Air Mata Penyair

ใ…คใ…ค๐‘ท๐‘จ๐‘น๐‘จ ๐‘ท๐‘ฌ๐‘ต๐’€๐‘จ๐‘ฐ๐‘น ๐‘ป๐‘ฐ๐‘ซ๐‘จ๐‘ฒ ๐‘ฏ๐‘จ๐‘ต๐’€๐‘จ ๐‘ด๐‘ฌ๐‘ต๐‘จ๐‘ต๐‘ฎ๐‘ฐ๐‘บ, Ananda. Mereka sulap air mata menjadi sekolam tinta, untuk kemudian dibubuhkan pada kertas-kertas tua. Panas dari kedua pelupuknya, tidak lain ialah energi yang menanti, untuk dimerdekakan dalam rangkaian kata. Kertas-kertas itu, kendati tampak lusuh dan terserak, bahkan kadangkala pula kusut masai sebagai penerus sembab matanya, telah berabad menjadi saksi bisu … Lanjutkan membaca Air Mata Penyair