kita bicara tanpa kata
hanya ada getar getir lewat tatap mata
lalu kamu dan diammu merambat naik, memanjati titik buta,
hingga lewat dari jangkau jangkarku
kita bicara tanpa kata
hanya detak detik waktu yang bersuara
lalu kamu melukis kaca antara kita
hingga kau membumbung dan terselubung
sedang aku dihujani air mata,
turun dikunyah lumbung lambung
ketika akhirnya kita berkata-kata,
senja pun pecah jadi gulita
dentang denting piano
membabat suka
menyayat luka
menggagas duka
lalu kamu bersumpah dan bersampah
sedang ‘ku bersimpuh dan menyembah-nyembah
kamu bicara tentang apa
‘ku bicara tentang bagaimana
kau peluk baru, kudekap biru
lalu apa-apa yang terajut pun jadi abu
