Melepaskan, daripada Berbagi

Prompt: Kunci

“Kamu tahu, kenapa dalam Supernova, yang jadi peretas kunci itu laki-laki, sementara peretas gerbangnya perempuan?” Suaramu yang keras dan sedikit serak dari masa lalu mendadak terngiang dalam pendengaranku.

Aku ingat malam itu; mati lampu dan hujan badai. Kita duduk berhadapan di atas lantai dengan berbungkus-bungkus camilan mengelilingi. Matamu memantulkan sinar dari bara yang menyala pada puncak lilin.

Kita belum punya lampu emergency. Ponsel kita mati total dalam waktu bersamaan. Powerbank dan baterai cadangan mendadak lenyap justru ketika mereka diperlukan. Obrolan ringan jadi satu-satunya hiburan menyenangkan dalam remang itu, di saat aku sedang tak boleh kausentuh. Entah kesialan atau keberuntungan, tapi aku sendiri lebih condong pada opsi pertama.

“Karena laki-laki berbatang dan perempuan berlubang?”

Tawamu tumpah ruah, berserakan, membuat pundak dan punggungmu terguncang-guncang. “Bravo. Istriku dan mulut nyablaknya!”

Aku mengangkat bahu, kembali memasukkan sebatang wafer untuk memberikan sedikit kesibukan bagi mulut demi membungkam suara, begitu tahu penjelasanmu akan dimulai. Kau sering bilang suka pada mulutku yang gampang melontar omongan tak layak tapi benar adanya, dan aku tak mau memusingkan itu pujian atau sarkasme. Aku cukup salut pada diri sendiri karena cepat mengganti opsi jawaban dari ‘karena penulisnya mau begitu’ yang sempat menggelantung di ujung lidah.

“Intinya begitu. Lebih tepatnya, karena laki-laki punya sesuatu untuk disalurkan dan perempuan punya tempatnya. Itulah kenapa, kodrat laki-laki harusnya mencari. Perempuan menanti.”

Oh, here we go again. Lagi-lagi, kau pasti sedang menyindir ibuku yang feminis dan menurunkan separuh kekeraskepalaannya padaku. Cerita tentang ibuku yang melamar laki-laki yang kemudian berakhir jadi ayahku sudah berkali-kali kau tamatkan. Setahun bersama, kurasa kau cukup pandai memanfaatkan momen yang kau kenali sebagai waktu bagian istrimu malas berdebat.

Malam ini mati lampu juga. Relung memori menawarkanku kilasan yang tidak ingin kuingat kembali, karena hanya membuatku membandingkan dua peristiwa berbeda latar waktu dan situasi.

Tidak ada kegelapan sebagaimana yang menyelubungi kita malam itu. Tidak ada lilin; sumber cahaya datang dari lampu emergency yang menyala benderang seolah tidak terjadi pemadaman. Tidak ada makanan ringan; yang berserakan di sisi kanan-kiriku hanyalah kertas dan berkas pekerjaan. Tidak ada kamu; yang setengah tahun lalu membuatku mantap menanggalkan status sebagai istri.

Sudah enam bulan lebih aku kembali menggantungkan harapan pada kaki sendiri. Karena kaki yang katanya akan berjalan bersamaku menyusuri kehidupan, lebih pantas kuenyahkan dari sini.

Obrolan pada malam mati lampu di masa lalu yang mendadak mengambang di pelupuk mata karena kemiripan situasi membuatku berdecih. Analogi tentang kunci dan gerbang terasa amat konyol jika dikenang pada masa kini, dalam kesendirian, dan setelah melalui rentetan peristiwa beberapa bulan belakangan.

Rasanya lucu. Karena ketidaksabaranmu pada gerbangku yang tidak kunjung membukakan jalan kita untuk menemui kebahagiaan yang kaucari, suatu hari kautawarkan satu solusi yang menurutku sama sekali tak solutif. Yang mengubah kita jadi aku dan dirinya yang kembali terpisah:

“Aku nikah lagi, ya?”

Tentu saja aku tidak terima. “Itu bukan jalan keluarnya.”

“Kamu kenalan dulu. Dia baik. Salihah.”

Aku menganga tak percaya. Kalimatmu mendadak terdengar seperti banyolan komedian dalam tayangan sitkom berpenonton bayaran. “Dan aku tidak baik dan tidak salihah.”

“Kesalihanmu akan kulihat di sini. Kalau kamu ikhlas menerimanya, kamu adalah wanita salihah.”

Dorongan untuk tertawa tidak mampu kubendung lagi. Kau yang pernah mengaku menikahiku karena mulutku yang tidak kenal batas susila mendadak bicara tentang kesalihan. Kau yang menawarkan solusi ini ternyata malah sudah memiliki stok gerbang untuk menambal kekuranganku. Kodratmu mungkin mencari, dan kau tampak tak akan berhenti sebelum kautemukan kesempurnaan yang kaumau.

Aku terbahak-bahak dengan wajahmu yang mengabur dalam pandangan. “Yah … maka kamu bisa menganggap aku bukan salah satunya.”

Tawaku meloncati waktu dan kenangan, terbawa sampai saat ini, di tengah kesendirian. Cahaya lampu memburam dan terdistorsi dalam pandangan, seiring mataku menelurkan embun yang menggelantung di permukaannya.

Wahai mantan suamiku yang entah sudah menerima kebahagiaanmu atau tidak, semoga kini kautahu. Semoga kau akan berhenti mencari. Berbeda denganmu, bagiku, satu kunci hanya cukup untuk satu gerbang. Tidak sudi ku berbagi apa yang menempati gerbangku kepada orang lain. Aku lebih baik tidak memiliki apa pun. Sehingga aku bisa menganggap tiada yang kubagikan dengan siapa pun, sama sekali.

Tinggalkan komentar