Orang Kecil

#MyWords1 • Orang Kecil
444 kata
Prompt: Rumput Liar


“Mia jaga!”

Lagi-lagi Mia hanya mampu mendesah lunglai. Demikianlah nasib jadi anak bawang yang tidak andal dalam banyak hal.

Tak hanya pelajaran atau olahraga. Bahkan dalam permainan pergaulan, seberapa kuat pun Mia berupaya, sebetapa getolnya ia berdoa dalam kepala, ia selalu dikalahkan dalam suit, hingga senantiasa berakhir jadi sang penjaga.

Mia benci berjaga atau menunggu. Menunggu adalah aktivitas paling membosankan. Tiada yang bisa dilakukan dalam jangka itu, kecuali menggurati tanah dengan lidi, atau menontoni semut-semut berkeriapan membawa serpih makanan.

Sesekali, ia juga ingin ada di posisi teman-temannya. Berlarian panik campur antusias, mencari lokasi yang bisa menyembunyikan diri, agar tidak tertangkap oleh si penjaga yang bukan dirinya. 

Permainan ini tidak pernah seru bagi Mia. Bukan hanya karena ia selalu kebagian jadi penjaga. Tapi juga karena Mia pasti tidak becus menemukan teman-temannya. Di akhir, Mia harus kalah sendirian.

Mia berjongkok di semak belukar. Teman-teman akan tahu jika dirinya mengintip ke mana mereka pergi sebelum hitungannya selesai, jadi Mia menyerah pada opsi itu. Seperti biasanya, ia memetik sehelai daun, merontokkan bagian hijaunya, hingga yang bertengger dalam jepitan jarinya hanyalah rangka pengganti lidi. Dengannya, Mia mengguratkan namanya di atas tanah merah. Dua-tiga ekor semut berlarian kabur dari ujung lidinya.

Kemudian, mata dan telinga Mia menangkap hal aneh. Sesuatu menghempap pendengarannya, memudarkan suara-suara. Hitungan temannya melindap. Saat Mia celingukan, pergerakan dari balik rumput liar menculik atensinya. Mia menajamkan mata, dan—oh? Apa itu?

Satu kepala kecil melongok. Dua kepala. Tidak, tiga—empat—lima kepala! Mereka lebih besar sedikit daripada semut, tapi wujudnya manusia. Semuanya mematri pandangan mereka—mata yang kecil-kecil seperti biji wijen—ke arah Mia.

Salah satunya bersuara, suara yang kecil seperti cicitan, “Ada orang besar!”

Mia mengerjap bingung saat mereka tahu-tahu saja bersujud. Mereka menyembahnya!

Hidung Mia kembang-kempis. Mia tidak pernah dipuji sebelum ini. Namun, sesuatu yang lebih aneh lagi terjadi. Tiba-tiba saja, kepala Mia membesar. Semakin besar, lebih besar, terus membesar. Orang-orang kecil masih menyeru, tapi kali ini bukan lagi pertanda ketakjuban, melainkan ketakutan. Jumlah mereka bertambah banyak, seruan mereka sudah tak bisa lagi Mia tangkap apa. Yang jelas, salah satu dari mereka menyalakan api. Api terbang ke udara seperti petasan, dan mengenai kepala Mia.

Meledak.

Kesadaran Mia lenyap.

Saat Mia membuka mata kembali, ada kaki yang menghadangnya.

“Mia—astaga, kenapa kamu bisa tertidur di atas rumput liar seperti itu? Kamu bahkan mendengkur!”

Anak gadis itu berusaha duduk. Matanya mengerjap-ngerjap. Saat kesadaran menimpanya, lekas ia menoleh ke balik punggung. Teman-teman memandangnya bingung, beberapa tanaman berduri menggaet roknya, menggores kulitnya, tapi Mia mencari hal lain. “Di mana orang-orang kecil itu?”

Temannya yang kebingungan bertanya balik, “Orang kecil apa? Eh, sebentar, yang kamu pegang itu …. Oh, ya ampun! Ini bahaya! Mia, jangan bilang kamu habis makan kecubung?”

Tinggalkan komentar