Menang


“Katakan, dari mana kau datang?”

Sebagian besar helai rambutnya sudah rontok. Kini hanya bersisa sepotong yang tengah berada dalam kuasa entah siapa. Sekali dijambak lagi, mungkin dia akan sepenuhnya gundul.

“JAWAB!”

Kaki seseorang dari kegelapan menghantam perutnya keras. Dia terbatuk dan memuncratkan cairan pahit, satu-satunya yang tersisa, usai semua isi lambungnya habis dicurah pada babak-babak penganiayaan sebelumnya.

Akan tetapi, dia masih tak sudi mengaku. Alih-alih, di antara dunia yang melayang-layang dalam penglihatannya, dia justru terkekeh. Sengaja menambah intensitas kemurkaan setan-setan yang mengelilinginya.

“Sial! Bunuh saja dia! Tak ada guna juga kita biarkan hidup kalau dia tak mau buka mulut.”

Mendengar seruan itu, dia terkekeh, makin kencang, makin deras. Perut yang berulang kali disodok kaki dan tinju sejak lima belas jam lalu sudah tidak memunculkan sakit, saking kebasnya. Hanya napasnya yang tersangkut lagi. Dia terbatuk-batuk. Kali ini memuntahkan cairan berbau anyir yang dia tahu jelas apa.

Sang Pemimpin tampaknya sudah kehilangan kesabaran dan tersulut agitasi. Sebab dia mendengar langkah kaki berat mendekati tempatnya meringkuk, kian lama kian keras. Kemudian berhenti dengan bayangan gelap yang duduk di hadapannya, dan embusan napas dingin yang menyapu hidungnya.

“Kalau kau mau jujur tentang pihak mana yang mengirimmu menyusup ke sini, kami akan membebaskanmu.”

Susah-payah, dia mengangkat dagu. Hanya demi melihat kebenaran, apakah sosok di hadapannya benar-benar Sang Pemimpin yang dikenalinya, atau setan kecil lain yang mengaku-ngaku. Sebab, tak ada pemimpin segoblok itu. Hanya manusia tolol yang percaya pada bualan tentang pembebasan usai mengaku.

Sejak dia terjun dua bulan lalu untuk menyusup ke sini, kematian sudah menjadi kartu identitasnya. Dia tahu itu. Hanya cepat atau lambatnya saja yang menjadi persoalan, dan itu memengaruhi seberapa banyak informasi yang bisa dia kirimkan pada instansinya.

“Manusia ini bodoh atau naif? Betulan mau mati?!”

Geram terdengar kembali, dan dia tertawa lagi. Kali ini, tawanya tak sampai membuatnya terbatuk. Pasalnya, satu dorongan dari depan sudah kadung membuatnya ambruk.

Sang Pemimpin telah dibuatnya murka.

“Pistol. Biar kuhabisi tikus ini sendiri.”

Lagi-lagi, dia tertawa, bahkan saat mulutnya dipaksa membuka dan moncong revolver menyapa lidahnya. Terus tertawa. Menertawakan malaikat pencabut nyawa yang rupanya telah sedekat nadi.

Keberaniannya menantang Sang Pemimpin mungkin tak akan dikenal. Keberhasilannya dalam menyusup kemari tak akan menuai pujian. Hilangnya dia dari Semesta pun tak akan berbuntut pencarian. Namun, dia sudah siap menjemput maut itu, karena informasi yang telah dia kirimkan ke pusat dirasanya cukup untuk membayar penyiksaan dan kematian.

Maka, saat di mana pelatuk ditarik dan rongga mulutnya hancur hingga kepalanya terkulai, dia justru merasa menang telak.

Tinggalkan komentar