Mimpi Dua Inci

Prompt: Mimpi

Sosok itu adalah sewujud mimpi Farah di siang bolong. Ia tak setampan aktor blasteran yang wara-wiri di televisi. Bahkan tidak pula begitu tampan untuk bisa jadi idola satu sekolah.

Tapi, setiap kali ia melangkah di koridor, di lapangan, atau kantin, Farah bisa melihat bunga-bunga imajiner bermekaran menaburi setiap petak yang laki-laki itu lewati.

Betapa kesan pertama adalah kesan yang paling berkerak; paling mengendap. Sejak pertemuan perdana mereka tiga bulan lalu yang melibatkan kelopak bunga betulan, Farah sudah tahu, dirinya telah jatuh.

Sore hari, pada jeda lima belas menit di antara sederetan agenda hari pertama orientasi sekolah, Farah yang baru kembali dari kamar mandi belakang menyisiri koridor. Ini jam-jam di mana kamar mandi depan padat antrian, sehingga dia perlu memutar lebih jauh, yang ajaibnya, justru untuk efisiensi waktu.

Matahari pukul tiga terlalu terik untuk dihadang langsung. Namun, anak-anak kelewat aktif malah nekat berkeliaran menantang sang raja siang. Hampir semua berbalut kaos putih dan celana hitam berbahan non-jin, sebagaimana yang ia kenakan. Sebuah identitas bahwa mereka sama-sama murid baru di sekolah ini.

Saat itulah Farah melihatnya: berpijak geming bagai pahatan dewa Yunani, sendirian, di tepi keriuhan. Rindang pohon memayungi separuh wajahnya, sedang sinar mentari menyirami sisanya. Beberapa kelopak kuning Handroanthus chrysotrichus jatuh. Menyentuh kepala, turun ke pundak, luruh ke sepatunya.

Saat itulah Farah merasakannya: selubung misterius yang menyerap semua warna, kecuali yang datang dari pusat fokusnya terpatri. Laju waktu melambat. Seperti ada yang menjeda setiap pergerakan. Suara-suara terserap dari sekitar. Seperti ada yang menyumpal telinganya. Menggantinya dengan denting piano yang mengalun lembut.

Saat itulah Farah menyadarinya: ia sudah jatuh, terperosok dalam genangan kekaguman.

“Rama!”

Dalam sekedipan mata, segalanya lenyap. Seruan tadi menyobek selubung yang melingkupi. Membawa kembali waktu pada laju yang semestinya, juga suara dan warna pada tempat yang seharusnya. Seorang laki-laki lain datang menghampiri sosok yang sedang Farah puja. Mengobrolkan apa yang tidak sanggup Farah tangkap.

Akan tetapi, Farah tak berkeberatan. Saat itulah gadis itu mengetahuinya: nama mimpinya adalah Rama.

***

Rama merenggut hampir separuh mimpi malam dan lamunan siang Farah. Mengisinya dengan adegan yang sama, yang tak lain adalah pertemuan pertama, seperti putaran kaset rusak. Namun, Farah tak bosan-bosannya menyaksikan hal yang sama setiap hari. Baginya, Rama-lah mimpi itu sendiri.

Hari itu. Saat di mana momen istirahat membawa Rama Dito Prayudhi muncul dari pintu kelasnya. Suaranya masih sempat Farah dengar, melantangkan kata permisi pada penghuni yang tersisa.

“Selamat pagi. Ada yang namanya Farah Amalia di sini?”

Lama melihat Rama dalam bayang-bayang, Farah tidak terima pada kenyataan di mana Rama menyebut namanya lantang-lantang.

Tapi, seruan dua orang teman lain segera menyadarkannya kalau itu bukan cuma berlangsung dalam alam khayalnya saja. Melainkan nyata.

“Hah? Ya?”

Sosok mimpinya mereduksi jarak. Selangkah, demi selangkah. Berhenti tepat dua meja dari depannya. Selangkah lagi, mungkin Farah sudah semaput akibat jantung yang berakrobat ria.

“Farah, ya? Kamu dipanggil Bu Gina di ruang guru, ikut briefing pelatihan untuk olimpiade nanti.”

Farah ingat. Dirinya memang memasukkan surat permohonan mendaftar dan jawaban tesnya sepekan lalu. Dengan nilai pelajaran eksakta yang lumayan, dan soal-soal yang bisa diselesaikannya tanpa kesusahan, Farah cukup optimis mampu melaju.

Namun, sekarang, optimismenya melorot jatuh sampai bawah kaki. Luruh bersama tubuhnya yang, juga meleleh seperti agar-agar dipanaskan.

“Halo?” Suara itu mengembalikan Farah pada kesadarannya; pada sosoknya yang padat, dan mimpinya yang sama padat dua bangku dari titik ia duduk.

“Eh, oh, sekarang?”

“Nggak. Tahun depan.” Mimpinya tertawa. “Ya sekarang, dong. Bu Gina menunggu, lho.”

Buru-buru ia renggut kotak pensil dan sembarang buku dari meja. Buru-buru ia bangkit dari kursi. Buru-buru ia melangkah menjauhi meja dan kursi.

“Hei, nggak usah buru-buru. Bu Gina nggak makan kita meski telat semenit.”

Suara Rama menyetrumnya dengan pencerahan bahwa laki-laki itu juga melangkah di sisinya.

Farah menepi, menciptakan jarak sebisanya. Sampai nyaris menabrak pot bunga yang berjejeran di muka kelas.

Rama tertawa lagi. Kepalanya geleng-geleng, seperti tak habis pikir dengan tingkah manusia aneh di sisi.

“Kok, kamu… ikut juga?” Farah memberanikan diri untuk bertanya. Disorientasi antara yang nyata dan yang maya yang mencengkeramnya selama beberapa menit mulai lindap perlahan. Ia sepenuhnya sadar, kakinya benar-benar berjalan menyusuri koridor dengan Rama. Dengan mimpinya.

“Lho, aku kan, juga ikut briefing.”

Jawaban yang tidak mengejutkan. Mungkin karena Farah kepalang sibuk mencermati ke mana perginya bunga-bunga imajiner yang biasanya menempeli Rama di dalam kepalanya. Mungkin. Mungkin juga karena Farah tahu, Rama juga cukup potensial untuk kompetisi semacam ini, cuma Farah tidak mengantisipasi sebelumnya. Mungkin. Farah tidak tahu alasan pasti. Sama seperti dia tidak tahu mau berkata apa lagi, sehingga cuma bungkam, sampai mereka memasuki ruang guru.

Di depan meja Bu Gina, duduklah beberapa orang berseragam putih abu-abu. Ke sanalah langkah Farah menuju.

“Farah, Rama! Silakan, duduk di sini.”

Kursi plastik paling ujung ditarik Farah agak berjarak dari barisan, demi menciptakan lebih banyak spasi dengan Rama. Sayang, jarak yang bisa dibentangkannya mentok di dua inci. Tertahan meja kayu guru lain yang saat itu sedang ditinggal penghuni.

“Nah, semua sudah berkumpul. Perwakilan kelas sepuluh, Rama dan Farah. Perwakilan kelas sebelas … “

Bu Gina mengabsen satu per satu nama dari siswa di depannya. Satu angkatan dua orang. Nama-nama itu adalah peraih nilai tertinggi angkatan dari akumulasi ujian Matematika dan Sains mereka, ditambah hasil seleksi minggu kemarin. Lalu, dijelaskannya pula teknis pelatihan yang intinya bakal menyita waktu pulang sekolah keenam peserta. Hukum pelatihan ini mutlak bagi siswa yang mau mengikuti kompetisi antarsekolah nanti.

Penjelasan yang cukup padat dan singkat. Namun, dari sana, ada secercah cahaya bagi Farah untuk mempertahankan mimpinya.

“Ada pertanyaan?”

Farah mengangkat tangan.

“Silakan.”

“Kalau saya mengundurkan diri sekarang, masih ada waktu untuk mencari kandidat lain, ‘kan, Bu?”

Bu Gina mengerjap-ngerjapkan matanya. Kentara sekali ia bingung dan tak mengantisipasi tipe pertanyaan begini. “I… ya, sih. Tapi, kenapa mau mundur?”

“Ada … urusan saja sih, Bu. Tidak bisa ikut pelatihan sampai setiap sore. Jadi, sepertinya tidak bisa ikut lomba ini juga. Maaf.” Bu Gina tidak akan mengerti sekalipun Farah bercerita sampai berbusa bahwa ini bukan yang ia inginkan. Ia mau mengikuti kompetisi, asalkan tidak bersama Rama.

Rama Dito Prayudhi adalah sewujud mimpi Farah di siang bolong. Mimpi yang seharusnya hanya jadi mimpi. Sosok yang seharusnya hanya bisa dilihat dalam mimpi dan bayang-bayang. Tidak dalam jarak dua meja, apalagi dua inci.

Tinggalkan komentar