Prompt: Sebuah angka
1082 kata
Bagiku, lima adalah bilangan keramat. Selain karena aku hidup di negeri dengan lima butir asas negara, namaku pun terdiri dari lima huruf: Jihan, tanpa nama tengah pun nama belakang. Aku merupakan anak kelima dari lima bersaudara. Dan, jika saja rahimku tidak diangkat ketika operasi kista beberapa bulan selepas anak ketigaku terlahir, mungkin akan ada dua jiwa tambahan dalam keluarga demi memenuhi obsesiku pada angka itu.
Ketika SMA pun, aku punya sebentuk geng beranggotakan lima orang. Berhubung aku menikah setamat SMA dan tak melanjutkan studi, tiada lagi kenangan persahabatan yang lebih kental dari itu. Seluruh personil Jewel—nama geng kami yang disusun dari inisial nama masing-masing—telah menikah dan punya anak, memencar ke berbagai penjuru negeri. Menyisakan hanya aku dan Elisa yang mendiami kota asal kami.
Berhubung aku punya waktu cukup banyak demi pembersihan isi lemari, kupandangi album kami. Membiarkan memori masa silam melingkupiku bersama taburan rindu. Kukeluarkan salah satu foto, potret di mana kami berlima berpose dengan seragam putih abu yang kedodoran, tren pada masanya.
Aku ingat bagaimana foto itu diambil. Seorang teman lelaki, kekasih Wanda kala itu, berniat meresmikan tustel baru. Wanda spontan menawarkan kami sebagai model. Kami berfoto di halaman belakang sekolah ketika istirahat, tempat di mana cahaya matahari tersebar merata dan tiada orang lain yang turut tertangkap jepretan. Hasilnya bagus, wajah kami tampak cerah dengan latar belakang yang bersih tanpa gangguan. Membiarkan deret kelas belakang dan pohon beringin legendaris yang menemani.
Senyum kami lebar-lebar. Hanya dengan melihatnya, kehangatan menelusup ke dalam dada, menarik bibirku saat ini untuk turut menikung senyum. Itu adalah foto di mana tubuhku masih ramping, kulitku masih kinclong, dan kebahagiaanku hanya berputar pada kumpul-kumpul bersama keempat sahabatku, mengobrolkan anak ini dan anak itu, berkeliaran sepulang sekolah demi nonton bersama.
Kuputuskan untuk memasukkan foto itu ke dalam sebuah bingkai foto di atas meja, yang sebelumnya ditempati foto putra bungsuku ketika berusia lima bulan dan diambil dengan kamera ponsel kualitas VGA. Kini foto itu sudah pudar karena dicetak mandiri, jadi lebih baik kusingkirkan saja.
Sore itu, ketika tengah memeriksa pekerjaan rumah si bungsu, tiba-tiba saja kami dikejutkan oleh hempasan angin keras yang menelusup lewat jendela yang luput ditutup. Karenanya, beberapa bingkai foto yang terpajang di meja jatuh menelungkup.
“Astaga. Kencang banget anginnya.” Selagi Aulia, putri sulungku beranjak menutup jendela, aku beringsut ke meja, menegakkan bingkai-bingkai foto itu kembali. Ketika membalikkan foto Jewel, napasku tersentak.
Seharusnya lima.
Aku mengedipkan mata beberapa kali, kemudian mengabsen nama-nama kami dalam hati. Wanda, Elisa, aku, Laila … lho, ke mana Endang? Seharusnya, pada bagian paling kiri, ada sosok Endang yang merangkul pundak Laila. Tetapi tempat itu kini kosong, hanya menyisakan latar belakang, seolah telah diedit dengan photoshop.
Kukucek mataku berkali-kali. Lantaran tidak menemukan perubahan sama sekali, dengan panik aku menyeru, “Lia, Arya, Alka, coba kemari! Lia! Arya! Alka!”
Mendengar kepanikan dalam seruanku, ketiga anakku mendekat dengan ekspresi bingung dan khawatir.
“Ya, Bun?”
Tatapanku masih terpacak horor pada bingkai foto di hadapan. “To—tolong lihat itu … fotonya … ada berapa orang?”
Aulia menatapku bingung. “Itu foto Bunda sama temen-temen SMA Bunda, ‘kan? Satu … dua … tiga … ada lima, Bun. Kenapa?”
Kupautkan atensi kembali pada foto. Di mataku, sosok Endang tetap menghilang.
“Kamu kalau lihat yang bener!” bentakku.
Kerut di kening si sulung tambah dalam. “Lho, memang lima kok, Bun. Kenapa Bunda marahin aku?”
Arya membenarkan. “Iya kok, lima. Itu yang tengah Bunda, ya?”
Hawa dingin tiba-tiba saja menelusupi tengkukku. “Be-beneran lima? Alka?”
Putra bungsuku menghitung keras-keras sambil menunjuk, dengan hitungan kelima tertuju pada tempat Endang semestinya berada. “Heem. Lima.”
“Bunda kenapa? Aneh, deh?”
“Kok kesannya Bunda enggak percaya sama aku, sih?”
Suara-suara datang dan pergi. Tetapi di telingaku segalanya tertangkap sayup-sayup sementara aku memberanikan diri menatap kembali foto itu lekat-lekat. Endang masih menghilang. Jantungku masih berdegup kencang.
“Bunda—eh, sakit kepala. Lia tolong lihatin peer Alka, ya,” kataku serak. Tanpa menanti jawaban, kuseret kakiku ke sofa. Rebah di sana dengan pemikiran melayang. Pandanganku berkunang-kunang. Seolah tengah ditimpa vertigo parah.
Aku baru terbangun ketika sebuah sentuhan mendarat di kening. Mas Adam duduk di sisiku dengan tampang khawatir.
“Kata anak-anak kamu sakit?”
“Cuma pusing, Mas. Anak-anak mana?”
“Sudah masuk ke kamar. Kamu sudah makan?”
Pertanyaan itu malah mengingatkanku pada foto yang membuatku pusing. Tanpa menggeleng atau mengangguk, aku menegakkan tubuh dan berlari ke meja. Kemudian terkesiap lantaran foto itu sudah kembali seperti sedia kala. Endang kembali di sana, berdiri dengan senyum menampakkan gigi kelincinya, merangkul pundak Laila penuh akrab.
Kami kembali berlima. Seolah sebelumnya aku cuma berhalusinasi.
Aku pun akan menganggapnya sebatas halusinasi jika saja tak ada telepon Elisa yang masuk setelah itu.
“Halo, Lis?”
“Han, Endang meninggal. Kecelakaan tadi sore.”
Aku mengerjap. “Hah? Apa?”
Elisa mengulang pernyataannya, dan usai membanjur kerongkonganku yang kering dengan menelan ludah sebanyak mungkin, responsku adalah, “Kamu lagi bercanda kan?”
Elisa tidak bercanda. Endang benar-benar meninggal. Lantas kuceritakan pada Elisa segalanya. Namun, sebagaimana pemikiran orang normal pada umumnya, ia tidak percaya.
“Cuma halusinasimu aja itu, Han. Hidup-mati enggak ada yang tahu kecuali Tuhan.”
Kujelaskan padanya soal firasat dan tanda-tanda, tetapi ia tetap menolak percaya. Aku pun menyerah meyakinkan dirinya. Jika berada di pihaknya pun, aku tak akan percaya.
Usai kejadian itu, intensitasku memelototi foto Jewel yang terpajang semakin sering. Foto itu kupandangi kapan pun aku punya kesempatan. Ketika sedang senggang. Ketika bersih-bersih. Bahkan di saat hanya sekadar lewat, tak bisa kucegah mataku melirik ke arahnya. Mungkin rasa penasaran ini kelewat dalam, bersanding dengan ketakutan kalau-kalau terjadi peristiwa serupa.
Peristiwa serupa itu akhirnya tiba enam bulan usai kematian Endang. Kali ini bukan karena angin, melainkan tidak sengaja tersenggol Alka ketika ia berlari memburu Buchan, kucing abu-abu kami. Ketika membalik foto itu, aku terkesiap mendapati satu lagi orang menghilang dari sana.
Elisa.
Buru-buru kurogoh ponsel, meneleponnya dalam gumulan cemas dan panik. Jika sebelumnya kubiarkan ia tidak percaya padaku, kali ini aku harus sukses membuatnya percaya. Jika sebelumnya aku menyerah, kali ini akan kuseret dia mati-matian sekalipun harus mempertaruhkan pertemanan kami. Aku rela dibenci demi memaksanya. Pada denyut nada tunggu ketiga, teleponku diangkat.
“Ya? Halo, Han?”
“Sa, fotonya berulah lagi, Sa! Ada yang ngilang lagi. Kali ini kamu—”
“Duh, Han. Aku lagi nyetir ini. Kalau mau nyinggung soal foto itu lain kali aja!” Dari nada suaranya, sepertinya ia gusar dan lelah. Jika aku berada pada posisinya, aku pun akan merasa jengah. Tetapi ini sungguh krusial.
“Tapi, Sa—”
Kata-kataku tidak sempat menemui akhir, sebab aku telah kadung roboh. Memang tidak ada omelan Elisa yang menyambutku, tetapi suara decit ban yang mengilukan, jeritan panik sahabatku, dan bunyi benturan keras dari seberang sudah sukses merampas kekuatanku untuk berdiri tegak.
Vertigo itu datang lagi. Kali ini, aku menggigil kedinginan.
