Antara


Pada bundaran yang bertengger apik di dinding kamarnya, ada dua puluh empat ‘dia’ mengitari angka-angka. Karena berputar, tidak tampak jelas mana awal dan mana akhir. 

Namun, kalau dilihat dari titik awal dan arah garis yang bergerak, maka fase yang akan dilaluinya setelah ini adalah sebagai berikut: 

Lima: bangun dan bersihkan tubuh dengan air dan wewangian agar luntur segala lelah. Enam: bus kota, sambil kunyah sepotong roti dan tenggak segelas susu, cara aman untuk meloncat ke Setengah Delapan: di mana dia sudah jadi salah satu dari sebarisan orang berseragam yang mendengarkan petuah atasan di depannya sambil terkantuk-kantuk. Di sebelahnya, Delapan: ada dirinya menghadap layar komputer, dengan sederet angka lain yang kecil-kecil menjejali isinya sampai Dua Belas. Di Dua Belas: isi perutnya dulu dengan nasi dan lauk dari kantin yang tak sebegitu lezat, tapi lumayan untuk usir lapar. Setengah Empat Belas: kembali di depan layar, ketak-ketik-ketuk, hitung sana-sini, sampai angka Sembilan Belas: kembali menjejali bus kota, kadang sambil kunyah-telan, kadang masih ketak-ketik-ketuk, kadang sudah teler.  

Sekarang dia masih menempeli Setengah Lima, jadi wajar jika matanya belum terbuka. Pada selang waktu menuju lima, mendadak dia cium bau usang. Bau yang sudah lama dia rindukan, lama dia lupakan, dan baru saja dia ingat. 

Bau rumah. Bau tanah. Bau rahim ibunya. Bau di mana Tuhan masih jadi teman bermainnya yang MahaSeru, sebelum dia kecemplung ke tengah-tengah lautan debu. Bau di mana ketika plasenta yang meliliti tubuhnya bisa dia ajak mengobrol dengan suara Tuhan yang MahaMerdu.  

Suara itu masih sama seperti yang pernah dia dengar sebelumnya. Mengalun memanggilnya selembut bayu. Tangan yang terentang mendekapnya pun masih sama lembutnya, mengusap-usap kepala seperti Bapak-Ibu merindukan putra yang lama merantau jauh.

Kalimatnya saja yang kini berbeda. Jika dulu seingatnya: 

“Selamat berjuang, Anakku… 

Sekarang bunyinya: 

“Selamat datang kembali, Anakku…” 

Dia balas pelukan itu sama erat, sama rapat. Muntahan yang dicurah matanya menyusul kemudian. Betapa dia rindu kepulangan ini. Betapa kebanyakan langkahnya kemarin-kemarin telah membuatnya lupa jalan pulang.  

Saking senangnya dia di dunia antara, dia luput pada fakta bahwa sekarang sudah Empat Belas, sedang dia tersangkut di awal Lima, tanpa bisa membuka mata. Sudah dia lewati sekian hitungan di tempat yang sama, terlalu betah, dan enggan balik-balik lagi.  

Sementara itu, di dimensi seberang, orang-orang berbaju hitam mengelilingi jasadnya sambil melantunkan ayat suci.

Tinggalkan komentar