DAHULU, RUMAH KAMI BERDIRI di tepi laut. Benar-benar tepat di tepi laut. Garis pantai berpotongan dengan mulut rumah.
Jika air pasang dan ombak ramai menerjang, dinding kami akan bergetar. Air laut menyusup lewat sela pintu. Menciumi kaki ranjangku, menyapaku sok ramah.
Sudah kuproteskan pada Mama untuk pindah. Laut membuatku tak nyaman. Aku takut kami akan hanyut tidak lama lagi. Terisap ombaknya, atau dirobohkan untuk ambruk bersama rongsokan rumah.
Namun, Mama menolak.
“Sabar-sabarlah. Di sini, kau bisa akrab dengan ikan-ikan. Tidak apa-apa pun hanyut ke lautan, toh, semua kehidupan datang dari sana.”
Dan aku akan membantah dalam amukan tak terarah, tapi Mama tetap bertahan dengan tabah.
Pernyataannya memang tidak salah. Ironisnya, kami justru bisa bertahan hidup karena lautan. Di kala bulan menghilang membawa sebagian air laut membersamainya ke sisi Bumi yang berbeda, ikan-ikan bertandangan. Mengetuk pintu rumah dengan geleparan tubuhnya. Satu-satu kami punguti, sebagian dimasak Mama, sebagian diubahnya jadi uang, sebagian kuajak bicara.
Praktis, aku tak pernah kesepian.
Saat tinggiku menyaingi tiang jemuran kami, penantianku pun berbuah. Rumah kami kemudian bisa digeser ke tanah yang lebih atas. Perasaanku beradukan antara senang dan sedih. Teman sejak kecilku kini kian jauh, menjauhkanku pula dari apa yang Mama sebut sumber kehidupan.
Sayang, Mama tak abadi menyicipi rumah baru kami. Problematika di paru-paru, jantung, dan ginjalnya membuatnya harus diboyong Abang ke tempat lain, tempat berbeton di mana ia dan istrinya mendulang hidup kini. Aku ditinggalkan sendiri dengan udara berbau asin dan terik matahari.
Pada suatu hari yang sunyinya ganjil, saat memandangi lautan dari kejauhan, tiba-tiba air laut itu menggelegak. Semua tetangga berlari keluar dan menyerukan satu kata, “Tsunami!”
Namun, kakiku terpaku. Meskipun air laut naik ke daratan yang lebih tinggi, ajaibnya ia tak lolos masuk rumahku.
Saat amukannya surut, ikan-ikan mengetuk pintu.
Saat menguaknya, aku dihadapkan pada secarik kertas kiriman Abang: “Mama sudah meninggal. Bereskan barang-barangmu.”
Tak ada tangisan, tak ada sedu-sedan. Yang kurasakan hanya kehampaan. Kukemas barang-barang tanpa sanggup memikirkan apa pun.
Di jalan, arak-arakan keluarga dan warga yang bermaksud mengantarkan Mama ke tempat terakhirnya, tampak sangat amat penuh. Dari yang kukenal sampai yang asing di akal. Seolah semua orang datang berduyun-duyun guna apa yang mereka sebut memanjatkan doa bagi mendiang.
Mau tak mau, aku bertanya-tanya ke mana mereka semua saat kami hidup kesusahan. Orang-orang ini seolah hanya memunculkan muka di detik-detik kesudahan. Bersimpati dan bersikap sok peduli.
Abang menyeret tanganku agar berlari lebih lekas. Lisannya sibuk menyeru, “Tunggu! Putri Bungsunya di sini! Kenapa kau letakkan orang lain bersamanya di dalam sana?”
Di tengah lariku memburu mobil Mama—karena Abang bilang akulah yang seharusnya menemani beliau—kurasakan angkasa berbayang. Saat kudongakkan kepala, ikan-ikan berenang di angkasa bagai deretan pesawat tempur. Tak ada yang mengobrolkan keanehan ini. Entah memang itu hal biasa, atau hanya akulah yang menyaksikan anomali.
Derap langkah kami berhasil mengejar Mama. Abang membuka pintu dan menarikku masuk. Orang asing di sisi Mama rupanya sepupuku. Ia menolak turun, dan membuat kami beradu mulut.
Saat itulah seekor ikan besar datang mendekat. Sang penyelamat. Tanpa kepalaku perlu memproses apa-apa, kupahami ikan itu tengah menanti ditunggangi.
Kupeluk tubuh Mama yang terasa lebih ringkih dan rapuh dibanding yang pernah ada, membawanya membersamaiku menaiki punggung sang ikan.
Ikan memelesat secepat laju angin. Kami bersanding bersama gumpalan awan dan kawanan burung. Pelukanku pada tubuh Mama mengerat. Dingin. Jantungku terasa diremas saat memandang wajahnya yang bercahaya. Apakah memang rautnya sepurnama ini? Aku tidak pernah tahu, tidak pernah memperhatikan.
Tiba-tiba, bulu mata Mama yang tebal itu bergerak-gerak.
Aku tercengang sekaligus terkejut untuk sementara. Apa ini namanya bangkit dari kematian? Akan tetapi, kendati detik-detik berlalu dalam antisipasiku, Mama tak kunjung membuka mata. Hanya gerakan bulunya saja yang membuatku percaya, ia akan mendengarkan.
Maka kulahirkan kalimat-kalimat yang telah kukandung selama bertahun-tahun itu:
“Ma, maafkan aku. Aku sudah jadi anak yang suka membantah dan suka menuntut.”
Sebaiknya kita tetap hidup bersama para ikan. Mungkin Mama takkan pernah sakit dan tetap menemaniku di dunia. Kita akan bersama mendulang ikan dari lautan, berpelukan saat ombak mengganas, dan tertawa kala menyisir bibir pantai dengan kaki-kaki telanjang. Aku rela kaki ranjangku dikecupi air asin. Rela bermain hanya bersama ikan sampai akhir masaku nanti.
Aku tersadar kami tengah menuju ke mana. Lautan. Biru telah membentang di ujung penglihatan. Bayang-bayang ikan menciptakan tarian di angkasa berawan. Dan tiba-tiba—aku bersumpah—terdengar suara Mama bergaung dari mulut ikan yang kami tunggangi.
“Tidak apa-apa, Nak. Mama sudah lama memaafkan. Ke depannya, jangan lupa untuk selalu berteman dengan ikan. Selalulah ingat pada kodratmu di lautan.”
