Tolong jangan ada suara-suara, pinta si perempuan. Jangan ada yang mainkan piano tua itu di kepalanya. Jangan ada yang berucap atau mendecak sekali pun. Sebab, dirinya hanya butuh hening.
Bahkan, rasanya ingin juga ia sayat melodi tua yang dimainkan angin. Suara-suara bukan apa yang diinginkannya di tengah invasi dingin. Sebab, dia hanya butuh hening.
Namun, mengapa masih ada suara-suara?
Betapa dirinya benci ini. Ia benci bagaimana musik kini beralih jadi pengusik. Benci bagaimana dawai dan senar sekarang malah jadi biang onar. Benci bagaimana perkusi malah berubah jadi tukang eksekusi. Benci. Benci. Benci.
Perempuan yang duduk meringkuk di sudut kamar itu masih berjuang menyumpal telinganya dengan apa saja dalam upaya menawan ngilu, menahan gigil yang meremukkan tulang-tulangnya dari dalam.
Bagaimana bisa apa yang ia sayangi dan percayai dahulu justru menjadi hal yang dibencinya saat ini? Seperti suara-suara. Seperti musik. Seperti tembang di malam hari. Seperti juga sebuah nama yang hanya tinggal Nama.
Nama yang pernah begitu lekat, dekat, erat, tapi rupanya sesosok pengerat. Di panggung lima bulan silam, Nama mendorongnya dari sorotan, hanya karena Suara yang mereka latih bersama.
Mungkin perempuan itu tidak membenci angin, musik, atau suara-suara. Yang dibencinya adalah harapan-harapan yang pernah ia tanam untuk mereka, tetapi musnah sebelum merdeka. Sebab, kekecewaan paling dalam justru ditorehkan oleh orang yang paling dipercaya.
