Bloody Rose

Bagaimanapun juga, ini adalah kisah cinta yang tragis, bagi sosok tuan yang nyawanya tersurai dalam tangkup lenganmu. Darah masih hangat di atas kulitnya, kelembutan di antara jemarinya, menyerasikan warna yang begitu indah, seperti tuangan anggur murbei pada cawan pualam sewarna susu. Mudah saja melihat ketiadaan pada alpanya denyut yang melalui nadi lelaki itu, serta kulit yang beralih pucat dengan semburat kelabu pekat.

Semua itu tak lantas melungsurkan perasaanmu. Dengan kelembutan yang khidmat, kau merunduk, mendaratkan kecupan ke pipi yang dingin, tak peduli pada sisa noda merah darah yang menempel pada wajah sendiri.

Itu adalah peristiwa setelahnya. Akhir dari kisah cinta yang luar biasa manis sekaligus menyakitkan.

Sebelumnya, adalah masa di kala cinta mekar dan berkembang bagai mawar yang menakjubkan tanpa mengacuhkan duri yang mencuat dari tangkainya. Seiring berjalannya waktu, semua kelopaknya yang indah layu dan luruh. Menyisakan cucuk tajam di bawah sana sebagai sisi kejam yang tersisa dari keindahan yang sudah berlalu. Ketika kau baringkan sang tuan di atas bentangan kain sutra dan menyelinap keluar dari jendela yang terbuka dengan tirai sewarna salju berkebit tertiup angin, kau lemparkan ingatanmu kembali pada masa ketika sosok yang kaucintai adalah seorang tuan perkasa.

Kau melihatnya untuk pertama kali di bawah naungan bunga sakura lewat tengah malam, di kala pendar bulan merampas kelopak merah muda nan lembut dan mengubahnya menjadi perak berkilauan. Lelaki itu berbaring di rumput, sebotol sampanye mahal terselip di bawah lengannya.

Saat itu juga, kau terpesona. Cahaya bintang menyentuh pipinya dengan kilau anggun, sementara bayang-bayang terbenam ke dalam matanya. Untuk waktu yang lama, kau berdiri di trotoar, menonton, mengagumi, menuliskan detail-detail peristiwa ke dalam ingatan, yang masih menyisakan warna-warna pastel setiap kali kaukenang kembali.

Kau menunggu sampai kelopak matanya yang lelah jatuh memejam, untuk mendekatinya. Dari jarak yang lebih dekat, ia pun tampak lebih cemerlang. Lebih cantik dibandingkan siapa pun yang pernah kaulihat; daripada bunga-bunga halus di atas sana, juga sungai yang berkelok-kelok di tepi lereng. Mungkin sang tuan adalah seorang malaikat, yang jatuh atau cuma mengambil cuti sementara dari surga. Pemikiran yang kemudian kautepis, sebab kau tahu tidak ada malaikat yang akan membiarkan makhluk sepertimu mendekat.

Kau berjongkok di sampingnya, menyapu beberapa helai bulu matanya yang gelap dan tipis. Bagian bibirnya mulus bagai pualam merah muda yang digosok sampai mengkilap benar. Kulitnya begitu putih dengan semburat merah pada sisi yang tepat, sekan meyaru dengan helai sakura yang jatuh pelan-pelan.

Segala ilusi hiperbolis itu hilang ketika kelopak mata yang terpejam kemudian bergerak dan terkuak, lalu ekspresi wajah yang semula begitu tenang, berubah memancarkan rasa panik.

Mulanya, dia tegang di bawah sentuhanmu. Kemudian secara defensif menepis dan menyingkir, bergegas sampai hampir saja tergelincir di tepian sungai. Kau mengulas senyum lembut dan berdiri, menyapu kedua atensi ke atas dan ke bawah tubuhnya. Sementara dia menatap dengan jijik. Ketakutan terpancar dalam bola mata sewarna karamel.

Usai pertemuan perdana malam itu, kau bisa dengan mudah menemukannya. Sang tuan kembali ke pohon sakura setiap gelap bertandang, setelah matahari memberi jalan bagi malam untuk berganti giliran jaga.

Lelaki itu terbangun dengan kepala di pangkuanmu selagi jemarimu menyisiri helai-helai rambutnya. Adegan serupa terulang kembali begitu dia terjaga, kali ini bonus sebuah tamparan yang mendarat di pipimu. Sembari mendengus kencang, sang tuan bergegas pergi, mengumpat dan menghina dengan cukup pelan sehingga dia pikir semua itu tidak kaudengar.

Padahal, kau bisa mendengarnya dengan jelas. Dan kau pun menyadari bahwa, segala umpatan juga hinaan yang terlontar, sama panas dan tajamnya dengan bekas tangan yang mulai memerah.

Namun, tetap saja, walau matamu berkabut, kau hanya tersenyum, dengan jantung yang tetap berkibar di dada. Tuan itu tidak mengerti, itu saja pikirmu. Begitu dia melihat cintamu dan merasakannya, dia akan datang. Dia akan menawarkan segalanya bagimu, pada waktunya.

Lelaki itu memang tak lagi kembali ke taman. Dia tidak pernah lagi tidur di bawah pohon sakura. Tapi tetap saja, bagimu, dia tidak sulit dilacak. Kau bisa mengikuti aromanya yang unik bermuara ke apartemennya. Di luar jendelanya, dengan angin mengebitkan rambut dan menderu di telingamu, kau bisa mengawasinya. Dan bahkan tanpa pancaran cahaya bintang pada wajahnya, sang tuan masih tetap saja menawan.

Malam demi malam, kau menaiki tangga yang reyot, dengan jantung berdebar oleh antisipasi, sampai mencapai jendela itu untuk melihatnya.

Malam itu adalah malam yang nyaman; malam ketika sebelumnya belum menjadi setelahnya. Angin sepoi-sepoi bertiup dengan lembut dan menenangkan. Dalam benak kau mulai bertanya, ‘Itukah sebabnya dia membiarkan jendelanya terbuka malam itu?‘ Entah karena cuaca musim semi ataukah kemauan pribadi sang tuan, kau tetap mensyukurinya. Merangkak melalui jendela jauh lebih mudah daripada alternatif lain yang mulai kau pertimbangkan.

Lelaki itu tidak terjaga waktu kau melangkah masuk, bahkan sampai ketika kau diam-diam merapat ke sisi ranjang. Untuk sesaat, kau berdiri bungkam dan mengagumi lagi, sebagaimana yang kaulakukan pada malam pertama kalian berjumpa.

Dan seketika, sesuatu mengaduk di dalam perutmu.

Itu adalah rasa lapar yang sudah cukup kaukenali selama bertahun-tahun dalam hidup.

Dengan penuh kehati-hatian, kau merangkak ke tempat tidur, menopang diri dengan lutut menghujam kedua sisi pinggulnya. Kau membungkuk, hingga rambutmu terbentang sepanjang bayangan kalian di sekitaran bantal, memagari wajahmu dan wajahnya. Antisipasi yang semula menghimpit, kini lepas sudah, membuatmu bersemangat dan kian berani.

Kau membuka bibir, menyapu lidahmu pada deret geligi yang memagari. Kemudian, kau merunduk. Menghidu, menikmati aroma yang kau rindu dan membuat salivamu bergejolak selama sekian waktu. Pada kulit putih mulus, kau tekan taringmu, tepat pada tenggorokannya, tempat yang berada sekian inci di atas jantungnya yang berdenyut.

Ada semburan hangat dari kulit yang terkoyak, mengucur dari pembuluh darah, mengaliri lidahmu. Sebagian yang tak sanggup kautampung, turun membasahi dadanya, hingga yang bisa kau lihat hanyalah merah.

Sang tuan tidak lagi bergerak, tak pernah lagi bergerak, namun cairan merah nan anyir terus mengalir. Dengan rakus, kau menyedot, menyeruput aliran nikmat dari pembuluh darahnya, menguras kehidupan dari tubuhnya, diwarnai panas yang tumpah ke tenggorokanmu dan bau logam yang sangat kaucinta.

Cairan itu meluap dari mulutmu yang terus mendecap, mengalir dan jatuh ke pada permukaan ranjang. Ketika segalanya melambat dari lonjakan ke titik sadarmu, kaujilati tetesan yang tersisa pada lehernya, mengisap merah tua pada permukaan kulitnya yang mulai memucat. Dan, ketika pada akhirnya sang tuan tak punya apa-apa lagi untuk diberikan, kau duduk tegak, dengan kepuasan merebak.

Itulah yang tersisa di benakmu ketika pikiranmu kembali menoleh ke belakang. Gerimis serta badai yang memikat. Sungguh cinta yang luar biasa, menyertakan kelopak dan duri dalam sekali hinggap.

3 respons untuk ‘Bloody Rose

Tinggalkan komentar