Rencanaku hari ini jelas: berkunjung ke rumah sahabat di tepi jalan. Hanya kunjungan rutin, silaturahmi antar kerabat.
Pasti, sebagaimana hari-hari biasa yang dia jalani, tangannya sedang sibuk menyapukan kuas suka pada permukaan kanvas hidupnya. Mematri dan memutar warna-warna cerah; merah, jingga, biru, hijau, kuning, juga ungu menjadi sewujud bentuk cita-cita dan asa yang tersembul dari kantung imajinasinya.
Namun, rupanya, hari ini berbeda. Tiada cat-cat semarak warna yang biasanya turut menyemburat karena terciprat pada pipi atau pancaran matanya. Alih-alih, dia tampak bermuram durja.
Jadi, kutanya padanya, “Mengapa kau terlihat berbeda?”
Dia mendesah resah. “Memang. Hidupku juga sudah berbeda.”
Diajaknya aku ke dalam rumahnya, dan dari sana, kusaksikan kehancuran. Yang pertama kali menghadang kami adalah kanvas hidupnya yang dilumuri tinta bencana sewarna jelaga. Seperti dituang langsung dari angkasa haya demi menodai permukaannya. Beberapa bagian lukisan asanya terhapus, pupus, sebagian meluber, menciptakan gradasi kelabu bernama kesedihan dan pilu.
Aku tak bisa menahan diri untuk berkata, “Astaga. Aku turut berduka.”
“Aku tidak tahu, sehabis ini harus bagaimana lagi,” katanya parau. Tak lama, ia ledakkan tangisnya.
Hal pertama yang bisa kulakukan hanyalah memeluknya erat. Yang dia butuhkan saat ini hanya ketegaran dan pikiran yang jernih.
“Habis sudah,” dia meracau. “Setelah kuhabiskan hari-hariku untuk melukis cita-cita, semuanya ludes hanya dengan sekali sapuan tinta bencana.”
“Ssst …” Kutenangkan dirinya. “Kita masih bisa memperbaikinya. Tidak akan kembali seperti semula, tapi setidaknya, kita harus berusaha.”
“Bagaimana caranya?”
“Kita bisa menyusun dan melukis ulang cita-citamu belakangan,” kataku kemudian. “Sekarang, yang harus kita lakukan adalah mencoba mengeruk noda-noda duka ini.”
Kutunjukkan padanya caranya. Dengan kuas ketegaran, aku coba untuk mencungkil tinta-tinta duka yang masih belum berkerak.
“Tidak sebersih sebelumnya,” komentarnya.
“Tidak akan bisa sebersih semula, Sayang. Kecuali, kalau kita kembali ke masa lalu. Sayangnya, jarum waktu tidak bisa kita putar ke belakang. Ia selalu maju,” jelasku. “Yang tersisa ini namanya hikmah dan penyesalan. Mereka akan selalu ada sebagai pengingat agar ke depannya, kita berhati-hati dalam bertindak. Nah, sekarang, mari kita tambal dengan cat warna yang baru. Apa yang mau kaulukis di sini?”
Kupinta dia menyusun warna-warni mimpinya ke atas kanvasnya yang menyisakan kelabu itu. Warnanya tak secerah yang kami harapkan, tetapi setidaknya, aku melihat dia kembali bangkit untuk melukis tawa dan asa.
“Memang tinta muram tadi masih menyisa,” terangnya, sudah lebih ceria. “Tapi, begini saja sudah cukup baik. Terima kasih untuk bantuanmu.”
“Sama-sama.” Sebelum aku lupa, kuingatkan padanya lagi. “Mungkin sewaktu-waktu, tinta duka bisa tumpah lagi—”
Seolah mengerti apa yang mau kusampaikan, dia menyela, “Tidak apa-apa. Kini aku tahu tidak akan ada yang abadi. Baik lukisan cita-citaku, maupun tumpahnya bencana. Tapi, berkatmu aku belajar caranya mengolah sisa penyesalan dan hikmah menjadi lukisan yang tidak kalah indah.”
Kupeluk dia erat-erat. Sebelum aku sempat berpamitan, dia sodorkan padaku satu cat warna baru.
“Anggap saja ini balasanku untuk jasamu. Warnai hidupmu dengan ini,” katanya sambil melambaikan tangan.
