Prompt: Gajah
Word Count: 867
Sejarah. S-E-J-A-R-A-H. Apa yang terbersit dalam benakmu ketika mendengar atau membaca kata itu?
Peristiwa perjuangan dalam mengejar kemerdekaan Indonesia? Revolusi Perancis? Insiden peledakkan bom atom di kota Nagasaki dan Hiroshima?
Sebagai seseorang yang tak doyan mengupas masa lalu, aku menjauhkan diri dari mata pelajaran ini. Maka ketika menginjak bangku kelas sebelas kupilih jurusan yang lebih eksak, IPA, untuk bisa terhindar dari sejarah dan tetek-bengeknya, meski Mama-Papa lebih setuju aku bergelung bersama pencatatan, pelaporan keuangan, untuk bisa bekerja sebagai seorang akuntan.
Siapa sangka mata pelajaran sejarah terselip di mana-mana? Ia menjelma ke dalam beragam corak dan rupa, seperti Sejarah Penemuan Elektron, Sejarah Perkembangan Ilmu Biokimia, dan lainnya. Ini berlangsung bahkan ketika aku menanjak ke bangku perguruan tinggi. Ia membuatku geregetan sebab setiap kali memperoleh pembahasan atau mata kuliah baru, selalu dan selalu aku bertemu dengannya. Kadang aku berandai bila sejarah menjelma menjadi sesosok makhluk hidup, maka setiap kali kami berjumpa ia akan nyengir ke arahku dan melambai, “Hai, kita bertemu lagi.”
Sikap antipatiku terhadap sejarah dan aktivitas mengulik masa lalu sudah mendarah daging, bahkan dalam hubungan asmara. Bertemu mantan kekasih adalah hal terakhir yang akan aku lakukan semasa hidup. Masa laluku yang nista kadangkala membuatku jijik pada diriku sendiri. Lebih baik kututup rapat-rapat semua kisah yang telah berlalu dan menyongsong mentari yang bersinar cerah.
Namun, hari ini, mendung lokal menggelayuti angkasaku. Ia menghadirkan wujud badai dalam sosok mantan pertama yang berdiri tegap di depan mataku, tersenyum tenang ketika berkata, “Selamat pagi, Teman-teman. Saya asdos-nya Pak Rahmat. Nama saya Tora Bagaskara, mulai hari ini dan seterusnya kita bakal sering ketemu, karena saya turut membantu beliau dalam mengajar apabila beliau berhalangan.”
Seisi kelas mendadak riuh. Sementara aku mematung karena takjub. Bukan hanya tercengang karena bisa menjumpainya dalam ruang kelas sebuah universitas yang jaraknya ratusan kilometer dari kota tempat tinggal kami dahulu, tapi juga karena penampilannya yang sangat kontras.
Sebenci apa pun aku akan masa yang telah berlalu, tidak mungkin salah ingat alasanku berpacaran dan putus dengannya. Dia adalah kakak kelas yang cerdas dan aktif dalam berorganisasi, itu jadi alasan aku menerimanya begitu ia menyatakan perasaan. Teman-temanku memprotes, “Kamu berhak mendapat cowok lain, Shin. Kok milih si gajah?”
Secara fisik, dia memang di bawah standar. Muka hitam dekil, badan gendut dan di masa hormon sedang aktif-aktifnya, bau ketiaknya sering menguar setiap pulang sekolah, membuat anak-anak menjulukinya ‘Si Gajah’.
Tapi aku punya alasan tersendiri. Kumanfaatkan ia sebagai guru les gratisan. Dia pun dengan tulus ikhlas menjalankan peran.
Semakin waktu berlalu, aku bosan. Beberapa teman yang jauh lebih tampan daripada dirinya mendekatiku, dan kurasa aku memang sudah cukup menyerap ilmunya. I deserve better.
Tepat setelah penerimaan rapor semester itu, kuputuskan dia. Selepas itu kabarnya tak lagi terdengar, selain berita dia pindah sekolah ketika libur akhir semester selesai.
Tetapi Tora Bagaskara yang berdiri di depan kelas dan memperkenalkan dirinya sebagai asisten dosen bukan Tora yang hitam, dekil, gendut. Dadanya bidang, perutnya rata dan terlihat padat, yang jelas kutahu bukan hasil latihan yang sebentar. Untuk mengubah timbunan lemak menjadi otot-otot yang terbentuk sempurna, tentu telah dia kerahkan usaha yang keras dan sungguh-sungguh. Posisiku pun tak cukup dekat untuk bisa menghidu apakah ia berbau ketiak atau tidak. Namun aku yakin tidak. Teman-teman di deret pertama tak terlihat mengernyit jijik atau menutup hidung.
Sebentar, Pemirsa. Kenapa aku malah memperhatikan tubuhnya dan bukannya menyimak apa yang dia sampaikan?
“Shintya, ada pertanyaan?”
Saat itu, baru kusadari aku menggeleng terlalu mencolok demi membuyarkan pemikiran akan lemak gajah yang bertansformasi jadi otot gagah.
Mataku berkedip kaku. “Eum. Tidak, Kak.”
Aku terpaku ketika matanya dan mataku beragah, dan kalau tak salah kutangkap, ia menyeringai.
Hanya sekilas.
“Baiklah. Kita lanjutkan pada pertemuan Minggu depan. Jangan lupa tugasnya, ya. Ini titipan Pak Rahmat, soalnya. Selamat pagi.”
Kelas bubar. Begitu sosoknya keluar, aku langsung memburu Olivia. “Liv, Liv! Tugasnya apa?”
“Kamu tadi nggak merhatiin?”
Aku nyengir malu. “Aku ngantuk,” dustaku.
Olivia menatapku penuh selidik, lalu membuka bindernya untuk kusalin.
“Makasih.”
“Bentar.” Tangannya menahan lenganku. “Dari mana Kak Tora tahu namamu?”
“Hah? Dari presensi, lah.”
Keningnya berkerut.”In case you forget, Shin. Tadi Kak Tora sama sekali nggak ngabsen. Daftar presensi disebar buat ditandatanganin.”
Extra double jumbo venti shit! Bagaimana bisa aku melupakan hal sekrusial itu? Ditambah lagi, gadis di depanku bukan tipe orang yang akan cepat puas akan sebuah kebohongan. Dia mudah penasaran.
Aku berdeham sebagai sarana mengulur waktu. “Oh, itu. Mungkin dia kenal aku?”
Olivia menatapku tak percaya.
“Oke, oke.” Aku menyerah. “Dia kakak kelasku dulu.”
“Deket emang? Kok bisa masih ingat?”
Seketika aku menyesali jawabanku tadi. “Eum … lumayan.”
“Sedekat apa?”
Wonderful, amazing, fantastic, magnificient, luar biasa. Tidak, kadar kekepoan Olivia sungguh ruarrr biasah! Tak tanggung-tanggung, dia akan mengupas tuntas sampai seluruh serabut tercabut, bahkan akar-akarnya.
“Kepo ah, kamu.” Tawa sumbangku keluar. Proses menyalin perintah tugas telah selesai. Kukembalikan bindernya. “Yuk, pulang!”
“Sedekat apa?” ulangnya penuh penekanan. Dan kalau aku tak lupa, Olivia akan menjauhiku bila aku menolak berkisah. Bagaimana pun, dia teman pertamaku di kampus ini.
Untuk menghela napas pun aku merasa berat.
Pertama kalinya dalam hidup, aku melanggar apa yang selama ini kuikrarkan. Kukorek masa laluku untuk kemudian dikabarkan pada seorang teman. Dan yang lebih parah lagi, ini adalah kisah terpurba dari zaman paling jahiliyah yang sempat membuatku malu sampai bertahun-tahun.
Meski demikian aku memang tak menampik, bahwa sang gajah memang telah berevolusi jadi gagah.
