Limpah

Dinding kaca besar. Irama musik jazz. Aroma kopi, cokelat, dan teh.

Aku masih terpaku. Hanya bola mataku yang menandakan pembeda antara diriku dan patung, bolak-balik menatap satu demi satu yang datang dan pulang. Mereka ialah sosok-sosok yang rela merogoh kocek sampai bolong, hanya demi menjumpai metamorfosa figura waktu—figur-figur masa lalu.

Saat kakiku akhirnya terdorong ke depan pintunya, kegugupan malah membuatku bertabrakan dengan seorang pemuda. Bukan salahku. Ialah yang terlalu buru-buru sekali menjemput kenangan.

Namun, bersama-sama kami melontar maaf. Bersamaan juga kami mengembalikannya kepada satu sama lain sambil tertawa canggung. Kupersilakan ia masuk dahulu. Sebelum aku sendiri menyusul masuk menjemput jamuan masing-masing.

Aku belum sempat menyesap milikku ketika kulirik lagi pemuda itu. Ia sedang menyelami keping kenangan yang limpah ke masa sekarang, lewat sesendok gula yang memelintir aroma rosella.

Di hadapannya, duduk perempuan manis yang menatapnya murung. Tak lama kemudian perempuan itu menyalak murka, kesal karena dipanggil. Usai menumpahkan isi teh rosella ke wajah sang pemuda, perempuan itu menjelma ampas di gelas kaca, tanpa tutup, meninggalkan pemuda itu dengan rindu yang mengendap pada dasar gelasnya sendiri.

Pemuda itu menangis kemudian. Mengusap wajahnya yang basah oleh tetesan teh rosella dan air mata. Kudengar ia berbisik-bisik di tengah alunan musik, “Kamu benar, aku tidak akan bisa menjumpaimu di mana-mana setelah kita berpisah.”

Ia bangkit dengan nelangsa. Alih-alih menikmati jamuannya, ia justru menyesap kecewa. Kepergiannya mengembalikanku pada hidangan sendiri yang terhidang di depan mata.

Kecemasan melingkupiku. Jangan-jangan aku juga akan sepertinya?

Kuhidu aroma mahal itu perlahan-lahan. Bulu kudukku meremang. Kukudap segigit roti bakar dan menyesap susu stroberi. Perlahan-lahan. Kuhayati setiap rasanya. Rasa itu manis di mulut, tapi pedas di mata. Sebab, hidangan-hidangan di sini sama seperti apa yang kumau. Sama seperti dahulu.

Hidangan itu memunculkan Ibu, mendudukkannya berhadapan denganku. Aku tercengang beberapa jenak. Menyadari betapa waktu pun bisa mengekalkan rupa. Di saat aku disulapnya jadi dewasa, dan dunia pun kian berubah renta, sosok di hadapanku justru tak pernah dibuatnya menua.

Aku tak sadar susu stroberiku tumpah ke meja. Melihat cara minumku yang tak tahu adat, Ibu berdecak, mengulurkan tangan. Mengusap bekas susu yang menempel di bibir dan daguku.

“Kamu sudah besar, tapi cara minummu masih sama seperti dulu.”

Bayangan Ibu mengabur dalam panas yang menguap dari mataku. Pipiku lantas basah oleh hujan yang jatuh dari sana. Namun, bisa kulihat bayangan kabur itu tersenyum. Tangannya naik menepuk kepala, lalu turun mengusap wajahku.

“Aku sudah besar, Bu,” ungkapku susah-payah. Terdesak keharuan, tersedak sedu-sedan. “Sudah bisa cari uang sendiri supaya bisa ketemu Ibu di sini. Tapi rinduku masih sama seperti dulu.”

“Rindu Ibu juga masih sama seperti dulu. Ibu melihatmu, selalu, dan selalu. Jadi, jaga dirimu baik-baik.”

Lagi, ibu menepuk-nepuk kepalaku, sebelum lindap dan mengendap. Ia menjelma hangat dari segelas susu stroberi yang turun ke perutku. Kutahu, Ibu telah, sedang, dan selalu membungkusku dengan kasihnya yang tak pernah lekang oleh waktu.

Dinding kaca besar. Irama musik jazz. Aroma kopi, cokelat, dan teh.

Tempat itu seharusnya bertarif biasa-biasa. Namun, bagaimana pun juga, kembali menemui masa lalu demi menebus kerinduan memang mahal harganya.

Tinggalkan komentar