Radar Hantu

#MyWords02 • Radar Hantu

449 kata

Prompt: Turn Up The Radio and I’ll Go Quickly



Ibu pernah bertanya, kenapa Ayah ragu setan-setannya sudah pergi. Kala itu Ayah pulang dengan rambut gundul sebagian, dicukur keluarga klien yang kesal lantaran Ayah menampar-nampar anak mereka.

“Tapi dengan ini bisa kubuktikan yang meraung-raung itu masih hantunya,” jawabnya bangga. “Mereka pandai berbohong dan meniru. Kita yang harus teliti, mereka sudah pergi atau belum.”

Katanya, Ayah mencoba segala cara. Mengganti mantra, memutar rekaman pembacaan. Bahkan hingga kliennya menjerit-jerit, memaki, memukulnya, atah bersumpah atas nama Tuhan-tuhan mereka bahwa yang menguasai diri kini adalah si empunya raga, Ayah belum akan percaya sampai kepuasan abstraknya terpenuhi.

Sejak saat itu, Ibu mewanti-wanti diriku, menjadi putri seorang pengusir setan berarti harus menerima Ayah meninggal dibunuh keluarga klien.

Pesimisme Ayah baru bisa dihentikan saat aku terbukti memiliki kemampuan khusus. Ini terjadi pada momen tetangga kami menjadi korban kesurupan, hingga aku berkesempatan melihat langsung bagaimana Ayah tampak dua kali lebih tua saat bekerja.

“Hantunya sudah keluar?”

Pertanyaan suami tetangga tentu tidak bisa Ayah jawab dengan ‘ya’.

Melihat pemandangan yang kusaksikan, aku menceletuk, “Kepalanya bertanduk.”

Ayah menoleh dengan ekspresi tertarik. Dicegahnya Ibu yang ingin menggendongku, berjongkok di depanku. “Apa yang bertanduk, Boo?”

Telunjuk kuarahkan pada korban kesurupan, yang tahu-tahu saja memelototiku. Ayah bersegera bangkit seolah semangatnya terisi kembali, mengulang-ulang ritual, bahkan menampar-nampar pipi dan memaki-maki.

Saat aku melapor, “Tanduknya sudah hilang,” barulah Ayah berhenti. Walau kelelahan, ia tersenyum bangga padaku.

Aku resmi diajaknya ke mana-mana. Putri semata wayangnya menjelma pendeteksi ada pun hengkangnya sinyal kegaiban. Awalnya Ibu khawatir aku akan menderita karenanya. Namun, segera kutampik kecemasannya, “Boo senang membantu Ayah.”

Sebab Ayah tidak perlu lagi memukul atau dipukuli. Rambutnya aman selama bekerja, dan tidak perlu ia mati dibunuh keluarga klien.

Ayah memang meninggal tiga tahun kemudian. Bukan karena dibunuh hantu atau keluarga klien, tapi sakit ginjal. Hari-hariku berubah membosankan. Tak lagi kami berkecimpung dengan urusan eksorsisme. Ibu melarangku meneruskan potensi serta apa yang Ayah ajarkan.

Sampai salah seorang teman sekelasku tahu-tahu kesurupan. Semua orang menghela napas lega saat ia tenang usai dibacakan mantra-mantra oleh guru. Akulah satu-satunya yang menangkap eksistensi seekor ular putih masih menungganginya.

“Ularnya masih ada,” gatal, aku menceletuk.

Yang terkejut bukan hanya teman-teman maupun guru. Ular putih pun membelalakkan matanya. Tiba-tiba tubuh yang dirasuki bersuara sarat kegentaran, “Jangan-jangan kau putri laki-laki kasar itu?”

Mungkin ular putih itu mengenal Ayah. “Namaku Boo.”

Ular putih serta anak yang dirasukinya meliuk dan menjerit-jerit. “Ba-baiklah. Nyalakan radio saja, nyalakan dan aku akan pergi dengan tenang.”

Sayangnya, aku tidak membawa rekaman pembacaan mantra-mantra Ayah, tapi aku hafal urutan-urutannya. Aku mulai merapalkan apa yang kuingat. Mataku pantang mengedip walaupun perih membuat putihnya memerah dan air menggenanginya. Kupastikan sendiri, sampai ular putih itu keluar lalu lenyap dari udara.

Selanjutnya, baik aku maupun anak yang dirasuki, sama-sama terkulai lunglai di lantai yang dingin.

Tinggalkan komentar