diam-diam berdarah
telapak tanganku lantaran hilang arah
alam sibuk mengupas bawang merah
aku harus sigap mengipasi mata yang mulai marah
tapi tumpah hujan terus dicurah
sementara wadahku sudah tak sanggup lagi menadah
diam-diam bersemayam
wangi daun salam berekor kenangan masa silam
sementara kutuk-kata kita sibuk tenggelam
dalam asap dan uap yang asyik menganyam
cita rasa kelam di suatu malam
kapan lagi lukaku kering jika
basah senantiasa serakah untuk ada?
bersendok-sendok garam ditumpahkan
dan genangan beriak, kenangan berteriak
duka luka sukma
perih pedih mendidih
diaduk-aduk tangan takdir
kuali raksasa retak berkerak menggelegak
lantas pecah; nelangsaku tumpah ruah
diam diam bersemayam
salam-salam silam di dalam
semangkuk sup labu siam
ada pisau di tangan kanan
lalu laku kebingungan menentukan
mana yang harus dicincang biar aman:
bonggol dan ampela sapi di atas talenan
apa bongkah hati yang tak lagi sanggup bertahan?
