Surat Retak

Telah kukirimkan sehelai kepadamu. Isinya kegeraman. Poin-poin perpecahan. Juga, sebentuk gagasan supaya kita lekas berhenti, turun, dan berpisah jalan.

Bukti-bukti yang kukumpulkan terlalu kuat memberi radar bahwa kita ada di ambang asa. Setelah melalui banyak keretakan dan nyaris pecahnya kapal yang kita layarkan, tak sanggup lagi aku menambalnya dengan air mata.

Sebab, kemarau sudah datang. Telaga di mataku telah mengerontang. Dan kupikir sudah saatnya aku terbang. Melepaskan diri dari jeratan yang ironisnya malah memberi pertanda bahwa aku sudah kaubuang; kautendang pulang.

Berikut kujejerkan satu-satu poinnya.

Pertama, kau jarang tidur di rumah. Kedua, baumu sudah tak lagi ramah. Ketiga, kau kerap disulut dan menyulut amarah. Keempat, setiap aku bertanya, kau sering balik arah. Kelima, ketiga sedang marah atau ada di puncak gairah, kau panggil nama yang salah. Siapa pula itu Sarah? Buatku, lima sudah cukup menjadi bukti kuat bahwa dirimu sudah tidak lagi amanah.

Surat yang kukirimkan kepadamu bukan kertas yang diterbitkan instan. Ia telah melalui serangkaian pertimbangan, tangisan, pemikiran, amukan, kenangan, dan sedu sedan. Aku sudah ada di tahap muak hanya karena memandang potret pernikahan, sampai-sampai harus kuturunkan ia dari takhtanya dan kuganti dengan lukisan.

Rupanya hidup memang tidak bisa kita terka. Yang kukira akan pelangi bisa jadi selamanya mendung. Yang kupikir abadi bisa jadi lekas rampung. Dan perasaan manusia bisa jadi lebih ambigu dari semua itu: lebih keras dari cadas, tapi lebih sering betas daripada carikan kertas.

Aku pernah menjadi rumahmu, dengan pondasi yang tulus, berdinding ketegaran nan utuh, beratapkan kepercayaan serba teguh. Tapi, karena kaupilih untuk jarang pulang, maka sekalian saja kita bertualang. Sendiri-sendiri.

Tinggalkan komentar