Heran, sungguh heran. Puisiku tak pernah sampai diantarkan kepadamu. Entah angin telah berubah jadi tukang pos yang tak lagi amanah, atau justru hatimu yang sudah pindah rumah.
Sepucuk rindu di tanganku lagi-lagi harus kembali kugenggam dengan kecewa. Ini sudah kesepuluh kali dalam bulan ini. Sudah dekat detik-detik untuk diriku menyerah lalu frustrasi.
Angin menepuk-nepuk pundak dan wajahku, berusaha menghibur.
“Aku yakin dia sudah pindah rumah,” bisiknya.
Kutahu, hal itu bisa jadi benar. Akulah yang selama ini tidak mau percaya dan getol untuk terus mencoba. Padahal, gejala kepindahanmu sudah begitu terang di tengah siang.
Suatu ketika, pernah kucari engkau di bangku-bangku taman tempat kita habiskan waktu bersama, tapi yang ada hanya kenangan buram. Kucari engkau di potret-potret lama, tapi senyummu sekecut buah asam. Jika mata adalah cerminan hati, maka dari tatapan terakhirmu yang bersalut sungut, jelas sekali ada kemelut, dan kita tak mungkin lagi bertaut.
Angin pun bertolak pulang, meninggalkanku dalam kubangan sesak sendirian. Mengais-ngais sisa asa dari kebersamaan kita yang kian hari kian lemah. Aku masih belum rela jika harus menjejalkan semuanya ke dalam tong sampah.
Semua upayaku untuk menampik hanya membuka celah lain dari cahaya yang selama ini kuhindari. Celah yang memperlihatkan bahwa kita memang sudah lama tidak lagi satu. Kubilang suka, kaupikir murka. Aku ingin rekah, kamu malah mau pecah. Yang kubawa ramah, kaupikir marah. Yang mau kusulam jala, kau lanjutkan jadi bala.
Lantas aku terpekur dalam kesendirian. Mungkin kita memang tak pernah bicara dalam satu bahasa. Kesulitanku dalam memahami semua ini adalah kepribadianmu yang kesore-sorean. Engkau jiwa yang bersinar melelehkan asa, diam-diam girang menyesap gelap membungkus kita. Sedang aku subuh yang berbisik-bisik di tengah gelap itu, menggantung asa di larik-larik cahaya. Demikian kekal kita berkejaran, dan terang hanya jalan yang menegaskan kehadiran jeruji di antara kita.
Namun, tetap saja aku heran. Apa yang jadikan rumah dariku semakin layu dan mengerontang di matamu, sedang tiap pagi dan sore rutin kupupuk dan kuguyur rinduku? Mungkinkah ada tempat pulang yang lebih hijau di dekatmu?
