Putih. Bersih. Di sekelilingmu tak ada apa pun kecuali dua hal tadi. Yang kau tahu cuma arah, dan kau kini tengah berjalan ke depan, kemudian sesuatu turun dari atas. Kau mendongak, menjemba sesuatu yang nyatanya sebuah buku. Tiada awan, matahari, atau angkasa biru. Yang ada hanya putih. Bersih.
Kau memeluk bukumu. Membuka lembar pertamanya. Membiarkan dirimu tersirami cerita tentang hidupmu semasa di dunia.
Satu-satunya yang kau ingat saat ini, sebelumnya kau hidup dalam dunia sewujud pabrik buku bernama PT Kehidupan. Setiap hari ada sekian buku tercetak, dengan lembaran-lembaran kosong yang akan diisi. Beberapa sekat menampakkan siapa-siapa yang harus mengisinya dalam rentang usia tertentu.
Hari ini, dengan berlabuhnya buku tipis itu di tanganmu, artinya kau sudah tidak ada lagi di dunia yang kaukenali. Tanpa ingatan yang tersisa kecuali secuil kecil tentang duniamu. Kau baru akan ingat setelah membaca apa pun di dalam buku itu.
Sekat pertama, genre keluarga. Diisi oleh ibu dan bapakmu bersama didikan mereka. Sekat kedua, genre persahabatan. Tokohnya segelintir temanmu. Kau tak punya cukup keberanian untuk mengoleksi teman lebih banyak. Kebanyakan dari mereka, bahkan meneriakimu. Membencimu. Sekat ketiga, romansa. Kau dan lika-liku cintamu yang senantiasa kandas.
Kau menutup buku itu dan termangu.
Kau ingat, menahun, kau bertanya-tanya apa gerangan yang salah dalam hidupmu. Dan, kini, usai dirimu meloncati gerbang antara dua dunia, kau pun tahu apa itu.
Hidupmu diisi oleh pengajaran untuk merasa takut, tetapi kau tak pernah menyadarinya. Mungkin bagimu hidup adalah kesempurnaan, padahal ibumu mengajari seni akan ketakutan pada nyaris seluruh waktunya. Dia mengajarimu agar kau takut jatuh, takut laba-laba, takut kecelakaan, takut api, takut kegelapan, dan bahkan takut pada jenismu.
“Jangan terlalu dekat pada orang itu,” katanya suatu waktu, seusai menyeret lenganmu dari lelaki tinggi besar berkulit hitam yang kau perhatikan sejak dua puluh menit mengantri di loket. “Dia itu orang jahat. Penculik anak.”
Sebagai anak berusia enam tahun, kau tidak mengerti. Yang kautahu apa yang diucapkan ibumu benar. Orang itu orang jahat. Dan, karena itu kamu terbiasa untuk menghindari orang-orang dengan dandanan seperti itu, tak peduli dunia mau bilang apa.
Kau jalani hidupmu penuh kehati-hatian. Mengecek dua kali sebelum menyeberang jalan. Setiap hari, di kepalamu cuma terdengar ucapan, “Hati-hati.” Dengan hidung berkerut, kau menghindar dari segalanya.
Di usia tujuh belas tahun, kau masih takut kotor, takut laba-laba, takut gelap, karena tak pernah mencoba memahami mereka. Kau juga takut manusia, kecuali dirimu dan ibumu, tentunya. Manusia itu kasar. Mereka adalah makhluk yang mengerikan, yang berkeliaran di planet ini dan menunggu untuk menyerangmu sampai kamu binasa. Itulah yang menggiringmu hidup tak berteman. Mereka yang mengaku sebagai temanmu, hanyalah mereka yang menertawakanmu ketika kau menjerit kareja laba-laba, mengaduh akan kegelapan, dan menjauh dari banyak manusia. Akibat ketakutanmu akan begitu banyak hal mengerikan, kau rela menyeberangi dunia dengan jalan meloncat dari tebing. Satu-satunya keberanianmu, yang mirisnya timbul akibat ketakutan.
Di dunia tanpa apa pun kecuali putih dan bersih, kau baru sadar, ibumu telah kadung membentukmu jadi malaikat yang rapuh.
