Prompt: Terima Kasih
2689 kata. Be A ba Ce O co Te.
Malam ini, dorongan untuk menerjunkan diri sendiri dari ketinggian terasa mendesak. Ketabahanku hidup dengan lingkungan serbaberisik telah mencapai gentas. Dengan terlalu banyak suara yang harus kudengar, terlalu banyak mimpi yang harus kukejar, terlalu banyak beban yang harus kusandang, terlalu banyak tuntutan yang mengimpitku dari berbagai sudut, satu-satunya solusi untuk kabur adalah meninggalkan dunia.
Bukit Bintang. Salah satu dari ratusan tonjolan kontur muka bumi di negeri ini yang dinamai sama. Pernah aku membaca nama serupa dalam cerita orang, baik nyata maupun rekaan. Bukan cuma sekali, tapi berkali-kali. Sebagian besar di antaranya menempatkan nama Bukit Bintang sebagai lokasi kencan romantis. Tidak dengan tempat yang baru saja berhasil kucapai puncaknya dengan napas berantakan.
Tempat ini dinamai Bukit Bintang justru karena minimnya cahaya. Kesuramannya menghalau kaki-kaki bertandang jika malam telah menghadang. Bahkan penggelandang paling liar sekalipun, ogah mampir dalam kondisi semabuk apa pun. Kecuali yang mabuk hidup sepertiku kini. Ini titik strategis untuk menjemput maut tanpa distraksi dramatis. Ucapkan selamat tinggal paling manis pada udara dan bergulinglah, maka tubuhmu akan ditemukan jadi jenazah di tebing curam yang bertemu lautan, atau kaki bukit yang dipenuhi semak duri dan batuan yang tak kalah tajam, esok pagi. Masuk berita pagi di koran dan televisi. Diumumkan di masjid dan pesan broadcast dengan awalan, “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun… ”
Itu juga niatku sekarang, selagi menanggalkan alas kaki dan jaket. Aku tidak tahu apa ini impulsivitas atau tidak. Aku cuma mau melakukannya. Biar teredamlah segala sakit dan suara berisik yang gencar menampar. Biar terbungkamlah mulut-mulut yang tiada habisnya memuntahkan tuntutan dan beban. Biar membukalah mata-mata yang selama ini terpejam; buta oleh ambisi yang mereka wajibkan pada anak sendiri.
Rerumput kering menusuk telapak kaki yang telah telanjang. Namun, rasanya kebas. Mungkin karena kalah sakit dibanding nyeri di kepala dan hati. Angin dingin dini hari pun tak kalah beri kontribusi. Seolah mau ikutan mengucap salam hidup terakhir bagi manusia yang esok sudah jadi mendiang.
Sampai jumpa, Malam. Sampai jumpa, Angin. Entah memang bakal ada perjumpaan kembali di alam lain, dunia lain, dan kehidupan lain, atau tidak.
Kupejamkan mata, seiring tanganku yang terentang. Di bawahku ada tebing yang curam. Tempat di mana malaikat maut akan mencabut kehidupan yang tidak berguna dari tubuh malang ini.
Sebelah kakiku melayang sudah. Aku siap menerjunkan diri.
“Woi! Brengsek!”
Aku ambruk, berguling dan berguling. Tak kusangka angin punya kekuatan maha dahsyat sampai bisa mendorongku jatuh sebelum aku sungguhan menjatuhkan diri. Namun, apalah bedanya? Toh, aku sudah siap. Kendati rasa sakit luar biasa menusuk sekujur tubuhku. Sebentar lagi, rasa sakit itu akan tertelan oleh ketidaksadaraku.
Anehnya, aku tak merasa berguling ke tempat seharusnya; tebing yang kutuju. Tubuh ini tidak kunjung tiba ke mulut lautan gelap yang akan jadi tempatku mengambang esok pagi. Aku merasa masih tetap ada di tempat yang sama; ketinggian yang sama, dengan sakit dan perih luar biasa yang tak kunjung lindap disergap kematian.
Mataku membuka dan cahaya langsung mencegat pandangan. Pandanganku berkunang-kunang menangkap bayangan yang timbul-tenggelam. Itukah Engkau, Malaikat Maut?
Baru kuketahui ada kaki tangan Tuhan yang memiliki kebiasaan menyambar kerah sebelum mencabut nyawa, seperti sekarang.
“Woi! Sinting! Sadar! Buka mata lo atau gue gampar, ha?!”
Kepalaku tersengat ribuan jarum. Bagaimana bisa bahkan suara malaikat maut pun terdengar begitu manusiawi?
Sesuatu yang keras mendarat di pipi. Wajahku terlempar, terkulai kembali di atas rerumput yang menusuk kulit. Dengung yang nyata menyambar pendengaranku, seolah mengiris isi kepala. Namun, sepertinya, berkat itulah pandanganku berangsur jelas. Kesadaranku terbata-bata mampu kueja.
Di tengah keroyokan sakit dan perih atas sekujur tubuh, aku melihat sosok asing di depan mata dengan flashlight ponsel yang menyala dalam genggaman. Bau alkohol langsung menyambar rongga hidung begitu ia berlutut di sisi, mengangkut kepalaku ke atas pangkuannya.
Siapa pun ia, aku cukup yakin, tiada malaikat maut yang mengonsumsi minuman keras.
Namanya Randy, dan ia bersikeras memberitahu bahwa ia sudah menyelamatkanku dari mulut maut. Meski aku lebih suka menyebutnya dengan ‘menggagalkan’.
Ia menjelaskan setelah mataku membuka dan kudapati diri terbaring di atas kasur asing, dengan belitan perban di sana-sini, bukannya ada di angkasa dan memandang puas pada jenazahku yang diselamatkan dari laut dengan Mami dan Papi yang meraungkan penyesalan. Nyeri menusuk kulit, pergelangan tangan, dan kaki. Tak bisa bergerak bebas di kala kuingin.
Mendadak aku ingin marah. Padahal kematian sudah begitu dekat.
“Kamu sudah menggagalkan rencanaku, Sialan, ” desisku begitu ia kembali membawa nampan makanan. Maunya langsung membentak. Apa daya rahang tak kuat membuka lebih lebar.
Ia tertawa kecil. “Lo itu tolol. Hidup masih panjang dan berharga kok mau dituntaskan.”
Sontak, aku tambah berang. “Tahu apa kamu, ha Bangsat?” Adrenalin memancar sewaktu kusemburkan serapah yang jarang karib dengan lidah. “Ini hidupku. Aku berhak memutuskan kapan aku berakhir.”
Nampan diletakkannya dengan kasar di meja. Ia berdiri berkacak pinggang. Mencebik bengis dengan dagu terangkat. “Oh, konsepsi lo dalam memahami nyawa bakal diketawain anak SD! Itu tubuh, itu jiwa, datang dari Tuhan. Bukan punya lo.”
Mendadak emosiku menguap. Kalimat yang mau kuledakkan meleleh jadi saliva yang harus kutelan. Mulut asing yang semalam bau miras justru siangnya menyemburkan khotbah dan membawa nama Tuhan.
Namun, separuh isi kepalaku mengakui. Inti khotbahnya memang benar. Dan itu yang membuatku kehilangan bantahan.
Ia menyendokkan sesendok bubur aneh dengan ekspresi sama aneh. “Ini bubur gue buat meredakan hangover. Kali aja mempan juga buat lo yang lagi mabuk hidup.” Sendok itu menuju depan mulutku. Bau telur dan daging terhidu. “Buka mulut, atau gue yang bukain.”
Wahahku masih sakit. Tapi kuyakin, opsi buka mulut sendiri lebih menguntungkan ketimbang dipaksanya membuka.
“Siapa nama lo?”
Aku mendengkus jengah. Ia sudah menanyakan ini tiga kali sejak pagi.
“Setidaknya gue harus tahu siapa manusia yang gue bawa kabur dari kematian. Siapa tahu gue mau minta bayaran sewaktu-waktu dari orang tua lo.”
Ada saklar yang menyala di dalam kepala begitu ia mengucap kata ‘orang tua’. Sontak aku cemas begitu sadar bahwa cepat atau lambat, aku akan pulang ke sana. Kembali menuju tempat berisik bertekanan tinggi.
“Gara-gara kamu, aku harus kembali lagi ke tempat para batu bangsat itu.” Kutatap matanya, nyalang.
Ia mengerjap. Sekelebat kabut menyapu matanya cepat dan pergi sama kilatnya. “Nggak gue sangka nama lo sepanjang itu.”
“Sialan. Ini bukan—”
“Dah. Lo makan aja dulu. Emut, telan.”
Napasku menderu karena emosiku tak menjumpai pelampiasan.
“Lo nggak perlu menyebut nama sekarang, deh. Nanti-nanti aja.” Disuapkannya sesendok penuh bubur ke mulutku.
Tiga hari dalam penampungan Randy, aku sudah mulai kembali menghadapi kenyataan. Padahal tak ada pengobatan dan perawatan dari pihak profesional. Semuanya diselesaikan Randy seorang.
Aku jadi hafal denyut kehidupannya. Ia tinggal sendirian di rumah kecil yang minim furnitur ini. Ada setiap pagi dan sore. Siang dan malam menghilang. Ketika kutanya, ia menyahut kalau ia pergi mencari sesuap nasi. Kutangkap itu sama maknanya dengan bekerja.
Mungkin dilatari rasa bersalah karena sudah jadi beban, aku berusaha keras biar lekas sembuh sepenuhnya. Melahap apa pun yang ia beri dengan patuh. Kalau ada racun dan aku mati ya syukur. Kalau sembuh juga yah … tidak apa. Setidaknya aku tidak lagi terbaring tanpa daya.
“Hooo. Dilihat-lihat, lo ganteng juga.”
Air yang harusnya meluncur ke kerongkongan malah tersesat ke tenggorokan. Aku terbatuk. Ia mendekat, menepuk-nepuk punggungku. Aku malah makin terbatuk. Tidak siap dengan sentuhan yang terasa menyetrum, memicu detak jantungku berkejaran.
“Santai. Gue cuma memuji dengan tulus.” Direnggutnya gelas dari tanganku. Mengisinya dengan air dari dispenser, meminumnya sendiri. Begitu tandas, diisinya lagi, dan menyerahkannya padaku.
Napasku terhentak. Debaran di jantungku malah makin beringas.
“Tuh. Minum yang benar. Gue mau berangkat cari makan dulu.”
Cepat, aku menyambar. “Kerja di mana?”
Ia berbalik. Satu alisnya terangkat, seolah tengah menelisik maksudku bertanya. “Kenapa?”
Aku berdeham. “Cuma kepo. Kamu keluar setiap malam. Pulang pagi. Keluar lagi siang. Pulang sore. Pekerjaan macam apa?”
“Ya macam-macam.” Ia mengangkat pundaknya ringan. Seringai kecil terbit di bibirnya. “Hidup itu kadang lucu. Ada orang yang mati-matian mempertahankannya dengan melakukan apa saja. Ada juga yang mau lepas darinya meski sudah punya apa saja.” Ia terkekeh. “Kalau gue beri tahu, lo mau kasih tahu nama lo, ‘kan?”
Mengenyampingkan kalimatnya di awal-awal yang membuatku tak nyaman, aku mendengkus. Memang apa untungnya juga namaku? Tapi … yah, apa juga ruginya buatku untuk memberi tahunya?
“Abigail,” sahutku pelan. Dalam hati berharap ia tidak mendengar.
Jempolnya diacungkan. “Sip. Seperti yang gue bilang, gue kerja macam-macam. Sudah, ya. Gue tinggal lagi.”
“Eh, tunggu—”
Dia cuma melambai tanpa berbalik atau melambatkan laju. Mendadak aku jadi kesal karena lagi-lagi ditinggal sendirian. Harus ngapain lagi aku di rumah kecil ini?
Kuputuskan berjalan-jalan sebentar. Segencar apa pun kemungkinan Papi mencariku, ia takkan sampai di gang-gang sepelosok ini. Rumah warga berdempetan. Sisi bangunan lain kelihatan baru ditambal, seolah cuma diletakkan di sana belakangan sebagai ruang tambahan karena penghuni yang membeludak. Tali-tali jemuran melintang saling silang. Para arsitek dan penata kota bisa menangis pilu melihat ini.
Sepintas aku ragu ini masih di kota yang sama.
Sebuah kios warga menyita atensiku. Aku tak membawa uang sama sekali, tapi Randy sempat membekaliku dengan selembar uang kuning yang ditaruh di atas galon. Sudah macam anak TK yang dijatah jajan permen. Tapi, aku mensyukurinya. Sebongkah permen karet bisa mendatangkan kesibukan. Kesibukan mengunyah.
“Bu, permen karet lima ribu.”
Ibu penjual dengan rambut dipenuhi roll membagi fokusnya antara melayaniku dan menonton acara infotainment. Gerakannya memungut permen dari stoples begitu lambat. Tahu-tahu, tayangan artis yang lagi sibuk menjelaskan terjeda, berganti rentetan suara formal pembaca berita.
“Woooi kutu kupret! Kenape dipindah?!”
Aku terperanjat. Makian ibu itu menyemprot tepat di depan wajah, bonus hujan lokalnya. Hingga aku percaya semburan itu tertuju untukku, bukan suaminya yang kini menguasai remote teve.
“Gosip, gosip, gosip aja terus. Mending ini, nih. Berite. Dapat kabar tentang dunie. Tuh, ada orang hilang. Siape ntu namanye? Abi…gail?”
Atensiku tertarik otomatis. Di televisi tertayang wajahku beserta sederet informasi. Plus embel-embel hadiah uang untuk yang menghubungi. Bergegas aku menutup muka dengan telapak tangan.
“Ini, permennye.”
Sekantung kresek penuh permen karet kusambar langsung. “Makasih, Bu. Kembaliannya buat Ibu saja.” Aku tak tahu ada kembalian atau tidak, tapi berhubung itu kalimat paling umum yang kutahu untuk memutus interaksi belanja, kugunakan saja. Kupercepat langkah demi tiba di rumah Randy seringkas mungkin.
Sialan. Harusnya aku cepat tanggap. Meski Papi dan kroni-kroninya tidak mungkin blusukan langsung ke mari, jaringan informasi bisa datang dari mana-mana. Untuk sementara, tempat paling aman adalah di sini.
Suara pintu dibuka. Menyusul langkah kaki tegas. Randy sudah kembali.
Wajahnya melongok dari pintu. “Oi. Gue bawain nasi bungkus. Sudah bisa mengunyah, ‘kan?”
Kupertontonkan padanya gerak rahangku melumat permen karet. Biar dia tahu, aku bukan lagi bayi yang mesti dikasih bubur.
“Okay. Makan dulu, gih.” Sekemasan nasi di atas piring plastik beserta sendok diletakkan di sisi lututku yang bersila. Ia sendiri mendaratkan tubuh di dekat situ pula.
“Nggak balik lagi?” tanyaku sehabis melepehkan ampas permen karet ke dalam plastiknya. Bersiap membuka santapan. Cukup jarang aku makan makanan rumahan. Nasi yang disirami kuah, sebutir telur rebus bumbu, sepotong tempe tahu, sedikit sayur labu siam, seuprit sambal. Terakhir menyantapnya waktu KKN saat kuliah bertahun-tahun lalu. Makanan ini menghantarkan kehangatan.
“Nanti.”
Sahutannya mengembalikanku dari gelombang nostalgia. Mulai kusantap nasi yang rasanya asin, gurih, dan bahagia.
“Nanti habis makan ikut gue, ya,” katanya lagi.
Kuangkat wajah dari piring. “Ke mana? Oh, aku boleh ikut ke tempat kerjamu?”
Ia menundukkan kepala dan mengangguk-angguk. “Ya.”
Kutandaskan makanan secepat yang kubisa. Rasa bahagia diselimuti nostalgia rupanya masih kalah dengan rasa bahagia atas kesempatan menghampiri tempatnya mencari uang. Entah mengapa. Aku seperti merasa puas bisa mengetahui sekelumit tentangnya.
Sehabis makan, diajaknya aku naik motor yang bodinya kerempeng, lantaran sebagian kulit yang mengkaver mesinnya sudah lenyap entah ke mana. Untung saja spion juga plat nomor masih ada dan knalpot pun masih normal. Kalau tidak, sudah kutolak rencana ini.
Yang ajaib, aku menikmati perjalanan ini. Kendati kepalaku harus disumpal helm bulat nan cupu, dan di atas motor, aku merasa nyaris terpental hingga harus mengeratkan pegangan pada pundak Randy yang mengemudi.
Atau mungkin, justru karena aku menyentuh pundaknya, aku jadi bahagia?
Namun, dudukku menegak begitu tahu roda motor ini membawaku ke mana.
“Kita mau ke tempat kerjamu, ‘kan?” seruku risau di kupingnya. Deru angin harus dihadang balik dengan suara yang lebih kencang.
Ada jeda sebelum ia menjawab, “Ya.”
Mendadak kepercayaanku padanya menipis. Ini jalur yang amat kuhafal, dan melaluinya membangkitkan kecemasan. Kecemasan itu ganti jadi kepanikan manakala ia benar-benar berlabuh pada tempat yang kuantisipasi. Tempat yang paling tidak mau kudatangi.
Roda motor berhenti. Sebelum mesinnya benar-benar mati, aku sudah angkat kaki.
Namun, ia menghela bajunya yang menempeli tubuhku saat ini. Mencegahku lari.
Aku berbalik dengan murka. “Apa-apaan? Kamu mau bilang kamu kerja di sini?”
Ia mengembuskan napasnya keras. “Sorry,” bisiknya. “Saat ini. Untuk saat ini, ya.”
“Memangnya apa pekerjaanmu?”
“Sudah kubilang macam-macam …”
“Ya apa?!” Mataku menyipit. “Kamu bekerja untuk Grup Wijaya? Mencariku?”
“Untuk saat ini,” ia berbisik, “aku butuh uang. Maaf.”
Kalimat-kalimat yang mau kulemparkan justru kutelan lagi. Emosiku harus kuninabobokan kembali.
Aku membuang napas. Benar. Memang siapa yang tidak butuh uang di dunia ini? Mungkin cuma aku. Mungkin cuma aku yang melepaskan uang dari genggaman, karena justru bermimpi hidup sebagai jelata.
Sunyi di parkiran basement tahu-tahu diusir oleh kedatangan dua mobil hitam. Melihatnya, aku membuang muka. Menahan gelegak muak dan murka. Orang-orang bersetelan hitam yang familier bagiku keluar satu per satu. Salah satu di antaranya, Imran, mendekat.
“Anda tidak apa-apa, Tuan Muda?”
Aku meludah. Tuan Muda Tuan Muda taik kucing, puih!
Dan mencuatlah dari sana, dia yang paling tidak mau kutemui. Dia yang gemar mendikteku dengan rentetan keharusan dan ketidakharusan. Dia, manusia keparat yang membagikan spermanya untuk kelahiranku di dunia.
“Berikan imbalannya.”
Imran patuh. Segepok uang disodorkan kepada Randy yang menerimanya dengan ekspresi yang tak mampu kutebak.
“Heh. Cuma segitu aja hargaku, Pi?” decihku.
Papi tak terguncang. Ekspresinya tetap sama, seolah ia bukan manusia melainkan batu. Memang benar ia batu. Bongkah tanah yang tak punya hati. “Kamu ngomong apa, hah? Kamu pikir kita punya waktu untuk main kucing-kucingan denganmu saat genting begini?”
Napasku memburu. Kesal luar biasa. Tapi bicara dengan batu takkan ada gunanya. Oh, asal laki-laki itu tahu, putranya hampir mati dan mau mati supaya tidak terlibat dalam saat genting yang dibicarakan. Oh, andai Randy membiarkan aku benar-benar mati malam itu.
Si Batu bicara lagi. “Kita harus menjadwalkan ulang penobatannya, karena kamu kabur!” Kali ini, nadanya naik sedikit. Rupanya aku sudah membuat sebongkah batu cukup beremosi.
“Yang minta dinobatkan siapa?” sambarku kesal.
“Mau tidak mau, kamu harus menjalaninya! Itu tempatmu!”
Lihat? Keharusan dan ketidakharusan lagi yang menjadi alasan. Sama seperti bagaimana mereka mendikteku untuk harus bersikap jantan selayaknya laki-laki karena merasa sikapku kelewat feminim. Sama seperti mereka yang menuntutku berkenalan dengan gadis itu dari keluarga anu yang sama sekali tidak membuatku berdesir. Padahal mereka sendiri yang membuat aturan. Mereka sendiri yang menutup semua jalur alternatif di luar setiap yang harus, mesti, dan wajib.
Mulutku memahit. Belum apa-apa, aku mendadak rindu rasa nasi bungkus. Rasa bubur yang wujudnya lebih mirip muntahan kucing. Rasa permen karet yang kukunyah sampai rahangku lelah. Rasa air putih dari gelas yang sama dengan yang diminum Randy.
Aku terkesiap, segera tersadar bahwa pemilik nama yang barusan kugumamkan masih ada di sini. Masih menonton drama ini dengan raut yang tidak terbaca.
‘… aku butuh uang… ‘
Sesak merambati dadaku.
“Oke,” putusku. Mereka bilang aku impulsif, dan kusuarakan apa yang muncul dari sistem impuls-ku. “Aku akan mengikuti penobatan dengan satu syarat—”
Papi menyambar. “Siapa bilang kamu punya hak tawar-menawar?”
“Aku. Kalau Papi nggak mau aku mengacaukan semua.”
Pria itu menipiskan bibir. Pertanda kalau dia mulai geram tapi tak tahu mau membalas apa. “Katakan.”
“Aku mau dia,” telunjukku teracung lurus pada Randy yang kini berdiri melongo, “bekerja untukku.”
“Nggak bisa,” Papi menolak mentah-mentah. “Dia sudah terima jatah terima kasih.”
“Itu terima kasih dari Papi. Belum terima kasih dariku. Dia menyelamatku dari kematian. Apa Papi tahu?”
Gejolak di wajah Papi makin lama makin kental. Rahangnya mengencang.
“Sesukamulah,” putusnya kemudian. “Imran, urus sisanya.” Ia menghadapkan punggungnya padaku dan kembali ke mobil, diikuti gerombolan makhluk kaku lainnya. Pertanda obrolan ini sudah ia finalkan.
“Gue nggak meminta ini.” Randy menghadangku.
“Aku nggak melakukannya karena kamu minta. Aku melakukannya karena aku mau.”
Randy mengusap wajahnya, putus asa. “Tapi—”
“Kamu butuh uang. Aku butuh kamu. Ini simbiosis mutualisme. Anggaplah ini konsekuensi karena kamu menyelamatkanku.”
Aku tidak tahu langkahku benar atau tidak. Aku tidak tahu ini memang impulsivitas semata atau tidak. Aku tidak tahu dan tidak mau peduli. Yang kutahu, aku butuh dia, dan kurasa, dunia yang kejam dan sinting akan melunak dan jadi lebih waras kalau ia membersamaiku; ada di pihakku, di jalan ini.
