Semalam aku bermimpi angka-angka menghilang. Tuan dan nona riang berdendang, mengenang dan menang demi kesenangan. Kaki-kaki telanjang berderap gempita ke ladang, ke gunung, ke lautan, demi bakti pada tangan kehidupan. Pada wajah mereka terukir ketulusan—sesuatu yang musnah dari dunia yang kutahu sekarang.
Semalam aku bermimpi angka-angka menghilang. Ladang dan ilalang tumbuh menjulang, pepohonan terbiarkan merimbun, buah-buahan segar menggelinding dari rerantingnya—melimpah, air-air mengalir dari hulu ke hilir tanpa warna yang berubah. Birunya angkasa begitu cerah dipoles awan-awan di siang hari, dan indigo tua yang memesona mengambil alih dengan taburan bintang gemerlapan pada malamnya. Keindahan yang tersingkir dari alam yang kukenal sekarang.
Semalam aku bermimpi angka-angka menghilang. Orang-orang menerbangkan perahu-perahu kata karena cinta. Bertemu dengan mata-mata memancarkan kasih yang nyata. Lidah memuja dan memuji karena sayang. Saling membahu untuk menolong, bertukar untuk membantu. Dari kepala mereka melayang kerlap-kerlip keikhlasan—hal yang asing dari manusia-manusia yang kukenal sekarang.
Semalam aku bermimpi angka-angka menghilang. Lenyaplah perhitungan. Musnahlah untung rugi. Enyahlah ketamakan. Sesuatu yang didewakan di dunia yang kukenal sekarang.
Semalam aku bermimpi angka-angka menghilang, sedang aku melayang di angkasa. Aku adalah sekepul kabut tanpa raga. Kedua orang yang kukenal sebagai perantara kehidupanku di dunia yang sekarang, hanya orang-orang asing yang tidak pernah saling berjumpa.
