ใ คใ ค๐ท๐จ๐น๐จ ๐ท๐ฌ๐ต๐๐จ๐ฐ๐น ๐ป๐ฐ๐ซ๐จ๐ฒ ๐ฏ๐จ๐ต๐๐จ ๐ด๐ฌ๐ต๐จ๐ต๐ฎ๐ฐ๐บ, Ananda. Mereka sulap air mata menjadi sekolam tinta, untuk kemudian dibubuhkan pada kertas-kertas tua. Panas dari kedua pelupuknya, tidak lain ialah energi yang menanti, untuk dimerdekakan dalam rangkaian kata. Kertas-kertas itu, kendati tampak lusuh dan terserak, bahkan kadangkala pula kusut masai sebagai penerus sembab matanya, telah berabad menjadi saksi bisu … Lanjutkan membaca Air Mata Penyair
