Ruangan berpenghuni deretan buku itu menguarkan aroma kertas-kertas tua. Kesenyapan yang ditawarkan mengundang kakinya untuk bertandang.
Seusai menopang diri di sebuah kursi, sepasang iris jelaga itu merayapi sekeliling. Rak buku yang menjulang angkuh. Deretan buku yang tersemat di dalam rongga-rongga almari kaca. Ia nyaris hafal semua judul-judulnya, selalu ingat isi bukunya.
Fokusnya terpatri pada satu titik. Entah nyata, entah maya, entah bau kertas dan penerangan yang temaram itu memberi efek fatamorgana. Namun, sekilas disaksikannya satu sosok mondar-mandir menyisiri deret rak buku. Peci putih di kepala, kacamata bertengger di mata, sosok berwujud lelaki tua itu akhirnya menemukan satu yang dicarinya. Lantas mendekati gadis yang masih terpana, duduk di sebelahnya, lalu berujar, “Kamu sudah pulang? Abi beli buku baru. Kamu harus baca.”
Rasanya suara itu mengiang di telinga. Rasanya bayangan sosok itu melekat di mata.
Bau kertas bercampur debu semakin menguat, lalu semuanya gelap.
Kala mata gadis itu kembali terbuka, bau kertas dan debu itu masih bersisa. Ruangan yang sama. Namun, sosok itu sudah tidak ada.
Sebuah buku terbuka di bawah pipinya, dengan kertas yang basah dan lusuh.
Dan, matanya sembab.
