Similaritas

Fiksi Magang Security AstraFF, 2017

Disclaimer: Semua karakter selain Illama Han bukan milik saya

© AstraFF 2017


Tampang lelaki itu memberengut, paduan antara bingung dan curiga. Usai penerimaan murid baru beberapa pekan yang lalu, dirinya dilanda perasaan aneh yang tidak menentu. Seperti memiliki sebuah gagasan, tetapi tak bisa ia tuangkan dalam wujud apa pun. Seperti punya keinginan untuk meluapkan segalanya, namun gentar oleh konsekuensi dan risiko yang akan diperoleh.

“Aku sungguhan harus membuktikannya.” Pemuda itu berujar penuh tekad.

Ia berderap gesit ke arah taman. Kepalanya menoleh kanan-kiri, dan ketika tidak menemukan apa atau siapa yang dicarinya, ia kembali melangkah terburu ke arah lainnya. Malam itu suhu udara terasa dingin, namun pelipisnya dipenuhi keringat tipis. Tampangnya tegang, seperti ingin melamar anak gadis orang.

“Candy!” Seketika ia berseru nyaring, memanggil sesosok hantu bersurai kuning yang sedang asyik terbang. Candy melayang menghampiri.

“Oh, halo, Kak Juan. Ada ap—“

“Kau lihat Celia tidak?”

Sang hantu menggeleng. “Tidak. Eh, tapi coba cari saja di halaman belakang. Sepertinya tadi Kak Celia pergi dengan Kak Jonghee.”

Belum sempat gaung suara hantu Daisy lindap, pemuda itu sudah melesat pergi. Seakan memburu waktu demi menemukan sang gadis incaran.

Halaman belakang tidak seramai taman akademi. Sangat menguntungkan bagi Juan Wind untuk mendeteksi keberadaan objek pencarian.

Benar saja, tidak sampai semenit mengedarkan pandangan, sosok Celia Palmer sudah tertangkap atensinya. Rambut merah muda menyala dan busana loli yang dikenakannya membuatnya tampak mencolok. Sambil mengunci eksistensi gadis Sunrise itu lekat-lekat dalam pengamatan, ia melangkah mendekati Celia yang tengah asyik bercengkrama dengan sang ketua asrama, Kim Jonghee.

“Cel, bisa kita bicara sebentar?” ujarnya serta-merta, menimbulkan rasa heran dalam benak Celia maupun Jonghee.

“Ada apa, Senior? Ada yang bisa Celi bantu?”

“Kau Evelyn, ‘kan?” tuduh sang adam seketika.

Kening Celia berkerut. “Evelyn siapa?”

“Jangan bohong! Kau pasti Evelyn Winter, ‘kan? Mengakulah…”

Celia dirundung kebingungan. Ditatapnya Jonghee lekat-lekat, berusaha meminta bantuan.

“Kau jangan menuduh sembarangan, Juan. Dia jelas-jelas bukan Evelyn. Dia itu Celia Palm—“

“OMONG KOSONG!” Juan gigih menyergah. Dia masih yakin dugaannya akurat.

Satu per satu siswa mulai berdatangan terhisap keributan yang ditimbulkan. Celia mendesis kesal, merasa malu menjadi bahan tontonan. Jonghee menghela napas demi menenangkan hati. Ingin rasanya ia melebarkan mata sang adam biar bisa menangkap betapa berbedanya dua orang yang ditudingnya mirip. Di sisi laij, jiwa ke-ibu-peri-annya mendorongnya untuk tetap tenang dan sabar menghadapi ujian ini.

“Juan, dia ini Celia, bukan Evelyn. Evelyn sudah pulang ke negaranya.”

“Aku tidak butuh jawaban darimu.”

“Celi bukan Evelyn. Celi bahkan tidak kenal siapa itu Evelyn.” Akhirnya, usai menenangkan rasa syok karena dituduh tiba-tiba, Celia bersuara. Juan menatapnya dengan sorot mata menyipit penuh selidik.

“Kau bohong.”

“Celi tidak bohong!”

“Dia tidak bohong!”

“Kau diam saja!”

“Ada apa ini?”

Ketiga suara yang meletup sengit diinterupsi secara tiba-tiba oleh eksistensi dua entitas baru: Illama Han serta Jesamine Skarsgard, dua siswi dari asrama yang berbeda-beda, namun magang di sektor yang sama.

“Kami sedang patroli dan kalian membuat keributan. Ada apa?”

Hal ini tentu enggan dilewatkan oleh Jonghee untuk mengadu. “Juan pemicunya, Ill. Dia bersikeras memaksakan pendapatnya bahwa Celia ini Evelyn Winter.”

“Juan.” Illama berujar tenang. Manik onyx-nya menatap Juan serius. “Kenapa kau bisa berpikir begitu?”

“Ini sudah kuanalisa baik-baik. Dia—“ telunjuknya mengarah ke arah Celia yang masih kesal,”—pasti Evelyn. Aku yakin itu. HEI! Cepat buka topeng penyamaranmu!”

“Kami minta kau tenang, Juan!” Jesamine menyergah. Ingin rasanya ia menimpuk kepala pemuda itu dengan batu bata.

“Kami diberi kewenangan untuk melaporkan siswa yang menciptakan keonaran.”

“Tapi, Celi berani bersumpah aku bukan Evelyn. Celi bahkan tidak mengenalnya.” Celia Palmer berujar, frustrasi.

“Nah. Kau sudah dengar, ‘kan, Juan? Dia bilang dia bukan Evelyn dan berani bersumpah. Lagipula, setahuku, Evelyn sudah pulang ke negara asalnya, bukan? Dia sudah hidup tenang di sana, dan anak ini jelas-jelas bukan Evelyn.” Illama menerangkan.

“Tapi—“

“Tolong terima kenyataan, Juan. Sepertinya kau tertekan usai Yukio dinobatkan jadi staff,” ujar Jonghee—telak.

Satu-satunya makhluk berkromosom XY di dalam lingkaran itu pada akhirnya menghela napas, pasrah. “Aku mengerti.” Ia lalu berbalik badan dengan lunglai. Jonghee benar, dia depresi karena Evelyn menghilang, Yukio menjadi staf dan sederetan masalah lainnya. Sepertinya dia telah kadung hanyut dalam delusi bahwa Celia adalah Evelyn.

“Kita kembali, Jesamine,” titah Illama.

Jesamine mengangguk. Sebelum akhirnya ia berbalik badan dan berseru pada kerumunan massa, “Bubar! Bubar!”

Tinggalkan komentar