Ditulis untuk memenuhi Tugas MOS AstraFF Slot 23 | 0 (P-W) Davina Leslaigh
Alkisah, usai tabir yang melingkupi kota Wadd terbuka, mencuatlah kehidupan di atas permukaan pasir nan tandus. Kota-kota dipahat dari batu. Berdebu. Orang-orang mulai berdatangan dari seantero negeri. Hijrahnya para pendatang bukan cuma terdorong oleh ingin lingkungan yang lebih renggang atau suasana familier bagi umat tertentu. Ada faktor rahasia umum yang tersebar di antara para musafir yang kebanyakan datang dari kaum penyihir.
Bahwa di antara ekstrimnya udara malam dan siang serta badai pasir yang seringkali memedihkan mata, tersembunyi Tabut Musa. Benda supranatural tertinggi sepanjang sejarah.
Legenda berkata, benda serupa tongkat itu mampu membawa dunia ke tangan siapa pun yang menggenggamnya. Memancarkan pilar-pilar awan, cahaya, juga api, yang membawa kejayaaan. Pada masa perang tujuh puluh tahun yang legendaris, Raja penyihir putih yang jadi pewaris Tabut merasa hidupnya bakal enyah. Di selatan Edentria, tongkat sakti yang diburu Firaun itu ia sembunyikan, sebelum nyawanya terpanggil ke haribaan Sang Khalik.
Itulah yang jadi sebab mengapa kota Wadd tidak tampak di mata para pengelana. Saking kuatnya energi yang terpancar dari Tabut, Bumi pun menciptakan penolakannya sendiri. Gempa di beberapa belahan duna terjadi, bahkan menjungkir-balikkan Atlantis di belahan bumi sebelah yang tersohor, membuatnya ditelan lautan. Wadd pun menciptakan kabut yang menutupi seantero dirinya, sebagai proteksi Tabut untuk diketemukan dan dikuasai orang yang salah.
Muncullah ramalan yang beredar di kalangan penyihir terbatas. Seribu purnama usai perang tujuh puluh tahun teredam, kota yang lenyap bakal kembali ke peradaban. Ramalan itu sakti. Delapan puluh tiga tahun kemudian, sekumpulan kesatria dari sebuah akademi berhasil mencuatkan kota mati.
Sebuah layar televisi yang menyala nggak cukup menyita atensi Zayneb al-Abyadhi. Perempuan bertudung lebih tertarik memelototi layar ponsel demi game virtual yang dimainkannya. Usianya yang kini menanjak tiga puluh, nggak bikin bacotan seorang pewarta lebih mempesona dibanding perang virtual melawan musuh. Hitung-hitung simulasi, kalau-kalau Wadd mengalami perang lagi.
Itu sebelum kabar dari suara teve bahwa sebuah peristiwa ajaib telah berlangsung di kota penuh gurun.
“Pada hari Jumat kemarin, pukul dua dinihari, gua di salah satu bukit kembar Wadd runtuh. Menurut pengakuan, warga terdekat yang mendengar gemuruh keluar dan mengecek kondisi, tetapi seberkas cahaya memancar tiba-tiba dan membutakan mata ketiganya. Sampai saat ini, ketiga pemuda Wadd masih berada di Edentria Hospital demi perawatan dan penyelidikan lebih lanjut.”
Tayangan beralih dari muka pewarta ke rekaman tayangan rumah sakit yang dipenuhi jejalan makhluk.
Memang, bukan Edentria namanya kalau nggak ada peristiwa ajaib. Tetapi Zayneb tahu, kasus yang satu ini adalah ajaib di atas ajaib. Beberapa hari sebelum ayahnya—Abu Al-Abyadhi—menghilang sebelas tahun yang lalu kemudian ditemukan mengambang di Laut Barat tujuh bulan silam, lelaki itu sedang aktif menyelidiki pasangan bukit yang tiba-tiba muncul dari dua ledakan berbeda. Abu bilang, itu pasti kerjaan Tabut. Benda itu pasti diletakkan di sana. Sebagai keturunan Raja penyihir putih yang tersisa, legenda Tabut menjadi cerita leluhur yang diwariskan turun-temurun. Dan, Abu Al-Abyadhi percaya, satu-satunya yang berhak menemukan Tabut hanyalah keturunan mereka.
Ingatan akan itu membuat Zayneb gemetar oleh antusias dan rasa takut yang tumpah-ruah. Separuh hatinya pun yakin, Tabut memang semestinya cuma jadi pusaka keluarga. Separuh hatinya lagi memberinya kesadaran, bahwa dirinya hanya sewujud penyihir tanpa kemampuan adiluhung. Akan tetapi, jika berita ini sampai ke telinganya, maka penerus penyihir merah pun tahu. Zayneb harus bergegas demi balapan dengan rival.
Pada dini hari, kota Wadd dibabat suhu yang jatuh nyaris menyentuh satu digit derajat Celsius. Bahkan dalam balutan jubah malam dan efek dari ramuan penghangat bernama Yillick, tubuh Zayneb masih bisa merasakan dinginnya udara. Pedang sakti yang mampu melibas nyawa ras mana saja, tergenggam erat di tangan. Lima belas pengikut mengekori di balik punggung, dengan mata bercahaya karena mantra penglihatan dalam kegelapan. Bukit pasir kembar nggak bisa dijemput dengan teleportasi entah kenapa, maka mereka mesti melangkah sejauh lima belas meter lagi.
Sampai gerombolan kuda Zayneb tiba di lereng yang meniupkan sedikit badai pasir, nggak ada aroma kafilah Al-Ahmari yang terendus di udara. Sudut bibir Zayneb naik separuh. Entah ia selangkah di depan karena koloni lawan tertinggal di belakang, atau tim merah nggak cukup berminat buat memburu kesempatan. Satu yang pasti, peluang menemukan Tabut lebih besar baginya dengan keterlambatan saingan.
“Menyebar sesuai rencana.”
Titah itu menggunting kawanannya jadi serpihan yang tersebar. Mereka akan mencari ke seantero penjuru bukit pasir kembar. Zayneb sendiri kebagian menyambangi lokasi yang disinyalir sebagai titik berdirinya tiga manusia yang dibutakan cahaya. Ada selubung aneh yang mencuat di sana, dipasang untuk mencegah manusia konyol lain tiba. Siapa pun yang menyentuh, akan mencelat sejauh lima meter. Ringkikan kudanya membelah sunyi, pertanda sang tunggangan menolak maju. Zayneb meloncat turun. Dibiarkannya kuda cokelatnya menjauh. Kuda itu toh cuma kuda biasa. Untungnya, Zayneb bukan manusia biasa. Dengan serapal mantra, selubung itu enyah dari pandangan.
Reruntuhan telah menutupi mulut gua. Menyisakan lubang sekepalan orang dewasa. Zayneb menggumamkan mantra penghancur, “Aledos!” tetapi tak ada pergerakan sedikit pun. Rapalan mantra diganti dengan pemusatan chakra demi menyingkirkan gundukan pasir.
Namun, sasarannya masih bergeming.
Zayneb yang termakan emosi, mulai gusar. Selagi kepalanya memutar tanya akan mengapa segala jenis mantra dan kekuatan magis tak berlaku di titik ini, ia beringsut maju. Memerhatikan setiap detil yang tersuguhkan di depan mata. Tepat ketika putri Al-Abyadhi melontar gagasan bahwa nggak ada apa pun yang ajaib dari mulut gua yang tertimbun pasir, seberkas cahaya dari dalam liang yang tersisa menyapu matanya. Memang, nggak cukup membuat Zayneb buta seperti tiga manusia dalam berita. Tetapi mengukuhkan keyakinannya bahwa Tabut ada di dalam sana.
Tiga siulan ia laungkan. Memanggil koloninya untuk kembali berkumpul di sumber suara. Selagi menanti kedatangan timnya, Zayneb menumbuk lubang dengan tangan kosong demi membuatnya goyah. Usaha Zayneb nggak sia-sia. Perlahan-lahan, butir-butir pasir runtuh sendiri.
Sayangnya, baru saja bibirnya mau melengkungkan senyum, sebuah tenaga yang cukup kuat dari dalam sana menghela tangannya. Dengan panik, Zayneb merapalkan beberapa mantra, yang nggak memberi pengaruh apa-apa. Tersadar bahwa dirinya berada dalam bahaya, Zayneb mulai meraung. Memberontak. Pemberontakan yang hanya mempercepat tubuhnya terisap.
Ketika akhirnya erangan itu teredam oleh wajah Zayneb yang turut tenggelam pepasir, butiran-butiran keemasan itu jatuh kembali. Perlahan-lahan menutup liang dan hanya menyisakan lubang sebesar kepalan tangan orang dewasa.
Dan dari dalam sana, memancarlah air jernih yang nggak kunjung menemui akhir.
