Prompt: Manusia
1032 kata
Sejak usia lima tahun, aku mulai menyadari rasa takutku pada kegelapan.
“Rani, temani aku ke kamar mandi, ya.”
Itu permintaanku saban malam, ketika tekanan di kandung kemih atau rektum tiba-tiba meronta untuk diletuskan. Karena lampu di luar sudah dipadamkan demi hemat energi, aku butuh teman untuk menyerobot kegelapan. Tidak peduli kakakku sedang terjaga ataukah sudah terlelap.
“Sudah segede ini, kok masih takut keluar. Kayak bocah aja.”
Dan itu selalu jadi timpalannya.
Kutulikan diri dari setiap omelan dan keluhannya atas keharusan menemaniku buang hajat. Aku lebih takut gelap daripada murka seorang kakak.
Bahkan dengan bantuan cahaya bara dari pucuk lilin, aku tetap saja takut. Sejauh mata memandang, benda-benda yang terpapar sinar bisa tampak berbeda dari wujud semestinya. Mukena tergantung kelihatan seperti pocong melayang. Kabel hitam bisa saja tampak seperti seekor ular. Bahkan bayangan sendiri pun bisa terasa mengancam.
Memang, segalanya akan baik-baik saja selagi aku cuma melangkah lurus demi mencapai kamar mandi dan tidak tolah-toleh kanan-kiri. Namun, ada rasa penasaran aneh yang selalu timbul dan membisikkanku untuk menoleh, ‘Ke kiri, ada sesuatu yang mengamatimu!’ atau, ‘Di belakangmu~’
Awalnya, aku tidak mengerti apa yang membuatku takut pada kegelapan. Tidak juga punya pemikiran untuk mengidentifikasinya. Lagipula, ada banyak teman-temanku yang juga punya ketakutan, baik terhadap hal yang sama maupun berbeda. Bukankah, rasa takut adalah hal yang manusiawi? Orang-orang takut pada minimal satu hal dalam hidup mereka, dengan kadar yang beragam. Ada yang takut pada hal-hal mengerikan, ada pula yang sumber ketakutannya bukanlah hal yang wajar ditakuti. Tetapi intinya, kita semua punya rasa rakut. Makanya, kupikir, itu bukan hal yang perlu kucari tahu penyebabnya.
Baru ketika beranjak besar dan aku mulai mampu berpikir lebih sadar, aku bisa mendefinisikannya.
Rasa takutku muncul karena dalam kegelapan, kita tidak bisa melihat apa pun. Bukankah manusia cenderung takut pada hal yang tidak sanggup ia mengerti atau terka? Kegelapan melesapkan kemampuan menelisik dan mengidentifikasi segala. Apa pun bisa memunculkan diri dari dalam sana, menggoda, dan bahkan membahayakan diriku tanpa kuketahui. Termasuk hantu.
Ketakutan akan makhluk halus mulai lindap berangsuran seiring aku mendewasa. Sebab aku cukup yakin, mereka takkan berani bertingkah melebihi batas iseng. Tetapi tidak dengan kegelapan. Aku masih takut gelap sampai usiaku menginjak dua puluh. Jika pun aku berani pada pocong, kuntilanak, dan jajarannya, masih ada pencuri, maling, dan binatang berbisa yang berpotensi membahayakan jiwa.
Karena rasa takutku, tiga kali aku semaput dan berkali-kali marah ketika dikerjai teman-temanku pakai kegelapan.
Salah satunya baru saja terjadi setengah jam yang lalu. Sebuah kejutan yang tidak kusangka, kuminta, apalagi kuharapkan dari teman-teman sekelasku. Tiada ucapan terima kasih yang kulontarkan, malah amukan dan pengusiran yang mereka tuai.
“Jangan ngambek, dong. Mereka kan, cuma mau seru-seruan aja!” Maharani berujar tepat usai suara motor mereka menghilang dan aku menenggak tandas air dingin dalam gelas. Aku masih terbawa amarah. Kue ulang tahun yang didandani begitu cantik dan terpaksa kuterima hanya karena permintaan Maharani, kupandangi dengan murka.
“Aku enggak mengerti apa serunya memberi kejutan ulang tahun. Aku juga enggak mengerti apa gunanya mengerjai manusia lain dengan rasa takut mereka,” timpalku tidak habis pikir. “Kita semua takut pada minimal satu hal dalam hidup, ‘kan? Kalau aku mengerjai mereka dengan kematian ibu-bapak mereka dan ketawa kayak mereka tadi, memangnya mereka enggak bakalan marah?”
Ia merengut. “Iya, iya. Aku enggak pernah menang berdebat sama kamu soal ini.”
Aku memijit kepalaku, pusing. Bukan pengakuan bahwa aku lawan debat yang hebat yang kuharapkan, melainkan dukungan dan pengakuan bahwa mereka salah. Tetapi harapanku sepertinya kelewat berlebihan untuk sesosok saudari yang lebih tua dua tahun dariku. Dia tidak akan mengucapkannya bahkan jika aku meminta. Peraturan pertama, orang tua selalu benar. Sebagai pengganti ibu dan ayah kami, dialah orang tuaku. Maka aku membelokkan topik, “Kamu kemarin ke mana? Kok pulang telat?”
Rengutannya lesap secepat ia mencuat. Ekspresi Maharani berganti ceria. “Kemarin aku ada interview.”
Kukerutkan dahi. “Interview … kerja?”
Ia mengangguk cepat selagi mencolek krim di tart yang tidak sudi kusentuh sama sekali. “Sama Tiara Group.”
Otakku mendadak mandek. Maharani sudah punya pekerjaan sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan yang meski tidak besar-besar amat, tetapi upahnya mampu membiayaiku kuliah saat ini. Maka aku tidak menemukan jawaban di balik keputusannya untuk pindah tempat kerja. Apalagi Tiara Group, sebuah perusahaan yang … besar dengan nama tidak sedap dari sudut pandang moralitas.
“Kamu yakin?”
“Lho? Kenapa enggak?”
“Tapi Tiara Group kan …”
“Kita butuh uang, Marina. Uang yang lebih banyak.”
“Aku bisa kerja kalau kamu ma—”
“Aku enggak mau. Tugasmu kuliah. Cari uang itu tugasku.”
“Ya tapi kan kamu tahu Tiara Group itu isinya orang yang menghalalkan segala cara buat bisa dapat profit!” sentakku tidak terima.
Maharani tetap duduk dengan ekspresi masa bodohnya, menjilati krim yang menempel di jari. “Enggak ada yang bisa kita dapatkan jika kita terus bertahan dalam kejujuran di dunia yang sibuk berdusta.”
Aku menatapnya tidak percaya. Ke mana Maharani yang dulu menekanku untuk tidak boleh menyontek sekalipun bodoh dalam pelajaran? “Maharani! Itu perusahaan jahat!”
Ia membentak, “Aku tahu! Tapi kita enggak bakal dapat apa-apa kalau selalu jadi orang baik!” Seolah tahu bahwa ia barusan naik pitam, Maharani menarik napas dalam-dalam dan memijit kening. Suaranya turun setengah oktaf setengah volume. “Aku lelah terus dipandang remeh. Gara-gara Ayah yang bajingan itu, kita selalu dicibiri tetangga. Padahal Ibu banting tulang…” Kata-katanya terhenti mendadak, “lupakan.”
Dan, kata-kataku sendiri pun lindap entah ke mana. Sekalinya bisa aku bersuara, yang meletus dari pita suaraku adalah, “Ran, sadar, dong.”
“Aku sadar seratus persen ….” Ia mengerang. “Aku enggak pernah seserius ini dalam hidup. Kalau kita mau diterima masyarakat, kita harus berani berubah!” Sejenak ia mengatur napas dan suaranya kembali stabil ketika berkata, “Lagipula, ini pekerjaan yang ditawarkan orang. Posisiku bakal bagus di sana. Sayang kalau kita menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa tampil lebih mentereng.”
Mendadak, mencuat selubung misterius yang memisahkan aku dengan kakakku. Seolah ia menjelma sosok yang asing. Seolah kami berada di dua dunia yang berbeda. Aku merasa sudah tidak lagi mengenal Maharani—ataukah justru aku sebetulnya tidak pernah benar-benar mengenalnya?
Di usia dua puluh tahun, aku yakin, aku masih takut kegelapan, karena aku tidak pernah benar bisa mengerti apa yang ada di baliknya. Tetapi kegelapan karena ketiadaan cahaya rupanya bukan hal yang paling mengerikan. Pemikiran serta kepribadian manusia-lah hal yang paling gelap serta mengerikan dalam hidup. Sebab, sekalipun sudah kuhabiskan masa dua dasawarsa untuk tumbuh bersama seseorang, faktanya aku tidak pernah benar-benar mengenalinya.
