama dan Nidia yang sama sekali tak menampakkan gelagat untuk bangkit dan malah menatapnya dengan pandangan penuh harap, ia pun menyerah. “Haish, baiklah, akan kulakukan. Tapi kalau salah, jangan salahkan aku. Kau tahu kan, aku ini sering typo.”

Gadis Portal berambut cepak meraih pena mekanik, lalu tanpa ragu menuliskan kata ‘Summer Soltice’ di papan.

Ketiganya menahan napas.

Tiada pergerakan apa pun. Selang dua detik kemudian, sebuah suara muncul. “Kesempatan tinggal satu kali lagi.”

Lee Kangjoo gemetaran. “A-apa yang tadi salah? Atau aku typo?”

“Sepertinya memang belum tepat,” timpal Nidia.

“Aneh, saya kira itu sudah tepat.” Kali ini, Illama tak sanggup tersenyum lagi. Ia kembali memelototi lembar kertas teka-teki lekat-lekat, berharap mendapat wangsit, ilham atau sejenisnya.

“La-lalu bagaimana? Ta-tanganku tidak bisa le-lepas dari pena ini!”

Kedua pasang mata milik gadis-gadis berkerudung serempak menjarah sosok Lee Kangjoo yang berdiri gemetar di depan papan dengan wajah pucat pasi dan mata berair. Tampang kedua rekannya pun tak kalah pucatnya, terlebih ketika menangkap pena mekanik itu kini tertanam di telapak tangan gadis tomboy, seolah benda itu tumbuh di dalam dagingnya.

“Oh.”

“Ya Rabb.”

Nidia dan Illama saling berpandangan.

“KUMOHON CEPATLAAAH! AKU TIDAK MAU MATI KONYOL DI SINI DAN MAYATKU KELAK DITEMUKAN DENGAN BATANG PENA TERLEKAT DI DALAM DAGING! TIDAK!” Lee Kangjoo meledak.

Namun, kedua rekannya hanya terdiam dengan atensi mengarah penuh pada panel waktu.

Tinggal satu menit.

“Satu menit. Sudahlah.” Nidia Amalia bergumam. Kaki yang semula bersila kini ia selonjorkan, dan punggungnya ia sandarkan pada dinding. Matanya tertutup. Bibirnya menggumamkan lagu dengan lirih.

“Aku juga pasrah.” Illama tersenyum damai. Mimpinya adalah bisa mati sambil berjuang dengan wajah terukir senyum, dan ia berharap, hari ini ia bisa mati dalam kondisi demikian.

Lee Kangjoo makin pucat, syok, tidak menyangka teman-temannya yang tadi menyemangatinya kini malah jadi kehilangan minat berjuang. Gemetar tangan dan tubuhnya kian hebat. Keringat dingin mengucur deras dari setiap penjuru pori-pori tubuhnya. Dari pelipis, dari ketiak, dari punggung …

Uh, tidak-tidak-tidak. Tidak bisa begini.

Sambil menahan tremor di tangannya, ia menggoreskan mata runcing pena mekanik ke permukaan papan digital.

Napasnya tertahan. Setidaknya, ia masih berusaha beberapa detik sebelum mati.

Hening menyambut.

Seolah waktu berhenti.

Lengkingan suara yang lebih menyayat daripada semula menyambar isi kubus putih berpenghuni tiga anak manusia, menukik ke dalam gendang-gendang telinga. Disusul cahaya putih yang menyilaukan retina.

Pada detik berikutnya, ketiga gadis berbeda asrama menerima guncangan gempa dahsyat yang membombardir petak mungil mereka.


“Tadi malam aku mimpi aneh.” Nidia membuka suara. Tangannya mengaduk-aduk Indomie-nya dengan tempo lambat.

Lee Kangjoo terperangah. “Masa? Aku juga! Aku bermimpi kita terlibat dalam sebuah kasus dan dikurung!”

“Apa? Kalian …?” Illama kehilangan kata-kata. “Saya juga, lho.”

“Wah, kebetulan?” Nidia nyengir.

Illama memilih untuk tidak berkomentar lagi, menyesap teh hijaunya pelan-pelan. Kepalanya masih terputar-putar setiap kali memutar adegan mimpi semalam, di mana ia dan kedua rekannya diguncangkan persis kelereng di dalam boks mainan.

Namun, Lee Kangjoo sudah keburu memekik, membuat seisi Indigo Cafe terlonjak.

“I-ini … a-apa?” tanyanya dengan nada dan tampang horor. Tangan yang tadi ia lesakkan ke dalam tas demi sebuah ponsel, tiba-tiba ia acungkan. Yang membuat kaget, adalah benda yang digenggamnya.

Bukan ponsel. Tapi pena mekanik itu.

“Itu …, enggak lengket? E-enggak nyatu?” tanya Illama hati-hati. Masih teringat adegan semalam ketika pena itu menyatu dengan daging rekannya. Dan ketika ingatannya berlabuh pada ending mimpinya, perutnya bergejolak. Mual.

“Tidak. Lihat.” Penuh kehati-hatian, Lee Kangjoo meletakkan pena mekanik itu ke atas meja. Seolah benda itu adalah pusaka negara atau hasil arkeologi yang didapat dari upaya penggalian bertahun-tahun.

Kedua entitas berkerudung mengembuskan napas lega.

“Omong-omong, aku penasaran, Kakang. Apa yang kau tulis di detik terakhir itu?” tanya Nidia sambil meneliti pena di atas meja lekat-lekat.

“Yah, aku hanya menulis tanggal yang berjarak enam bulan dari tanggal 21 Desember. Kutulis ’21 Juni’. Soalnya, Gemini dan Taurus kan, zodiak untuk mereka yang lahir di bulan pertengahan,” jawab sang gadis Portal, kalem.

Tinggalkan komentar