944 kata
Prompt: Pupil
Para pujangga sering mendeskripsikan cinta dengan berbagai gejala. Bila virus merah muda telah mendera, maka matahari akan jadi mentari, bulan bakal bertransformasi jadi rembulan. Seisi dunia terlihat lebih berkilau daripada yang sesungguhnya. Jantung berdetak lebih cepat. Otak menebak-nebak, menarik setiap garisan Semesta sebagai pertanda bahwa Ia pun merestui rasa yang sedang melanda hati.
Namun seiring berjalannya waktu, bukankah gejala-gejala itu sudah terlalu apkir, kolot, dan pujangga perlu mencari pertanda lain bagi pesakitan cinta? Misalnya dengan mengadopsi apa yang kualami.
Tanda-tanda wabah ini hadir begitu saja, tanpa prediksi, tanpa estimasi. Ia tak menerima segala respons penolakan, atau mungkin memang aku lah yang lemah hingga tidak kuasa menolak. Jantungku bukan hanya berdebar cepat. Berikutnya ia terjun bebas dan kehilangan degupnya sampai kurasa aku telah sekarat. Lalu aku akan gegas menjadi arca, seolah matanya dan mata Medusa adalah hal yang padu.
Ya, matanya.
Biru matanya ialah lautan keramat. Dipenuhi energi sihir yang mampu menjerat seluruh ototku sampai tak bisa bergerak. Dia tidak perlu tersenyum, menepuk pundak, membakar saputangan, atau memutar liontin untuk menghipnotisku. Cukup kedua permatanya yang bergulir ke arahku, maka aku akan hanyut.
Tubuhku memerlukan guncangan agar kewarasanku dapat kuraih kembali, dan saat itu aku tersadar di mana dan sedang apa. Laboratorium dengan berbagai preparat awetan berjajar di sekitar. Setetes ingus manusia dalam tabung pembuluh kaca tergenggam di tanganku, yang tidak cukup kukuh sehingga perlu ditopang dalam kuasa topangan Erisa. Kalau tiada gadis berkulit hitam yang kini memandangku dengan sorot bertanya, tabung itu telah jatuh dengan isinya yang bercecer di lantai pualam. Tanpa bertanya aku kenapa atau apa yang terjadi, gadis itu kembali bergelut bersama pekerjaannya sendiri: botol yang menampung beberapa mililiter urin untuk diteliti. Sementara sang pelaku utama, penghipnotis keparat yang sudah lancang membuatku linglung di tengah pekerjaan itu telah berlalu, berbalik, sehingga aku hanya mampu menatap punggungnya yang berdegap.
Lelaki itu tidak pernah berkata apa-apa padaku selain hanya sapaan dengan nada konstan, Selamat pagi, Selamat siang, atau Selamat sore. Itu pun tak khusus bagiku pribadi, namun untuk seluruh pekerja lab yang berjumlah delapan jiwa. Suaranya enak didengar. Tipe suara yang bila berdeklamasi akan menggaet sejuta wanita.
Jelas aku pun tidak mengharapkan apa-apa. Aku tidak berharap suaranya melirihkan namaku atau kami bertukar kisah. Aku tidak berharap matanya akan benar-benar tertuju padaku, sebab aku tahu segala energiku akan terhisap bila ia berpijak di depanku.
Namun semesta menawarkan hal itu tanpa perlu kupinta.
Aku ingat kala petang telah bertandang dan menyulap langit menjadi jingga yang aneh oleh selubung mendung, ruang kerja kami telah hampir dikosongkan. Menyisakan aku dan dua rekan lain yang masih berbenah, lalu saling bertukar sampai jumpa. Langkahku berlabuh pada arena parkiran yang ramai oleh kendaraan yang menyala sebelum pelan-pelan merayap pergi hingga kembali sepi. Rintik hujan di luar terdengar menderas.
Terlontarkan dalam kepala, keputusan bertahan sebentar lagi untuk menunggu hujan reda. Tetapi semua alur pemikiran terhenti saat sosok menjulang di sisi, lalu penyakitku kambuh untuk kedua kalinya hari ini. Aku; seorang gadis yang mematung di parkiran yang sunyi, mencoba sepenuh tenaga agar tidak langsung menatap matanya saat namaku keluar dari pita suaranya.
Dia ingin bicara. Jantungku sudah memasuki tahap berdegup sampai aku sesak napas. Sebentar lagi degupannya akan lenyap dan aku akan lupa bahwa aku adalah manusia yang hidup, bukannya patung batu.
Aku tergeragap menimpali. Dia menanggalkan helmnya, dan aku mulai kesulitan menarik napas.
“Apa kamu benci saya?”
Seluruh syaraf motorikku enggan berkompromi dengan apa yang sejak tadi tertitah dalam benak, Jangan melihat matanya! Yang terjadi adalah kami bersitatap. Matanya yang selama ini kuhindari memberangus mataku dalam cengkraman masif. Sebuah kekuatan tak kasat mata memasak kakiku di tempat. Kini aku tidak bisa meraba ke mana napas dan degup jantungku direnggut pergi. Aku telah menjadi arca secara total.
Sentuhan tangannya di bahu menyetrum. Ini adalah sensasi yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Selama ini tahapannya hanya berakhir pada aku yang menjadi patung batu oleh laser matanya, lalu ia berlalu dan aku tersadar oleh stimulus dari orang sekitar.
Pada detik berikutnya aku merasa bobotku tak lagi dikuasai gravitasi. Aku terapung. Pendar biru matanya bukan lagi laser, namun lautan yang membuatku ingin menyelaminya lebih dalam, mencari tahu apa saja yang ada di lubuknya. Tiada ikan di sana, hanya aku dan lautan biru yang luasanya tak terperi. Aku berenang semakin dalam, kian dalam, sampai menyentuh dasar.
Ketika aku tersadar, aku mendapati tubuhku nyaris tenggelam. Tangan dan kakiku dililiti belukar keji yang mencegahku pergi. Napasku nyaris habis. Aku menggapai-gapai. Lautan ini bukan milikku. Tolong, teriakku, keluarkan aku dari cengkraman ini, keluarkan aku dari nafsu ingin menyelaminya lebih dalam! Seseorang, siapapun. Aku akan mati di dalam sini.
Lalu aku mendapati dinginnya hawa akibat hujan atau lautan imajinerku terhalau sesuatu yang hangat. Dia meraih tubuhku dalam satu pelukan erat. Kehangatan ini tidak normal, pekik batinku lagi, inilah percikan api neraka yang siap membakarku bila aku tak bersegera melepaskan diri.
Aku memberontak, dan dia melepaskan pelukannya. Kepalaku menggeleng tegas, air mataku mengalir deras, sederas hujan yang tak juga pergi. Aku tidak bisa, bisik batinku yang lenyai.
Dia bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku tidak baik-baik saja. Aku terperosok dalam samudera asing milik perempuan lain, dan tenggelam di dasarnya. Perlu daya yang sangat kuat untuk bisa menahan diriku menuruti hasrat iblis, yaitu menyelamimu lebih dalam lagi. Jangan mendekatiku lagi. Aku baru akan membaik bila kau pergi. Pergilah, kembali ke rumahmu dan bawa lautanmu, tempat semestinya kau berada bersama istri dan anakmu.
Kudorong dadanya menjauh lalu menyalakan motorku. Aku tak boleh berada di sisinya lebih lama lagi. Cinta ini tidak normal. Semua ini tidak boleh terjadi. Roda-roda membawaku melaju menembusi tirai hujan yang dinginnya menusuk tulang. Setidaknya dingin air ini hanya akan membuatku terjangkit virus influenza, bukannya virus cinta, apalagi virus cinta yang akan menoreh luka di hati orang lain.
