#MyWords05 • Ibu
Jumlah Kata: 449
Prompt: Mistress
“Singgah ke makam lainnya dulu, ya?”
Sontak, Farid bertanya, “Makam siapa?”
Wajar Farid penasaran. Bella anak tunggal. Mereka baru saja mengunjungi makam ayahnya, kemudian ibunya. Siapa lagi yang ingin diziarahi?
Bella tidak menjawab dengan kata-kata. Diusapnya sekali lagi nisan ibunya, yang belum sebulan ditempatkan di sana. Lembut, ditariknya lengan calon suaminya dan memimpin langkah menuruni lereng.
Mereka berhenti di depan sebuah makam lama. Hanya tanah yang sudah merata. Hanya ada nisan kayu yang ujungnya tumpul dilahap rayap. Hanya satu nama tercoreng di sana: Kusumawati, wafat lima belas tahun yang lalu.
Farid mengulangi tanya, “Siapa?”
Bella tersenyum, tapi matanya memuntahkan air mata. “Ibuku.”
Seingatnya, wanita itu muncul di momen-momen pentingnya, dengan kacamata dan payung hitam. Seolah-olah sedang berduka, entah untuk siapa.
Saat Bella TK, dia bertengger di belakang barisan para wali yang berjaga. Awalnya, Bella pikir ia ibu temannya. Tapi sampai tinggal Bella satu-satunya yang menunggu jemputan Ibu, wanita itu masih berdiam. Seperti patung.
Akhirnya, Bella mengadu pada Ibu. Tanpa menanyakan ciri-cirinya, Ibu panik. Diwanti-wantinya Bella menjauh dari wanita itu.
“Jangan pernah sendirian saat dia ada.”
Bella tidak mengerti kenapa. Ibu juga tidak lagi menjelaskan apa-apa. Ingin rasanya bilang, jika tidak boleh sendirian, bagaimana jika Ibu datang menjemput tepat waktu. Namun, Bella paham, orang tuanya sama-sama sibuk. Itu pula alasannya Bella tidak memiliki adik.
Wanita itu tetap bertandang, tapi Ibu salah. Ia selamanya hanya menjadi patung. Saat Bella menginjak sekolah dasar, perlahan-lahan, kemunculannya tidak seintens sebelumnya. Dia hanya muncul dari belakang kerumunan penerimaan raport, tanpa menerima raport siapa pun. Dalam kerumunan acara kelulusan, tanpa berpose dengan siapa pun.
Saat Bella duduk di bangku SMP, akhirnya Ibu berkisah penuh emosi., “Wanita itu simpanan ayahmu!”
Waktu itu Ayah dan Ibu berdebat sengit entah karena apa. Bella sampai ditanyai akan ikut Ibu atau Ayah, yang Bella jawab dengan gelengan kepala. Syukurlah, setelahnya, mereka kembali berdamai, hingga tidak perlu ada yang tercerai-berai.
Akan tetapi, sejak saat itu, kunjungan si wanita berhenti. Tidak ada lagi patung berkacamata hitam di balik kerumunan berbagai acara yang diikuti Bella. Dan, Bella, entah mengapa, merasa sepi.
Sebulan lalu, ibunya jatuh sakit. Bella harus cuti kerja beberapa hari untuk menemani wanita itu di rumah sakit, sebab ayahnya pun sudah lama tiada. Lalu, ibunya mengajak bicara.
“Wanita itu selingkuhan ayahmu.”
Kalimat yang tidak seberapa mengejutkan Bella.
“Juga, ibu kandungmu.”
Barulah Bella tercengang lama.
Ibu dan ayahnya menikah, tapi tidak kunjung dikaruniai anak. Ayahnya menyelingkuhi ibunya bertahun-tahun dengan wanita yang sama. Wanita itu hamil. Ibunya menolak dipoligami, dan hanya ingin merawat putri itu—anak biologis suaminya, sebagaimana anaknya sendiri.
“Jadi, aku punya dua ibu,” tutur Bella begitu benaknya kembali ke masa kini. “Yang melahirkanku, dan yang merawatku. Tidak ada yang buruk. Aku hanya akan mendoakan mereka tanpa memikirkan kesalahan-kesalahan yang sudah lewat.”
