Padma Nibbana; Dukkha Nirodha

I. di antara genang kenangan, Dia sisipkan:benih rindu dan bibit kelopak yang bersemudari mantra-mantra Semesta; ๐˜ฐ๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฎ๐˜ฆ ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฎmaka, tercuatkanlah; kemelut nan berdenyutdalam kubangan yang dahulunya hampaperlahan,yang tumbuh dari keruh itumulai jerih menyibak makna;kelunakan yang tak mengenal patah,keteguhan yang tak memilih tanahsetiap titis embun menjilati luka,untuk menemukan tempat bersuakadi antara perkara-perkara kekurangan;dukkhaโ€”mencerap kesuramanmenyerap apa-apa yang … Lanjutkan membaca Padma Nibbana; Dukkha Nirodha

Berkelakanlah, Jiwa … Berkekalanlah

Kala hati terlampau layu pasca-tarian kenelangsaan, mungkinkah kau terlupa bahwa sekuntum harapan masih dapat bertunas pada tanah yang retak di peraduan. Saat muram terlalu jauh merayapi batin yang kehilangan, lilin-lilin mungil yang dinyalakan alam dari doa ibu yang kudus di masa silam pun bisa saja ditenggelamkan dari kolam ingatan. Ada masanya kau biarkan gelisah menguasai … Lanjutkan membaca Berkelakanlah, Jiwa … Berkekalanlah

Air Mata Penyair

ใ…คใ…ค๐‘ท๐‘จ๐‘น๐‘จ ๐‘ท๐‘ฌ๐‘ต๐’€๐‘จ๐‘ฐ๐‘น ๐‘ป๐‘ฐ๐‘ซ๐‘จ๐‘ฒ ๐‘ฏ๐‘จ๐‘ต๐’€๐‘จ ๐‘ด๐‘ฌ๐‘ต๐‘จ๐‘ต๐‘ฎ๐‘ฐ๐‘บ, Ananda. Mereka sulap air mata menjadi sekolam tinta, untuk kemudian dibubuhkan pada kertas-kertas tua. Panas dari kedua pelupuknya, tidak lain ialah energi yang menanti, untuk dimerdekakan dalam rangkaian kata. Kertas-kertas itu, kendati tampak lusuh dan terserak, bahkan kadangkala pula kusut masai sebagai penerus sembab matanya, telah berabad menjadi saksi bisu … Lanjutkan membaca Air Mata Penyair