Kabut Merah Muda

Prompt: Virus

437 kata

Kebanyakan cerita dimulai ketika pagi. Seolah kehidupan baru terembus usai terbangkitnya mentari. Hari yang baru menawarkan kejadian yang berbeda, menyuguhkan jiwa-jiwa yang berbeda, warna yang berbeda.

Tetapi tidak bagimu. Segalanya tampak sama setiap hari. Kau menjalani pengulangan demi pengulangan, bertemu orang yang sama, obrolan monoton yang membosankan, dengan kabut kelabu statis yang menggelantung di atmosfermu. Dan kau nyaman dengan gulungan kabut itu.

Tidak sekalipun kau berpikir kenyamananmu bakal lungsur. Pun pagi itu, kala matamu mengerjap. Seberkas sinar, beserta kehangatan yang dipancarkannya, menyapu pandanganmu dan mencukilmu dari lelap. Bersama mulut yang masih sibuk mengepulkan kuap, kau beringsut menegak, demi mendapati fakta bahwa semalam kau tidur dalam kondisi jendela yang terkuak.

Tulang-tulang berkemeretak oleh gerak perenggangan. Sekali loncatan melontarkanmu ke sisi jendela, tempat di mana tirai kelabu berkebit tertiup angin pagi. Teringat bahwa kau hanya punya sisa waktu kurang dari sejam demi berkemas, kau bergegas.

Telah terbentuk dalam kepalamu sederet rencana. Kau akan berangkat kerja naik trem dan tiba pukul delapan. Melesakkan diri dalam sebuah ruangan dengan derit mesin-mesin dan pendingin ruangan. Kemudian pergi makan siang sendirian di kantin sebelum lanjut bekerja sampai mentari permisi.

Namun, hari itu, kau akan tahu betapa sia-sianya rencana.

Segalanya bermula dari dialog yang tidak biasanya,

“Tom, makan siang di mana kau? Tolong antarkan kotak ini ke alamat ini.”

“Ya?”

“Perutku mulas gara-gara makan rujak semalam. Aku takut kecepirit di tengah jalan. Tolong, ya. Win yang biasanya mengantar absen karena influenza.”

“Tapi—” Terlambat. Pemberi titah sudah kadung ditelan pintu kamar mandi yang mengatup. Meninggalkanmu dengan kebimbangan dan kebingungan.

Seharusnya tidak begini.

Seolah tahu bahwa kau masih bengong, sebuah pesan datang ke ponselmu.

Sekarang, Tom.

Maka, kau ikuti jalur yang berbelok dari kisah semestinya. Kotak di tangan menjadi pusat atensimu selagi kendaraan tumpangan merayapi jalan ibukota. Benda asing yang membawa kejadian asing bagimu. Benda asing yang mengantarmu pada situasi asing. Isinya pun pasti sama asingnya. Dan benda itu harus kauantarkan ke sebuah rumah asing di lokasi asing.

Seorang perempuan, yang juga asing, membukakan pintu ketika kau mengetuk.

“Halo, cari siapa?”

“Saya disuruh mengantar—”

“Oh! Rujakku!” Mata perempuan itu berbinar. “Itu rujakku! Disuruh Pat, ya? Aku adik Pat. Kau pasti teman Pat. Terima kasih sudah mengantarkannya.”

Tanpa menanti sodoran, ia merebut apa yang ada di tanganmu begitu saja.

“Kau mau pergi? Sudah makan siang? Kalau belum, ayo! Kalau sudah, makan lagi saja. Aku masak banyak, dan Pat tidak akan hadir karena sedang mencret. Omong-omong, siapa namamu? Aku Rin!” Ia tersenyum lebar.

Rahangmu jatuh.

Tiba-tiba terdengar derit dari kepalamu. Tiiit… tiiit… tiiit… tiiit… Warning! System failure … Detik itu, kau sadar, bahwa harimu sudah disusupi sebuah virus mengerikan yang menyapulenyapkan kabut kelabumu dan menggantinya dengan merah muda.

Tinggalkan komentar