Pramunikmat dan Kucing Sekarat

Hujan turun lagi ketika langkah perempuan muda berwajah pias melewati setapak sempit menuju huniannya. Dia tidak berlari seperti orang lain yang kabur dari guyuran air. Perempuan itu butuh bulir-bulir dingin untuk mengaliri kulitnya. Berharap bisa meluruhkan nyeri yang mendera sekujur tubuh.

Semalam, habis-habisan dia digagahi tiga lelaki sekaligus. Sebagai gantinya, beberapa uang merah sudah dia kantungi. Akhirnya, uang sewa yang sudah menunggak tiga bulan karena tidak dapat dapat pelanggan, kini bisa dia lunasi.

Ada suara meongan samar. Namun, di kupingnya yang peka, suara itu sejelas denting lonceng di tengah derai hujan. Perempuan itu mencari-cari. Ditemukanlah olehnya, seekor anak kucing yang kuyu teronggok di pinggir jalan. Anak kucing yang kurus kering, sebelah matanya picek, sebagian bulunya rontok, dan suara meongannya serak. Anak kucing yang melarat. Anak kucing yang sekarat. Persis dirinya.

Perempuan itu menghampiri si anak kucing malang. Menggendongnya dengan lembut. Kemudian dia sadar, makhluk mungil itu gemetaran. Entah karena kedinginan, atau takut padanya.

Sebelah tangannya mengelus bulu anak kucing pada bagian yang rontok. Mungkin anak kucing diserang serangga entah apa yang menggerogoti kulitnya sampai rusak.

Begitu perempuan itu bangkit dari posisi jongkok, sebuah sepeda motor melaluinya dengan laju kencang. Dia selamat dari serempetan, tapi bayarannya, baju dan wajahnya basah oleh tempiasan lumpur yang mengisi ceruk jalanan sejak semalam. Kini, sudah tiada lagi beda dirinya dengan kucing yang mengerut di dalam tangkupan tangannya. Sama menyedihkannya. Sama merananya.

Perempuan itu mengusap wajah dengan tabah. Sibuk menghibur diri sendiri di dalam hati.

Tidak apa. Kosnya sudah dekat. Ia pun sudah kepalang basah.

Ketika akhirnya dia tiba di depan kamarnya, seoorang wanita gendut sudah menanti. Alis si wanita yang persis lintah meloncat ketika menangkap kepulangannya. Lalu berkerut jijik waktu atensinya turun pada kehadiran kucing asing.

Wanita itu mengernyit. “Kucing siapa itu? Menjijikan amat.”

Perempuan muda menjawab kalem, “Kucingku.”

Wanita itu berdecih. “Pantas mirip.” Sebelah tangan yang dipenuhi gelang-gelang kuning yang bergemerincing dan membangkitkan keraguan bahwa itu emas, terulur demi menyingkapi syal si perempuan yang menutup leher.

Bekas percintaan semalam terpampang nyata. Si perempuan membenahi letak syalnya dengan malu, sementara wanita di depannya menyeringai puas.

“Situ dapat jatah, ‘kan? Dapat pelanggan? Bisa bayar duit kos, ‘kan?”

Perempuan itu mengangguk dengan tak nyaman. Ia membuka pintu, lantas menutupnya kembali setelah keduanya tiba di dalam.

Seluruh uang yang diperolehnya, dia serahkan pada wanita itu. Kembang-kempislah hidung si wanita selagi ia menghitung.

“Punya duit makan enggak?”

Perempuan muda menggeleng lemah. “Itu sudah semuanya.”

Decakan terdengar. Selembar uang merah dikembalikan ke arahnya. “Nih! Buat makan!”

Perempuan muda menjembanya. “Makasih, Bu.”

“Kurang baik apa sih saya? Untung banget kan kamu ngekosnya sama saya bukan sama yang lain? Nunggak tiga bulan dibiarin, dikasih kembalian pula. Kamu juga enggak saya laporin ke polisi atau Pak RT. Makanya, nanti pas pemilihan ketua RT baru, jangan lupa pilih saya! Buang kucing itu. Kamu nggak jijik apa?”

Belum sempat perempuan muda menyahut, wanita itu telanjur pergi. Pintu kembali mengatup. Perempuan muda memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.

“Kamu di sini dulu, ya.”

Si kucing kini terbungkus syal milik perempuan itu, diam menanti di tengah-tengah kamar yang sunyi. Guyuran air di kamar mandi berlalu selama lima menit. Kemudian perempuan itu kembali, berpakaian, dan menghampiri si kucing.

“Kita beli makan dulu.”


Satu bungkus nasi ikan. Nasinya dimakan si perempuan. Ikannya disantap kucing kecil dengan lahap.

Perempuan itu tersenyum memandangi kucing yang sedang asyik memamah daging ikan. Mengoyak, mencabik, menelan.

“Uhuk. Uhuk.”

Terburu, perempuan itu menghampiri meja. Menggapai gelas air yang sudah diisinya semula. Ditenggaknya sampai tuntas. Sepertinya, dia sudah terjangkit flu.


Kucing itu datang lagi. Tubuhnya kini lebih berisi. Perempuan muda yang makin pucat melemparkan ikannya lagi. Justru ia yang semakin kurus saban hari.

“Kamu mencuri ikanku, sih. Kamu yang gendut, aku yang kurus, deh. Ukhuk!”

Telapak tangannya buru-buru menangkup mulut yang asyik mengunyah, sebelum makanannya tersumbar keluar. Tapi bukan cuma makanannya yang mengotori tangan, melainkan pula cairan merah yang beraroma anyir.

“Ya Tuhan.”


Perempuan itu mendengar suara meongan lirih dari depan pintu yang tertutup rapat. Tapi dia tidak kuasa untuk membukanya. Tubuhnya terpaku di atas tempat tidur dengan daya yang lesap entah ke mana.


Bendera kuning terkibar di mulut gang. Tidak banyak orang yang datang melayat, lebih banyak mereka yang datang meliput. Berita tentang seorang perempuan muda yang meninggal karena terjangkit HIV dan tinggal sendirian dengan tiada seorang pun sanak famili, menjadi sorot hangat pekan ini.

“Mana saya tahu kalau dia pelacur?! Kamu pikir teh kalau saya tahu saya bakalan membiarkan dia tinggal di tempat saya, begitu?!” Salakan wanita gendut menyita atensi. Dengar-dengar, dialah sang pemilik kos yang dihuni perempuan pelacur. Dusta yang disumbarnya demi mengusir peliput berita yang entah datang dari mana saja.

Seorang wanita berkerudung tergopoh-gopoh menengahi.

“Bu, ini enggak ada keluarganya? Gimana jadinya mau dimandiin?”

Wanita gendut melotot. “Argh! Sudahlah sini saya ae yang mandikan. Dasar borokokok!”


“Bu, kucingnya siapa itu?”

“Hah? Mana?”

“Itu …. Tadi kayaknya ngikut menelusup ke mobil. Terus, dari tadi di situ, ngelihatin ke sini mulu sambil ngeong-ngeong. Horor, deh.”

Wanita gendut menyipitkan mata demi visualisasi yang lebih jelas. Di bawah pohon akasia pada taman pemakaman itu, seekor kucing kurus dengan bulu-bulu yang sebagiannya rontok, berdiri. Suara meongannya lirih dan menyayat. Sementara matanya tertuju lekat-lekat pada makam yang sedang mereka doakan.

“Oh. Itu ….” Secercah ingatan membuatnya berkedip. “Itu …, kucingnya dia.” Lalu kalimat berikutnya terlepas lebih mirip gumaman, “Kupikir sudah mati.”

Tinggalkan komentar