Kemustahilan yang Mungkin

875 kata
Prompt: Plausible


Bila ada kompetisi bagi orang Indonesia yang tidak pernah percaya pada kekuatan gaib, entah Hantu, Iblis, Dewa, atau bahkan Tuhan sekalipun, maka piala nobel mungkin telah diberikan pada Rani.

Di tengah kisruh manusia yang saling bakudebat Tuhan siapa yang paling benar, Rani yang tak mengimani apa-apa, justru lebih tertarik membaca kisah hidup dan penderitaan Einstein. Buatnya, apa yang tidak terjangkau oleh nalar dan tak bisa diindra adalah hal yang diragukan esksistensinya.

Telinganya sudah sering menangkap cemoohan tetangga yang mengatai dirinya kafir sebab tak pernah mengunjungi rumah ibadah mana pun. Mereka bilang Rani menyalahi sila pertama Pancasila; Ketuhanan Yang Maha Esa.

Rani, dalam kehidupan perantauan menganggap semua ceramah itu sebagai dengung lalat semata. Kadang ia malah menertawakan para pencemooh itu. Ini bisa menjadi hiburan bagi hidupnya yang hambar. Dia bersyukur kedua orangtuanya hidup di wilayah lain, terlalu sibuk mengubah lahan kelapa sawit mereka menjadi gumpalan emas, sehingga tak akan dipusingkan oleh komentar masyarakat debil.

Fenomena kemunculan hantu di lingkungan kampus adalah hal yang lumrah terjadi. Di kampus Rani, mereka mengenal eksistensi sesosok hantu legendaris yang menghuni danau kampus dan laboratorium yang sering digunakan oleh departemen Rani.

Tentu saja, dia tidak percaya. Mereka pasti mengada-ngada, membuat desau angin, pergerakan benda yang tak sengaja disenggol, dan suara kucing menjadi sebuah kisah mistis agar bisa mempermainkan rasa takut orang lain. Poin pertama berpikir realistis ala Rani: hantu tidak ada, dan poin keduanya: bila hantu muncul, kembali ke poin pertama.

Malam itu, Rani menemukan ending atas konsistensi pendapatnya.

Kuliah berakhir setengah jam yang lalu, namun Rani masih bertahan dalam kekukuhan menyelesaikan segala preparat dalam laboratorium sepi. Lima menit yang lalu, security menghampiri ruangannya, hendak memadamkan lampu, namun urung kala melihat Rani masih berada di sana. Gadis itu bahkan tak mendengar bahwa sang satpam tadi memperingatkannya agar lekas pulang, ruangan ini tak aman bila malam semakin larut. Kalau mendengar pun, dia tidak akan peduli. Tak ada yang dia takuti di dunia ini, kecuali kelabang dan kecoa terbang.

Saat sedang berkemas itu lah apa yang tidak diinginkan Rani terjadi. Seekor kelabang mencuat, menggeliat, merayap di dekat kakinya, membuat gadis itu melompat panik ke atas bangku. Tak cukup sampai situ, tiga ekor kecoa terbang ikut muncul, salah satunya bahkan sempat hinggap di rambutnya sebelum kembali mengitari udara.

Rani meliuk panik sementara matanya tertutup, bagai tengah dipengaruhi kuasa mantra tarantallegra, berusaha menyingkirkan kecoa sialan itu dari anggota tubuhnya. Dia tidak tahu bahwa kecoa itu sudah terbang, bergabung bersama temannya untuk menontoni dance Rani yang tidak beraturan.

Gerakannya baru terhenti setelah ada suara gedebak-gedebuk di dekatnya. Ketika Rani membuka mata, ia menemukan seorang pemuda yang melotot garang pada kecoa-kecoa yang kemudian terbang menghilang, sementara sang kelabang sudah terlebih dahulu hengkang. Cowok itu berbalik, mengagah Rani dengan kikuk.

“Sudah pergi kok, kecoanya.”

Rani menjawab sama kikuk. “Eum. Makasih.”

Jeda beberapa menit dimanfaatkan Rani untuk meneliti cowok asing dalam balutan kemeja putih. Kulitnya pucat, seolah tiada darah yang mengaliri permukaannya. Dia memiliki rambut hitam yang lurus dan disisir rapi ke balakang.

“Anak departemen mana, ya? Saya belum pernah ngelihat kamu sebelum ini.”

Si cowok memandang Rani dengan tatapan ‘Apa kamu bercanda?’ hingga gadis itu bertanya-tanya apa yang salah dari pertanyaannya. Alih-alih menjawab, pemuda itu malah tertawa, jenis tawa yang membuat kedua matanya jadi seperti bulan sabit.

“Lho? Kenapa? Pertanyaan saya salah, ya?”

Tawa si pemuda surut. “Kamu serius nanya begitu?”

“Maksudnya?”

Cowok itu geleng-geleng. “Nggak. Sudah, ya. Saya pergi dulu.” Lalu dia melaju mendekati pintu, berhenti sejenak. “Nama saya Arief. FEB.” Dan benar-benar keluar dari liang pintu yang gulita.

Rani masih merenungi sosok lelaki tadi yang dirasanya agak aneh, entah kenapa, kala sang satpam muncul tiba-tiba dengan ekspresi betulan garang dan membentak, “Dek, ini sudah belum? Saya mau ngunci pintunya, nih!”

“Oh … iya, Pak.”


“Arief anak FEB?”

Rani mengernyitkan dahi. Respons Tara dan Tiara, sahabat kembarnya, nampak berlebihan di matanya. Keduanya menatap Rani dengan pandangan yang menyiratkan rasa kaget dan … takut?

“Iya. Lo kenal nggak?”

“Ma-maksud lo, Arief Hibatullah anak Manajemen, atau Muhammad Arief Rukmansyah anak Akuntansi?”

Rani ragu. “Gue nggak tahu. Kalau lihat orangnya baru gue kenal.”

Tara dan Tiara saling bersitatap. Seolah melontar diskusi lewat isyarat mata.

“Kalau Muhammad Arief,” Tara menunjuk ke gerombolan mahasiswa yang sedang duduk di bawah pohon. “Itu, yang duduk mangku laptop.”

Kepala Rani mengikuti arah tunjukan. “Bukan. Kalau yang Hibatullah?”

Kedua kembar kembali bertukar pandang. Lantas Tiara mengetikkan sesuatu di ponselnya, dan menyodorkannya di depan mata Rani. “Lo baca deh, Ran.”

Rani menerima dengan bingung. Bola matanya bergulir membaca kata per kata yang tertulis di layar, serta foto yang terpampang jelas di sana. “Nah, ini! Tapi kok? Masa dia udah meninggal dua bulan yang lalu? Nggak-nggak. Jelas-jelas semalam gue ngelihat sendiri dia ada di depan gue. Ngaco ah, lo!”

“Lo ketemu hantunya, Ran. Anak-anak emang sering lihat dia berkeliaran di kampus.”

“Nggak.” Rani bersikeras. Otaknya memutar kembali adegan semalam. “Dia emang kelihatan pucat tapi nggak ada yang an—Oh, My!” Seketika tercetak jelas di kepalanya, apa yang membuat Rani merasa janggal. Sosok Arief yang ditemuinya semalam itu, tidak berkaki.

“Ran?”

Rani menyadari bahwa dua poinnya kini tak lagi berlaku. Dia telah berjumpa sosok hantu, setan, atau makhluk gaib itu, dan sosok itu sungguhan ada. Hantu itu bicara padanya, dan hawa dinginnya pun terasa nyata. Entah ini kemungkinan yang mustahil, ataukah kemustahilan yang mungkin terjadi.

“Tar, pegangin gue, deh. Gue rasa gue mau pingsan.”

Tinggalkan komentar