Mencuci Diri

Prompt: 3,2,1
Word Count: 523 words

Laki-laki tua di pojok sebuah kios yang nyaris bobrok memandangi keramaian pasar busana dalam diam. Batang kerongkongannya telah perih, suaranya tak lagi jernih akibat menjerit-jerit tanpa hasil sejak pagi mulai merekah. Seperti pedagang lain yang menumpangi pasar ini, si lelaki tua sudah membuka kiosnya begitu mentari mencuat di ufuk timur. Namun sampai tengah hari begini, tak ada satu pun yang laku dari apa yang ia jajakan.

Orang-orang mengunjungi lapak demi lapak. Memilah-milih busana. Menawar-nawar harga. Menyeringai puas. Lalu transaksi terlaksana dan pakaian-pakaian dibawa pulang. Namun kala melewati kiosnya, mereka berlalu seolah ia tiada.

Duduknya menegak kala seorang ibu datang menghampiri tempatnya dengan ragu. Matanya berbinar karena haru. Akhirnya ia dapat pelanggan.

“Pak, moralnya berapa?”

“Tiga ribu, Bu.”

Si wanita merogoh kocek. Uang tersodor, busana diambil.

Sepeninggal wanita itu, lelaki tua berdoa agar ada lagi yang mampir. Namun sampai mentari lenyap disergap malam, tiada selangkah kaki pun yang sudi bertandang. Wanita tadi adalah satu-satunya pelanggan.

Besoknya ia kembali untuk berjualan. Sebuah ide mencuat di pikirannya. Dia memajang harga bagi barang dagangannya yang monogen.

Moral: Rp3000

Dalam hati, dia berdoa agar dengan dipajangnya harga jualannya, akan ada pembeli yang tertarik. Doa yang belum jua menemui pengabulan.

Langkah kaki berlalu lalang di hadapannya. Mata-mata hanya melirik papan harga sekilas, lalu kembali sibuk memilah-milih busana meriah. Lebih parah lagi, beberapa malah tertawa sinis mengolok busana yang ia jual. Kemewahan, kegagahan, kecantikan di kios sebelah laku terjual setiap hari. Mereka rela merogoh kocek sedalam-dalamnya untuk membelinya, namun untuk moral yang murah dan sederhana, tiada sudi. Terlalu kampungan.

Laki-laki tua kembali pulang dengan tangan hampa. Di gubuknya yang telah reput, dia terpekur dalam hening. Matanya memindai kalender yang terlekat di dinding. Lusa akan diadakan pesta rakyat dalam rangka melepas tahun ini dan menyambut tahun baru.

Dia bersimpuh. Memohon pada Dewa agar identitas rakyat negerinya bisa kembali walau hanya semalam saja.

Doanya terkabulkan. Di lapangan luas yang telah dihias, saat malam tahun baru yang meriah dan dipenuhi hingar-bingar, laki-laki tua memajang jualannya pada etalase yang disewa khusus untuk malam ini. Dia rela mengeluarkan kocek hanya untuk mewujudkan mimpi. Orang-orang melewatinya tanpa ada yang peduli. Laki-laki tua membalas dengan senyum yang menampakkan geligi.

Pita diputus. Pesta dimulai. Musik-musik berkumandang. Rakyat bersuka ria. Mereka mengenakan busana-busana kebanggaan. Kecantikan, kegagahan, kesuksesan, kemewahan terlekat di tubuh dengan berbagai aksesoris.

Detak-detik tangan waktu berputar. Tibalah saatnya. Orang-orang yang menunggu mulai menghitung mundur.

“Tiga …”

Tak terkecuali sang lelaki tua.

“Dua …”

Namun bedanya, mereka menghitung tahun yang akan berganti, sedangkan sang lelaki tua–

“Satu …”

Kembang api padam sebelum sempat mencapai angkasa. Terompet-terompet tak jadi dibunyikan. Orang-orang sibuk mencari tempat berlindung dari hujan kepolosan yang tiba-tiba menyiram sabana. Hal yang sia-sia, sebab, sebelum sempat mereka menemukan sesuatu untuk menaungi diri dari guyuran air, pakaian yang melekat di tubuh sudah luruh lebih dulu. Termasuk pula si lelaki tua.

Kala air berhenti mengalir, mereka sudah telanjang.

Laki-laki tua mendahului. Mengenakan moral yang ia jajakan selama ini. Orang-orang yang malu karena semua inchi tubuh mereka tampak sejelas langit malam, berlari mengekori. Disambutnya mereka yang berkerumun demi membeli moral sembari tersenyum gembira, meski hatinya sedikit tercubit. Rupanya moral hanya akan laku bila orang-orang tak punya pilihan lagi.

Tinggalkan komentar