Prompt: Black
Length: 1163 words
Rembulan adalah satu-satunya objek langit yang mampu ditangkap netra. Dulunya aku bisa melihat butiran gemintang yang tersebar di angkasa, namun sebuah kecelakaan terjadi dan merenggut pelangi dari hidupku.
Aku buta warna total. Kejadian itu hanya menyisakan tiga warna utama untuk mencukupi kebutuhanku: hitam, kelabu dan putih, beserta segala variannya yang di mataku hanya mampu kubedakan lewat gradasi. Untuk dapat menikmati hidup agar santapanku yang lezat sedikit berbeda dengan pepasir atau kerikil yang diletakkan di dalam wadah makanan, aku memanfaatkan memori. Hidup bersama warna lebih lama daripada setelah ia dihapuskan. Setidaknya, itu perlu kusyukuri.
Aku masih berupaya mencitrakan bagaimana warna rum dalam gelas kaca yang berbinar dipantulkan lampu pesta kala sebuah tangan menepuki pundak.
“Jangan lengah. Kita bisa kehilangan sasaran.”
Nyaris aku terbuai akan pesta yang bagiku tak berbeda dengan kumpulan debu muram berbagai ukuran. Mungkin busana yang dikenakan tetamu ramai akan warna, namun di mataku, mereka sama saja dengan patung dan arca yang bergerak. Semuanya kelabu atau hitam atau putih. Seperti tayangan video sekian dekade silam. Seperti foto-foto yang diberi filter grayscale.
Yang kuperhatikan harusnya bukan gempita pesta, busana atau santap malam yang tersuguhkan secara cuma-cuma. Melainkan orang. Tepatnya, orang yang tengah bersulang dengan seorang wanita berambut kribo di depan sana, lalu membisikkan sesuatu entah apa. Tobias Müller, lelaki Jerman yang punya perusahaan mobil, dan cukup berbahaya sehingga harus terus kami awasi kapan ia akan sendirian.
“Dia masih dalam jangkauan mataku,” ucapku sekenanya, lebih memilih fokus pada steak sewarna batu di depan. “Ada tiga orang yang mengawasi. Kalau seorang di antaranya lebih berselera menghabiskan santap malam gratisan ini, kurasa tidak masalah, Theta.”
Theta mendelik. “Sungguh tidak profesional.”
“Terima kasih,” balasku tak acuh.
Kumasukkan sepotong daging ke dalam mulut dan mengunyahnya. Meski berkata demikian, aku tak bisa mencegah atensiku berlabuh pada laki-laki itu. Nyaris aku tersedak kala pada waktu yang sama, sang objek pengamatan melirikku, dan mata kami bertumbukan. Dia mengulas senyum tipis, mengangkat gelasnya lalu kembali mengalihkan seluruh perhatian pada gerombolan perempuan di sisinya.
Untuk waktu sekian detik itu, aku merasa aneh. Jantungku seakan berhenti berdetak.
“Hei, dia bergerak ke sini.”
Kali ini aku sungguh-sungguh tersedak. Cepat kusambar segelas entah apa yang ada di gelas paling dekat dan meneguknya. Rasanya seperti rum yang telah kutandaskan.
Laki-laki itu benar-benar mendekati mejaku, sementara Theta, rekananku langsung berbalik dan menjauh. Jangan sampai kami ketahuan saling kenal.
“Boleh duduk di sini?”
Aku menghadiahkan senyum semanis mungkin. “Sure.”
Dia mendaratkan tubuhnya di depanku, sementara aku susah-payah menahan mual yang tiba-tiba mendera sehingga aku harus menghentikan santap malam yang baru kumulai. Steak-ku masih bersisa, rencananya aku ingin menambah beberapa porsi lagi ditambah makanan lain, namun seleraku musnah entah ke mana.
“Apa dia pacarmu?”
Aku mengerutkan dahi. “Siapa?”
“Laki-laki yang tadi berdiri di sebelahmu.”
“Oh. Bukan.” Tapi rekanku sesama pihak yang akan menghabisimu. “Orang asing. Menggoda-goda seperti orang asing lainnya.”
“Hmm. Ach so. Kau memang pantas digoda. Aku tidak heran. Oh, siapa namamu?”
Aku tersenyum. “Omega.”
“Senang berjumpa denganmu, Omega. Aku Tobias Müller, yang menyelenggarakan pesta ini. Kalau boleh tahu, kau utusan mana?”
“Aku anak buah dr. Mario Wolfrace.”
“Oh, Wolfrace, teman baikku. Kulihat dia tidak hadir di sini.”
Ya. Sudah kubunuh. “Dia berhalangan, jadi aku yang menggantikan posisinya untuk menghadiri undangan. Anda pasti tahu, Sir, kalau dia–”
Telunjuknya bergoyang. “Nein. Panggil Tobias.”
“Okay. Anda pasti tahu bahwa Tuan Wolfrace adalah orang yang sungkan alpa memenuhi undangan.”
“Ja, ja. Itu sudah kebiasaannya. Oh, ya. Maukah kau malam ini tinggal sedikit lebih lama?” tangannya yang berhias cincin penuh batu mulia pada keseluruhan jemari merambati tanganku. “Ada yang ingin kutitipkan untuk Wolfrace.”
Aku tersenyum. Kau hanya membuat segalanya jadi mudah, Müller. “Sure.”
Sesuai permintaannya, aku bertahan lebih lama. Gempita dan keriuhan pesta malam itu berangsur lindap disergap sepi. Satu per satu undangan berpamitan pergi. Menyisakan beberapa orang, hanya ada aku yang mematung di meja paling ujung, Theta yang mengawasiku dari jauh, dan beberapa orang terkenal namun asing di mataku. Pada saat aku mendengar suara berisik dari handsfree yang tersetel di telinga kiri, ekor mataku menangkap kedatangannya.
“Anak tikus mendekati perangkap. Harap perketat pengawasan. Ganti,” bisikku.
“Sudah lama menunggu? Maaf, aku harus membereskan beberapa kecoa terlebih dahulu.” Dia menarik kursi dan duduk di hadapanku. Kali ini minus gelas minuman.
Kulontarkan senyum paling manis yang kumiliki. “Tidak masalah.”
Untuk beberapa saat dia tak berkata apa-apa. Dia menjaga mulutnya tertutup dalam garis lurus yang tipis, dan rambutnya yang panjang sepundak–yang alami coklat cerah tapi di mataku nampak kelabu dan dibubuki dengan putih terang–diikat dan menampakkan dahi yang lapang. Dahi orang-orang cerdas, katanya. Tux yang dikenakan di bahu lebarnya memiliki kancing yang dipoles rapi. Matanya, yang keperakan karena aku tak tahu warna aslinya, menatapku lekat dengan tatapan yang tak terdefinisikan.
“Asal kau tahu, aku jarang memuji wanita pada kali pertama perjumpaan. Namun harus kuakui bahwa kau … mempesona.”
Aku tak bisa mencegah diriku terbahak. “Ya, aku tahu itu.” Itulah yang menjadi senjataku. Itulah kenapa aku yang ditugaskan untuk membunuhmu.
“Apa profesimu?”
“Aku penulis lepas,” dustaku. Meski sama-sama bersifat informan, penulis dan spy jelas jauh berbeda.
“Aku bersumpah kalau kau mau aku bisa menjadikanmu model kelas atas. Kecantikanmu dan postur tubuhmu …” Dia menelitiku dengan tatapan yang membuatku ingin mencongkel kedua bola matanya, “… terlalu sia-sia bila kau bekerja di balik layar. Kau bahkan bisa mengalahkan seorang Miss Universe, Omega.”
Aku terbahak lagi. Pura-pura tersipu. “Aku harus bilang bahwa aku tersanjung atas pujian Anda, Sir.”
“Tobias.”
“Oh, maksudku, Tobias.”
Dia tertawa dengan suara yang renyah dan alami. Alarm di kepalaku mendengking sebagai peringatan agar fokus pada tujuan utama kami ke mari.
“Jadi, apa yang mau Anda titipkan kepada Tuan Wolfrace?”
Dia tersenyum. “Sebentar. Kau ikut denganku mengambilnya.”
“Maaf?”
“Kau …” telunjuknya terarah padaku, “ikut aku mengambilnya. Atau kau keberatan?”
Sekali ku berdeham sebagai pertanda bagi rekan-rekanku di seberang sambungan. “Tentu saja tidak.” Aku bangkit dengan upaya menampakkan rasa percaya diri.
Dia turut berdiri, mengangsurkan lengan untuk kugandeng. Cukup gentleman.
Kami melangkah ke koridor yang nampak lengang tanpa sepatah kata pun keluar dari pita suara. Kewaspadaanku mulai mengular. Kuharap di belakang sana Theta dan Alfa membuntuti kami.
“Tobias?”
Pada detik itu, dia berbalik, menghentakkan punggungku ke dinding yang temaram. Kedua tangannya memagari agar aku tak ke mana-mana.
“Sial. Kau begitu cantik, Omega.” Dia mendekatkan wajahnya pada wajahku hingga bisa kuhidu aroma alkohol yang kuat dari mulutnya. Kala bibirnya menempel di bibirku dan memaksaku membuka, aku masih berpikir apakah aku akan menendang selangkangannya, atau membiarkan dia menjelajahi tubuhku.
Sialan. Ciumannya semakin turun ke bawah, menjarah rahang dan leherku. Sementara itu, tanganku merayapi gaun dan menyeluk sesuatu dari bawah sana. Ketika ia menyibak rambutku, matanya membelalak.
“Apa ini?”
Aku tahu yang dimaksudkannya adalah handsfree yang terjejal di kuping. Dengan santai kujawab, “Itu handsfree. Untuk mendengar perintah dari atasanku. Dan sekarang perintahnya adalah …,” Kutempelkan moncong revolver tepat pada jantungnya. “Membunuhmu.”
Pelatuk kutarik. Pistol berperedam memuntahkan timah panas ke dalam rusuknya, membuatnya limbung. Kusodok dadanya dengan lutut agar tubuhnya tumbang ke belakang, dan kubiarkan hak stiletoku mendarat di lukanya yang mengucurkan cairan anyir, menggilasnya hingga ia mengerang menjemput maut.
Untuk satu hal ini, kusyukuri bahwa diriku buta warna sebab darah manusia bejat sepertinya tiada beda dengan warna sungai yang dicemari limbah.
