Ibadah Perempuan

Wangi subuh pun tak membebaskan
perempuan
yang raganya tergolek di atas kesia-siaan
Di sisinya, sekarung duka dan luka berserakan
sementara moralitas lirih menggumam; mengetuk jendela kepulihan
yang dengan sepenuh hati ia abaikan
sebab jemarinya masih sibuk berlarian
dalam upaya membenahi hidup yang berantakan
sejak dalam kandungan Tuhan
Sedetik-sedetik, ia batukkan secelat penyesalan
yang tak sudi hengkang
sekalipun telah ditenggaknya pil-pil andalan
atau larutan eliksir paling sialan
sampai begah, sampai muntah-muntah
Namun, lagi-lagi, harus dikenakannya topeng cabar
sembari menebar hawar beraroma mawar
ke sepenjuru udara yang tawar
dalam ibadahnya menyuapi rasa lapar
yang membelit selangkangan barbar
lelaki-lelaki berperilaku nanar
Tak disediakan percabangan
baginya; ini satu-satunya jalan
sebab jaya dan kaya hanya mitos seribu satu malam
tak berkawan dengannya pagi; tiada lagi
nihillah salim, asinglah alim
ranjang hidupnya memang hanya dialasi selimut lalim

Dimuat dalam AstraMagz vol. 45. Tantangan menulis puisi dengan kata kunci raga, eliksir, salim, hawar, pulih.

Satu respons untuk “Ibadah Perempuan

Tinggalkan komentar