Arcane

Di dalam kamarnya, yang dikelilingi dinding-dinding batu nan tinggi, dengan keamanan seketat dalaman yang menempeli kulitnya, perempuan berusia enam belas tahun tercenung. Setumpuk surat yang mesti dia kirimkan dan baru saja dipoles lilin, dipandangnya hampa. Tapi isi kepalanya justru saling menderu-deru seperti bisingnya lokomotif uap.

Sejurus kemudian, terdengarlah gedebak-gedebuk dari balik pintu. Lamunan perempuan itu pecah. Sebersit kesadaran menghantam kepalanya untuk lekas mengenakan gaun yang bertumpuk-tumpuk itu, yang sudah lama membuatnya risi dan resah. Suaminya sudah datang, dan dia punya keharusan menyambut seperti hewan piaraan yang setia.

“Manusia-manusia itu harusnya saya bunuh seperti babi.” Rutukan suaminya lah yang pertama terlontar begitu dia menggantungkan mantel.

“Siapa?”

“Para imigran dari Asia itu! Benalu! Saat perang begini, mereka pikir datang ke Inggris adalah solusi. Bah, mimpi. Mereka sebetulnya sedang setor nyawa sendiri.”

Perempuan itu mencebik dalam suara yang amat pelan, “Buktinya sampai sekarang mereka masih hidup.” Dia berkata lebih keras, “Apa lagi ulah mereka?”

“Mencuri harta para bangsawan. Saya baru saja mengurus kehilangan dari rumah keluarga Standford. Lima kudanya raib.”

“Memang sudah tentu kuda-kuda mereka yang curi?”

“Siapa lagi?” Dengus tawa suaminya menyempil. “Orang Eropa tidak ada yang seberingas mereka.”

Suaminya terlalu tolol, pikir perempuan itu. Tolol karena sok pintar. Menjadi pengurus keamanan dan memiliki beberapa kapling tanah mahal membuatnya merasa tinggi, padahal dia tak ada bedanya dengan pengemis yang minta-minta di pojok jalan sana. Setiap kali ada kasus, selalu imigran yang disalahkan, dan selalu orang Asia diungkit duluan. Baginya orang Eropa selalu beradab, sedang di luar itu adalah para biadab.

“Sudah kau siapkan surat-surat itu?”

Si perempuan mengangguk.

“Bagus. Saya suruh petugas pos meng—”

“Biar saya yang mengantarnya sendiri,” si perempuan menyela, cukup keras hingga suaminya nyaris terlonjak. Lekas dia imbuhkan, “Sekalian, saya mau pergi ke festival seberang kompleks.”

Keamanan dunia masih mengambang, tapi hidup dalam lingkupan negeri nan jaya begini cukup menjamin kepalanya tetap utuh hingga dia kembali nanti. Peperangan pun tengah dalam fase gencatan senjata. Menyeberangi kawasan perumahan tidak akan membuatnya menyeberangi alam.

Sudah dia siapkan serentet pembelaan, serta alasan-alasan logis yang meyakinkan, jika terbit penolakan. Tak disangka, yang suaminya katakan malah:

“Ya. Pergilah. Saya tahu kamu pun bosan di dalam sini. Kembalilah sebelum matahari terbenam.”

Tas beledunya kini melompong, hanya berisikan uang beberapa penny untuk ongkos taksi kuda ke arena festival. Kedamaian temporer selalu membangkitkan kegembiraan lokal. Begitu gencatan senjata diumumkan, akan ada satu atau dua perayaan di beberapa titik. Salah satunya adalah yang akan perempuan itu kunjungi.

Akan tetapi, ketika dia melangkah turun dari tangga kantor pos yang berjumlah genap dua puluh itu, seseorang berderap menubrukinya. Perempuan itu terjerembab jatuh, untungnya tidak sampai bergulingan. Hanya saja renda gaunnya sobek diinjak kaki sendiri.

Pelaku penubrukan tidak berhenti, malah terus berlari, menghilang di balik kerumunan jalanan. Rupanya dia sedang diburu. Beberapa petugas keamanan yang tidak perempuan itu kenali, menyusul membuat kericuhan. Salah seorang dari mereka menyambangi tempatnya, membantunya berdiri.

“Anda tidak apa-apa, Miss—oh, maaf, Madam?” Petugas itu meralat begitu melihat cadar transparan menutupi setengah muka si perempuan. Pertanda bahwa dirinya sudah menikah.

“Ya, tidak masalah,” Si perempuan menyahut sekenanya. Terpaksa dia menyobek renda pada tepian gaunnya agar tidak mengganggunya melangkah.

“Apa ada sesuatu yang hilang? Laki-laki tadi itu … dia pencuri.”

“Tid—” Perempuan itu membelalak. “Oh, astaga. Tasku.” Tak ada di mana-mana. Sudah pasti dijembret orang tadi. Pengemis Inggris keparat itu—

“Orang Asia itu pasti mengambilnya. Manusia -manusia barbar itu…”

Perempuan itu mengernyit bingung. Di mananya orang Asia? Jelas-jelas yang menabraknya tadi orang Eropa. Meski mantel kumal dan topi berbau apak menutupi wajahnya, perempuan itu masih bisa melihat dengan jelas mata biru dan rambut pirang yang sekilas menyembul ketika lelaki itu berderap.

“Di mana kediaman Anda? Biar saya carikan kereta…”

“Tidak, tidak perlu. Saya masih menyimpan persediaan uang,” tolak perempuan itu langsung. Jelas itu dusta. Tak ada sepeser pun dia kantungi. Hanya saja perlahan rasa bingungnya menjumpai jawabannya sendiri, dan itu malah membuatnya muak pada petugas keamanan, termasuk yang ada di depannya ini. “Anda boleh melanjutkan tugas,” imbuhnya. Dengan halus mengusir petugas itu pergi.

Begitu petugas itu undur diri, tanpa menunggu lebih lama lagi, perempuan itu melangkah dengan dagu terangkat tinggi. Disetopnya taksi kuda yang kebetulan lewat di jalanan, melesakkan dirinya ke dalam. Akan dia minta sang sais untuk mengantarnya ke rumah agar dia bisa mengambil ongkos pulang pergi.

Namun, sebelum sais menepuk punggung kuda dengan pecutnya, seseorang tiba-tiba saja datang memanggil,

“Tunggu, tunggu sebentar!” Suara laki-laki. Ketika dia mendekat dan menyorongkan tangan melewati pembatas, si perempuan tercengang. “Ini tas Anda, ‘kan?”

Si perempuan hanya bisa mengerjap.

“Silakan. Saya jamin isinya utuh.”

Bukan hanya itu yang membuatnya heran, tetapi juga tampang si laki-laki. Dia orang Asia. Matanya sipit dengan bola mata sekelam malam, juga beberapa helai rambut yang menyembul dari topi rajutnya. Kulitnya kuning, mengingatkannya pada kertas yang dipapari cahaya senja. Sekian detik tercengang dan perempuan itu pun tersadar, laki-laki ini bukan orang yang tadi.

“Anda—”

Kata-katanya terputus ketika laki-laki itu makin mendekatkan wajah padanya, dan berbisik, “Tolong maafkan teman saya. Dia mengira Anda bangsawan yang punya banyak uang.” Dia menjauhkan kepala, dan berkata dengan lebih keras, “Mungkin ke depannya Anda bisa belajar menyisihkan uang. Jangan semuanya ditaruh di dalam tas. Bisa Anda sisipkan di sepatu, lengan baju, atau … dalaman.”

Perempuan itu tersekat. Kalimat yang menggelantung di lidah tidak sempat terucap karena tubuh si laki-laki menegak, menegang, lalu berderap pergi tanpa bilang-bilang. Penasaran, perempuan itu melongok keluar pintu kereta dan mendapati para petugas keamanan lain yang sedang mengejar laki-laki tadi.

Dengan jantung berdebar, si perempuan berharap laki-laki itu tidak tertangkap.

Dengan jantung berdebar, si perempuan berharap dia bisa berjumpa lagi dengan laki-laki itu.

Tinggalkan komentar