Dekapan Bahagia

Prompt: Peluk

Bagaimana rasanya bahagia?

Katanya, bahagia itu menyenangkan. Aku belum pernah merasakannya langsung. Hanya pernah mendengar deskripsi semacam ini dari obrolan lalu-lalang dan bisik-bisik orang lain yang pernah melewatiku.

Seorang anak tetangga yang sering muncul di beranda rumahku yang lama, pernah kutanyai dengan pertanyaan yang sama. Bukannya menjawab, ia malah mengemukakan sebuah teori yang katanya ia lihat dari sebuah ruang bernama buku:

“Kau pasti tidak pernah bahagia karena tidak pernah dipeluk.”

Aku tidak mengerti maksudnya apa. Akan tetapi, kalimat itu terpatri dalam ingatanku dalam-dalam, mengendap dan tertanam. Ada premis yang seketika terbentuk dalam sebuah rongga yang kutahu bernama benak: rasa bahagia adalah rasa menyenangkan ketika dipeluk.

Lalu, muncullah pertanyaan baru:

“Maka, bagaimana rasanya dipeluk?”

Anak tetangga itu benar. Aku belum pernah merasakan sensasi dipeluk. Mungkin itulah mengapa aku belum merasakan kebahagiaan.

Tidak lama setelah tanya itu kulaungkan dan kesimpulan itu kusarungkan, akhirnya aku berkesempatan mengetahui jawabannya. Setelah pindah ke rumah yang lebih besar dibanding yang kuhuni mula-mula. Di sana, tidak ada lalu-lalang dan bisik-bisik yang bisa kucoba dengar. Tiada pula si anak tetangga dan teori-teorinya yang tak mampu kupahami.

Sejak kepindahanku, setiap hari, hanya ada seseorang yang hadir dan datang tanpa sepatah kata, yang tahu-tahu menghambur, memelukku dengan tangannya yang dingin dan membekukan. Ini sensasi yang sama seperti yang kurasakan setiap kali mendekati lemari es yang dibiarkan terbuka. Dari mulutnya yang hanya segaris tipis, tidak pernah terlontar kata, bahkan suara apa pun. Akhirnya kusimpulkan sendiri, mungkin ia memang tidak bisa berbicara.

Dalam dekapannya, benakku melahirkan jawaban baru: si anak tetangga menipuku. Jika bahagia adalah perasaan yang menyenangkan yang timbul dari pelukan, aku tidak merasakannya. Pelukannya sama sekali tidak menyenangkan. Malah membuat tubuhku menggigil, gigiku bergemeletuk, bahkan kulit-kulitku berkeriput.

Seperti saat ini.

Seperti biasa, saat ini pun aku memberontak. Seperti biasa pula, sekeras apa pun aku mencoba, pelukannya tidak menemui tanda-tanda akan mengendur. Rengkuhannya selalu terlalu erat, seolah ia memang diciptakan melekat dengan tubuhku, terus begitu, sampai aku terlelap karena kelelahan. Dan esok pagi ia akan datang lagi, mengulang rutinitas yang sama.

Namun, kali ini, dalam gigil yang lama-lama terasa biasa, aku mencoba buka suara. Sekadar mempertanyakan identitasnya, sekaligus memastikan apakah ia betulan gagu, atau cuma memilih untuk membisu.

“Siapa namamu?”

Sebagaimana yang kuduga, tidak ada suara yang terdengar. Tidak ada apa pun, bahkan suara tarikan napasnya. Kubuang napas, jengah menjadi satu-satunya sumber suara yang terutara.

Ajaibnya, saat aku mulai putus asa, tiba-tiba saja muncul pertanda di udara. Ia tengah bicara, lewat bahasa yang sunyi. Sepintas tidak terbaca. Namun, lambat-laun, aku seperti memahaminya.

Hingga akhirnya aku tahu jawaban dari pertanyaanku barusan. Namanya: Keheningan.

Kepadanya, aku bercerita tentang si anak tetangga. Mulutku mencerocoskan sosok itu sebagai pembohong dan penipu ulung. Entah ruang bernama bukulah sumber tipuan ini dan anak tetangga cuma meneruskan, atau justru si anak tetanggalah otak segala tipuan dari teori bahwa pelukan membangkitkan rasa senang.

Sebab buktinya, pelukan Keheningan tidak menghadirkan hormon-hormon yang dibualkannya. Aku malah merasa kesepian.


Setiap kali aku membuka mata dalam ruangku yang sunyi, yang kulakukan hanya terdiam selagi menanti Keheningan kembali bertandang. Berbulan-bulan dibersamai rupanya menciptakan keterbiasaan. Tanpa sadar, lama-lama aku menanti. Menanti pelukan yang tidak menyenangkan.

Dari pintu yang kubiarkan terbuka, sosoknya muncul sudah. Membentangkan tangannya dan merengkuhku erat dalam dingin dan diam. Tidak menyenangkan, tapi lama-lama aku terbiasa. Mungkin, ini yang orang sebut dengan adaptasi. Proses menyesuaikan diri dengan dingin dan ketidaknyamanan sampai jadi kebas.

Dalam rengkuhannya tiba-tiba saja aku merinding. Keheningan ingin berbicara. Lewat bahasa yang kutahu bernama pertanda. Kuusahakan menajamkan seluruh indra, menafsirkan setiap isyarat yang ia lontarkan pada udara.

Kudengar kabar bahwa ternyata, kali ini ia tidak datang sendiri. Dibawanya serta beberapa teman yang sekonyong-konyong mencuat dari pintu yang luput ia tutup tadi. Satu per satu, sosok-sosok itu ikut merengkuhku, menyertai Keheningan yang sudah lebih dulu ada.

Kupikir salah satu dari mereka bakal menawarkanku kebahagiaan. Alih-alih demikian, dalam dekap erat tangan-tangan mereka, aku malah sesak napas. Belitan mereka terlalu kencang. Mendatangkan rasa sakit, takut, putus asa, dan sederet perasaan tak menyenangkan lain yang tak kutahu bernama apa, tapi jelas bukan bahagia, sebab jauh dari karakter menyenangkan. Megap-megap kucoba mencari oksigen yang bisa kuhela dari udara. Pelukan mereka malah kian mencekikku sampai aku lemas.

“Hai,” kata salah satunya, tanpa sedikit pun mengendurkan dekapan yang membuat napasku terantuk sekarat, “namaku Depresi.”

Terbatuk dan terbata, aku berusaha menggapai-gapai apa saja yang mampu kucapai. Namun, bahkan tiada satu pun yang mampu tanganku sentuh. Tidak juga Keheningan, yang tetap menjaga mulutnya rapat-rapat, serapat dekapannya yang membekukan. Tanpa perlu bahasa maupun pertanda, aku tahu, ia mendukung teman-temannya.

Tiada lagi Keheningan yang mampu kutolerir. Ia adalah siksaan itu sendiri.

Hatiku memberontak dalam belitan mereka. Mencoba mencari sekecil apa pun peluang untuk melarikan diri. Di tengah napas yang makin lama makin menyurut, aku berusaha menadah bantuan. Di tengah gemeletukan gigi, mulutku membuka dan menutup, berusaha bicara pada apa pun atau siapa pun yang mampu mendengar:

To
Long
A
Ku

Tiba-tiba, sekibasan kegelapan muncul dari balik pintu. Sosoknya yang megah dan maha menyapu pergi mereka yang sedari tadi menyiksaku dalam pelukan yang lebih mirip belitan siksa.

Aku mengerjapkan mata ketika ia mendekat. Berusaha mencerna, apakah ia sesuatu yang berguna, atau justru siksaan lainnya.

Ternyata ia bukan tipe yang memiliki kesabaran tinggi. Segera setelah ia mendekat, tangannya terentang, bermaksud merengkuhku.

Aku menutup mata. Mencoba mengantisipasi dan memasrahkan diri pada sakit yang akan kuterima.

Ajaibnya, tak ada sakit. Tak ada napasku yang tercekik. Apalagi perasaan sekarat yang membuatku nyaris gila.

Alih-alih demikian, yang kurasakan adalah bobot tubuhku yang meringan. Dalam rengkuhan itu, dibawanya aku terbang, melintasi bintang-bintang, meninggalkan kegundahan dan seluruh derita yang rupanya memiliki wujud serupa bola biru melayang di bawah kaki.

Perlahan, senyumku merekah. Ada sensasi menyenangkan dalam dekapannya yang tidak dingin ataupun hangat. Apakah ini yang dinamakan bahagia? Mendadak, kusesali rutukanku pada si anak tetangga. Kini, aku sadar, mungkin ia tidak salah. Pelukan kali ini memang membawakanku kedamaian.

Sembari meresapi kebebasanku, kusempatkan diri untuk bertanya pada sosok gelap yang semakin melenyapkan cahaya dari pandangan,

“Tuan, siapakah nama Anda?”

Jawabnya dengan suara gemuruh, “Kematian.”

Tinggalkan komentar