As Sweet as a Birthday Cake

An AstraFF Friendfiction, 2019

Disclaimer:

Lyra Pranata, Eric Crowley, dan Juminten is belong to their ‘Dinamo’.

676 kata

<!–more–>

Tidak ada selebrasi tiup lilin, potong kue, penyampaian doa pada Yang Kuasa, apalagi pesta barbeque dan kembang api yang diterbangkan. Ulang tahun Lyra berlangsung dalam diam. Sekadar menerima ucapan rutin “Happy birthday, wish you all the best” yang terlalu biasa dari kawan-kawan, yang saking biasanya, membuat Lyra bosan.

Uap mengepul begitu Lyra mengempaskan udara berisi karbon dioksida, uap air dan ekstra keresahan dari dalam paru-paru. Padahal cewek Kota Gudeg sudah berharap-harap akan mendapat sedikitnya satu kejutan istimewa di ulang tahun pertama yang dilewati di Edentria. Namun, sampai matahari terbenam, bahkan ketika Lyra merampungkan siaran dan membereskan semua perangkat yang digunakan, nggak ada satu pun persembahan dari seorang pun selain ucapan selamat ulang tahun yang monoton.

Lyra berjalan gontai, masuk ke dalam bus yang akan membawanya pulang ke akademi.

Baru juga kakinya melewati lini gerbang yang membuka otomatis, ponselnya menjerit-jerit. Di layar tertera nama Juminten, hantu Portal yang sibuk mengabdi sebagai waitress di Indigo. Tumben? Alis Lyra menukik, bahasa inverbal bahwa dirinya heran.

Mbak Jogjaaa tolongin Jumiii .…” Belum juga Pranata muda mengucap halo, telinganya telanjur diserbu lengkingan makhluk astral yang terdengar panik.

Kepanikan itu menular. “Iya, Jumi? Ada apa?”

Jumi di atas atap Indigo, uhuhu .… daster Jumi nyangkut .… Jumi bisa jatuh sebentar la—huwa!

“Halo? Jumi? Jumi!”

Lupakan kejutan, lupakan ulang tahun. Lyra Pranata memecut langkahnya ke kafe. Melewati orang-orang yang menatap bingung ke arahnya. Menaiki tangga dengan kecepatan paling purna. Melupakan fakta bahwa Juminten adalah hantu, dan hantu nggak mungkin mati dua kali.

Di atas atap, angin mendesau. Napas Lyra menderu-deru, kakinya mulai disergap timbunan asam laktat. Bola matanya mengedari sekeliling, tapi Jumi nggak ada di mana-mana.

Jangan-jangan …

Lyra melangkah hati-hati ke tepi atap. Gagasan yang terbersit adalah Jumi sudah ambruk ke bawah sana. Akan tetapi, nggak ada satu pun bayangan aneh di bawah kecuali taman kecil dan jalanan setapak yang dilalui segelintir siswa akademi.

Lalu di mana makhluk astral itu? Batin Lyra penuh kecemasan. Dia menegakkan tubuh dan berbalik, seketika terkejut mendapati sosok di depannya.

Juminten ada di sana, menyengir lucu dan membentuk huruf v dengan dua jari. Tapi yang paling mengejutkan adalah sosok jangkung di samping Jumi, dengan tangan membawa kue tart penuh krim dan lilin yang membara.

“Eric?”

Happy birthday, Lyra.”

Binaran matanya nggak bisa ditutupi. Lyra takjub campur kaget sampai nggak lagi bisa berkata apa-apa. Dia hanya menggerakkan tungkai untuk mendekat, sementara Jumi sudah menyambarnya dalam sebuah pelukan erat.

“Selamat ulang tahun, Mbak Jogja …, maafin Jumi, Jumi udah bohong sama Mbak Jogja.”

“Jumi .…”

“Eh, Jumi lupa belum pamitan pada Mama Marchie. Jumi tinggal dulu, ya ….” Lalu hantu itu melayang ke bawah. Detik itu juga, Lyra merutuki kebodohannya.

Sementara sedetik setelahnya Eric berdeham. Membuat cewek itu tersadar sepenuhnya bahwa vampire Zydic masih di sini, masih memegang kue tart berbalut krim dan berhiaskan lilin angka, dan masih menawan.

Eh, apaan? Lyra mengerjap.

Make a wish, dong.”

Cewek Blossom tertawa. Namun serta-merta mengatupkan kelopak mata, memanjatkan doa untuk sang Pencipta, semoga dan semoga, dia dan orang-orang yang disayanginya selalu berbahagia.

Eric mengawasinya ketika dia membuka mata, sampai nyala api kecil di puncak lilin padam dalam sekali hembus napas. Lyra tertawa, Eric tertawa, sama-sama menertawakan fakta bahwa mereka nggak tahu apa yang lucu. Sejak pengakuan identitas bahwa Lyra adalah Marronne, yang mengirimkan bermacam-macam paket hadiah bagi pengisap darah dari asrama walet, muncul nuansa aneh yang melingkupi ketika mereka sedang berdua.

“Kuenya mau dipotong sekarang, nggak?” tanya Eric memecah.

“Nanti saja, menunggu Jumi kembali.”

Hening sejenak.

“Oh, ya. Yang waktu itu—”

“Tidak perlu dijawab,” sela Lyra kilat. “Aku bahagia seperti ini.”

“Tapi aku yang tidak bahagia.”

Pranata muda tertegun. “Maksudnya?”

Seulas senyum terukir di wajah tirus sang adam. “Kamu tahu apa.”

Angin mendesau lagi. Melibas helai rambut Lyra yang terkumpul dalam satu kunciran, dan menembus sampai tengkuk. Memberinya sensasi merinding yang—nyaman?

Eric vampire, Lyra manusia. Tapi bila rona merah muda sudah menaksir, adakah entitas yang bisa menolaknya?

Sementara itu, di asrama Portal …

“Jumi pulaaang!” seru Juminten setelah menutup kembali pintu depan dengan hiasan kepala rusa imitasi. Sang hantu terlihat senyum-senyum sendiri, membuat Davina Leslaigh yang duduk di undakan tangga mengernyitkan dahi dengan bingung.

FIN

Tinggalkan komentar