Lapuk Bangku
Prompt: Battery Operation
Words: 952
Dedaunan kering yang terserak melayang sejenak ketika langkah seorang lelaki tua beserta kebitan mantelnya menciptakan desiran angin. Sebelah kaki pria itu sudah goyah, maka dia menopang tubuhnya dengan bantuan tongkat panjang. Dia menoleh ke kanan-kiri demi memastikan tiada kendaraan yang akan berlalu, untuk kemudian menyeberangi jalan menuju kompleks perumahan.
Jalanan itu sepi, hanya ada dirinya dan dua orang lain yang melintas. Mata tuanya menangkap deret angka yang tertera di jidat masing-masing mereka kala berpapasan. Dua anak muda, yang satu 65% dan temannya 89%. Pria tua itu meretas senyum menyapa, sedang kedua orang yang ternyata sepasang muda-mudi itu menatapnya dengan terkejut, sebelum akhirnya meredup dan … bisa dia lihat tatapan mereka meralih jadi rasa iba.
“Ada yang bisa kami bantu, Sir?” tawar sang pemuda. Gadisnya hanya mengangguk, berdiri di sisi tubuh yang lain dari lelaki tua.
Lelaki tua itu mengekeh sungkan. “Oh, tidak. Tidak ada yang perlu dibantu. Aku baik-baik saja, terima kasih.”
Kalimat itu tak kunjung melungsurkan sorot iba dari binar mata dua orang muda. Melalui isyarat mata, keduanya saling berdiskusi.
“Eum …, bagaimana kalau kami temani Kakek sampai tujuan?” putus sang gadis. “Oh, namaku Rose Midleton, dan ini Peter Jefferson. Siapa nama Anda?” lanjutnya sembari menggamit lengan lelaki tua untuk diajaknya melangkah bersama.
“Aku James Wildblood,” jawab lelaki tua sembari terkekeh lagi. “Kalian anak-anak muda sangat bersemangat, jarang kulihat yang seumuran kalian mau membantu orang tua sepertiku.”
Peter menyahut. “Kami hanya melakukan apa yang harus dilakukan, Sir. Anda hendak pulang ke rumah?”
“Ya …, aku harus memberi makan tupai-tupaiku. Aku tinggal bersama sebelas ekor tupai,” ungkap James dengan bangga.
Ketiganya melalui jalanan setapak yang dipenuhi tumpukan daun kering di depan rumah berpagar tinggi. Pemilik rumah, atau tukang kebun mereka pastilah sosok pemalas yang tidak mau bersusah-payah menyingkirkan tumpukan itu karena nantinya akan kembali kotor, pikir Rose. Lagipula di musim gugur, jalanan yang terjejali dedaunan dapat ditemui di mana-mana.
“Oh, Diana!” seru James pada sosok wanita yang barusan menyembul dari balik pagarnya. Kekhawatiran nampak jelas dari rautnya kala ia melihat lelaki tua itu beserta dua anak muda yang mengapit. Sementara itu, Rose bisa melihat angka 65% yang tercetak di dahinya yang terpolesi serbuk bedak.
“Mr. Wildblood,” balas Diana kala tubuhnya benar-benar keluar. Dua bola matanya membeliak saat melihat dahi lelaki tua yang sebagian dipalangi topi lebarnya, namun sekejap kemudian ia berusaha menguasai diri. “Siapa anak-anak ini?”
“Mereka anak-anak baik yang kutemui di jalanan, bermaksud mengantarku pulang.” Suara kekehan James yang agak serak terdengar lagi. “Mau ke mana kau, Diana?”
“Oh. Aku tadinya mau ke pasar, tapi kuurungkan. Aku ingin turut menemanimu bersama anak-anak ini.” Dia tersenyum lemah pada kedua anak muda.
“Baguslah, baguslah kalau begitu.” James memamerkan senyumnya yang paling lebar. “Tapi kalian harus tahu bahwa aku tidak punya cake di rumah untuk disuguhkan.”
“Tidak masalah, Sir.” Peter menyergah dengan sungkan. “Kami hanya ingin bertukar kisah. Atau mungkin … Anda punya anak-cucu yang–”
“Tidak, tidak ada.” Suara James terdengar muram. “Mereka semua tinggal di tempat lain. Ayo kita pergi ke rumahku. Mudah-mudahan ada sisa teh dan kopi.”
Hunian James Wildblood berjarak dua rumah dari kediaman Diana. Melalui foto-foto yang terpajang di meja dan dinding, Rose dan Peter tahu bahwa lelaki tua itu adalah pensiunan tentara. Dia dengan bangga menuturkan kisah-kisah kala kegagahan masih menggelayut di raga. Cacat kakinya diidap saat bertugas di Pakistan, berpuluh tahun silam, sebagai akibat dari sebuah ledakan. Cacat itu yang membuatnya harus mengambil pensiun dini dari pekerjaan.
Ketika lelaki itu masuk ke kamarnya untuk mengambil setumpuk album kenang-kenangan, Rose dan Peter tahu dari Diana bahwa lelaki tua itu, ditinggalkan oleh keempat putranya selepas istrinya wafat tujuh tahun yang lalu. Sejak saat itu James Wildblood hidup seorang diri. Hanya kadang-kadang Diana dan putrinya datang membantu.
Rose baru saja ingin mengumpati tingkah putra tak tahu diuntung itu kala James kembali dari kamarnya.
“Ini foto-fotoku. Aku selalu bangga memperlihatkannya kepada orang-orang. Sayangnya, aku tidak punya tamu selain Diana dan Riana sejak bertahun-tahun yang lalu.” James tergelak namun matanya nampak getir. “Ya … ya … silakan dilihat.” Dia mendaratkan tubuh di kursi goyang dekat sofa tunggal yang ditempati Peter. “Oh, jangan lupa tehnya diminum, ya.”
Berulang tanya dan jawab yang remeh berlangsung di antara mereka. Sampai beberapa saat telah berlalu, Diana bangkit dan berlutut di sisi James, Rose berkali-kali mengusap mata dan hidungnya, sementara Peter banyak menunduk.
“Hei. Kenapa kalian murung dan menangis?” Suara James terdengar parau. Dia sempat terkekeh sejenak. “Ceritaku tidak sesedih itu.” Tangannya terangkat. “Kemarilah, Peter, Rose.”
“Apa … apa ada sesuatu yang bisa kami bantu?”
“Ya … ya.” Kepala James terangguk-angguk. Punggungnya ia biarkan tertopang pada sandaran kursi yang terus berayun pelan. “Tolong tutup gordennya, Peter. Rose, nyalakan lampunya.”
Pada saat keduanya kembali berlutut di sisi James, Rose dan Diana kian terisak.
“Hei, hei,” kata James. “Aku tahu semua. Aku tahu kalian semua orang-orang murah hati. Aku tahu Rose, bahwa kau dan Peter sengaja menawarkan diri untuk menemaniku karena melihat presentase hidupku yang bersisa nol koma sekian persen.” Suara lelaki itu kian parau, napanya merengap, dan ia nampak susah-payah bersuara. Matanya menjalari wajah-wajah di sisi dengan lekat, seakan ingin mengkristalkan mereka dalam memori yang singkat.
“Aku ingin menunjukkan sebelas tupaiku kepada kalian, tapi kakiku kebas.” Dia terkekeh dengan suara yang hilang-timbul. “Diana, kelak, tolong kembalikan saja tupai itu ke toko peliharaan di depan bank. Kalau kau ingin memungut pembayaran, silakan.”
Sementara ketiga orang yang duduk di sisi kursi goyangnya dengan bertumpu pada lutut itu hanya bungkam, James menarik sudut bibirnya. “Terima kasih, sudah bersedia menemaniku hari ini.”
Lelaki tua menghentakkan napas. Tubuhnya menegang sejenak. Lalu hening menyusup, hanya ada suara isak tertahan dan detak detik jam dinding tua yang menempeli dinding. Kala matanya terpejam, tetesan air yang sedari tadi ditahannya bergulir. Ayunan kursi goyang memelan dan berhenti. Ketiga orang, yang bukan siapa-siapanya menangis dan saling berpelukan.
