#5 Probabilitas Akseptasi

prompt: ACC √
jumlah kata: 494

MENGAPA dia tidak mencoba mengakui perasaannya?

Jawabannya jelas. Saka takut akan penolakan.

Berbeda dengan Zack, Saka tumbuh dengan keunggulan akademis yang membuatnya selalu diterima. Dia terbiasa menjadi pemenang, termasuk di mata orang tua mereka yang kerap memperbandingkan kedua anaknya.

Ini bukan pertama kalinya Saka jatuh cinta, tapi ini kali perdananya dia galau parah. Karakter Martha yang seperti itu membuatnya tidak bisa mengalkulasi berapa persen probabilitasnya untuk diterima dan ditolak. Sekalipun seiras, dua kemungkinan itu tidak sejelas dan sesederhana memilih sisi koin untuk dipertaruhkan.

Sebab, kini dia berkompetisi dengan sesuatu yang tidak jelas tampaknya. Berkompetisi dengan ketakutannya sendiri. Berkompetisi dengan hantu.

“Lo tahu alasannya,” gumamnya kemudian.

“Takut ditolak?” Zack menerka dengan tepat. “Nggak apa-apa. Gue bisa menerima lo kalau ntar patah hati, di sini.” Dia menepuk pundaknya. “Sini, Mas Saka, menangislah di bahu adinda.”

Sontak, Saka bangkit dan menyumpah-nyumpah. Sesuatu yang hanya bisa dia lakukan di depan Zack seorang. “Mending gue tidur, deh. Mode homo lo bikin merinding, asli.”

Bahana tawa Zack berbaur dengan suara komentator sepak bola. Juga suaranya bicaranya dalam nada keras, “Sudah homo, inses pula. Heran gue, kalau ngelihat Martha sama Medi begituan, kok, biasa aja. Manis, malah. Kenapa cowok-cowok kesannya mengerikan, ya?”

Semua itu mengecil di balik punggung begitu pintu kamarnya Saka tutup. Dia rebahkan tubuhnya kembali usai meletakkan gelas berisi air ke atas nakas. Matanya merah dan lelah, tapi masih nyalang menatap langit-langit kamar pukul setengah tiga pagi.

Haruskah dia mengaku …?
Haruskah dia …?
Haruskah …?

Entah berapa lama pertanyaan itu bermain-main di dinding pikirannya, sampai Saka akhirnya jatuh terlelap dengan satu kesimpulan: dirinya adalah seorang pengecut.

***

Hari Sabtu. Zack menghilang sejak subuh dan tidak tahu kapan kembali. Pekerjaannya sebagai Event Organizer dan freelancer yang tidak punya time work sejelas profesi Saka membuatnya selalu terbang dan pulang tanpa ada parameter tertentu.

Sehabis berolahraga, sarapan, dan mandi, Saka duduk di meja kerja. Kubikel sederhana yang dibentuknya atas tenaga Zack. Meski selalu jadi murid berperingkat gendut sewaktu sekolah dulu, Zack punya ‘tangan’ yang tidak dimilikinya. Sudah lama Saka menyusun praduga bahwa Martha adalah versi wanita dari saudara kembarnya.

Tangannya bergerak membuka peramban pada layar komputer. Rutinitas Saka selanjutnya saban akhir pekan adalah berselancar di mayantara. Menjelajahi berita dari bidang IT. Mengecek fluktuasi saham. Mencari hiburan lain berupa postingan dari page meme. Dan, yang satu ini. Tidak pernah ketinggalan sekalipun dia tak sempat. Membaca-bacai postingan blog Martha. Seberapa kali pun dia bolak-balik membaca, tidak pernah dia dilanda bosan. Padahal tulisan-tulisan Martha tidak jelas waktu postingnya.

Blog itu di-subscribe-nya sejak detik pertama dia rampungkan pembuatannya. Berada di urutan pertama pelanggan blog Martha adalah prestasi terpuncak yang dia banggakan dalam kepalanya sendiri.

Bunyi klak-klik tetikus. Saka terus menggulir. Hingga notifikasi surel mencuat di tepi layar, asalnya dari blog yang sedang ia buka saat itu juga. Saka mendengus lucu. Ini saatnya menyuarakan pepatah, ‘Pucuk dicinta, ulam pun tiba.’

Dia menggulir ke atas selekas yang dia bisa. Matanya berkedip pelan sewaktu membaca judul pos itu. Sesuatu teraduk di perutnya.

‘Dongeng Laut, Malam, dan Angkasa’

Tinggalkan komentar