prompt: “shh … you are safe”
jumlah kata: 494
SEHARUSNYA, Martha ikut bahagia. Seharusnya. Akan tetapi, gadis itu tak bia menolak fakta. Ada beberapa serat keberatan yang tetap bercokol di dada.
Sebelumnya dia malah tidak tahu perasaan itu ada. Perasaan itu baru mencuat saat acara syukuran kelulusan Sunny di ballroom hotel milik ayah Damar, yang mengundang mereka semua.
Seperti bagaimana jantungnya mencelus setiap menyaksikan Zack bersama Bella, ia juga merasakannya ketika melihat Sunny dan Saka mengobrol bersama. Berkali-kali ia menginjeksikan sugesti ke kepala: ini hanya pengaruh sementara dari permintaan izin Sunny kepadanya waktu itu. Bisa juga karena ia iri. Merasa sisi yang diisi Sunny dahulu adalah tempatnya. Sementara kini ia dan Saka bagai dua orang asing yang berbasa-basi ‘hai’, ‘apa kabar’, ‘dan baik-baik saja’. Itu pun karena mereka sedang bersama teman-teman lain. Seolah ada kesepakatan tidak terlisankan di antara Martha dan Saka, untuk berpura-pura akur.
Atau ini efek dari lirikan Tiffany yang selalu jatuh kepadanya setiap kali sang empunya hajatan melibatkan Saka dalam beberapa aksi kecil yang intim. Seperti saat ini, Sunny dengan sengaja mengajak Saka berbicara dengan keluarganya secara khusus.
“Medi, gue ke toilet, ya.” Risi dengan lirikan gadis penyuka ungu yang dikamuflasekan dengan gerakan minum, Martha pikir dia perlu menjauh sejenak.
“Eh, bareng gue aja.” Tiff menaruh kembali gelasnya. Gerakan yang agak buru-buru. “Mau touch up. Yuk.”
Martha paksakan senyum, ikut bangkit dengan berat hati. Padahal batinnya sibuk memaki-maki. Dia senang Tiff dan Putri sudah tak lagi melontarkan kalimat-kalimat yang membuat hatinya panas. Putri memang bukan tipe manusia pendendam. Bagi gadis atlit itu, masalah selesai, kisruh pun kelar. Tapi, lain halnya dengan Tiff. Radar Martha jeli mendeteksi keberadaan udang di balik batu.
Jadi, ia langsung buru-buru merangsek masuk salah satu bilik dengan alasan kebelet, dan sengaja berlama-lama di sana dengan dalih sakit perut.
Namun, Martha menyesali kesalahan perhitungannya. Bukan Tiffany kalau tidak getol menanti. Kerentanan gadis bersurai ungu sama kuatnya dengan barikade pelindung negeri. Bukankah itu juga alasan Tiff diasosiasikannya dengan kuda?
Sewaktu Martha keluar bilik, Tiff masih di sana.
“Sakit perut, ya?”
Martha memaksakan tawa kecil. “Iya, nih. Dasar perut jelata, sekalinya makan enak, langsung bergejolak.”
“Atau kepikiran soal Sunny dan Saka?”
Selain kuda, mungkin di kehidupan lampau, Tiffany adalah seekor anjing polisi.
Martha mengerjap. “Maksud?”
“Saka cerita. Kamu nolak dia dua kali. Kasihan.” Kalau Tiff bilang begini, sudah pasti karena Saka dia interogasi. “Kamu nggak kepikiran, kalau dia sengaja mau bikin kamu cemburu? Seorang Saka kok mau-mau aja dipepet Sunny?”
Seulas senyum dipaksakan. “Nggak. Harusnya aku ikut senang, ‘kan, kalau teman-temanku senang?”
Tiffany mengangguk-angguk. Namun, Martha jelas menangkap ketidakpercayaan dari tatapan matanya.
Sebagai pengalihan, buru-buru Martha mengajak Tiffany kembali. Dia menolak jadi tanah untuk Tiff gali demi secuil informasi pengguyur rasa penasarannya.
Konsekuensinya, sepanjang acara itu berlangsung sampai mereka berpose dalam satu bingkai beberapa kali, Martha menjalani semuanya tanpa ketulusan. Sebab dia sedang sibuk menghibur diri, meyakinkan pikiran juga hatinya sendiri, bahwa langkah yang dia ambil ini sudah yang paling benar. Ia yakin, seperti juga rasa beratnya melihat Zack dan Bella di seberang, segalanya akan luntur bersama jalannya waktu.
