prompt: shoulder to lean on
jumlah kata: 494
SUARA siaran bola di ruang tengah diputar kelewat keras. Pelakunya jelas Zack. Terkadang, Saka takjub dengan kapasitas energi saudara semata wayangnya. Malam ini mereka pulang dari acara kumpul-kumpul yang sama, tetapi di saat Saka sudah tepar kehabisan daya, Zack malah masih aktif seakan punya baterai cadangan.
Namun, kelelahan tidak lantas mengantar Saka menjumpai lelap. Sudah lama dia yakin, pikiran-pikiran di kepalanya mungkin terpecah dari sel yang sama dengan tenaga Zack; aktif berkelindan saat dia harusnya terlelap. ‘Mereka’ menyuguhkan padanya satu wajah, satu nama, dan satu figur yang sama.
Mungkin dia butuh minum untuk menjinakkan ‘mereka’.
Tangannya menyibak selimut.
Di sofa, Zack terlihat bagai siluet mengerikan dengan mata bercahaya—efek dramatis dari lampu yang dipadamkan dan pantulan layar kaca. Segelas kopi hitam pekat dan sekemasan besar kacang goreng jadi teman bergadangnya.
“Apa lawan apa?” Saka memutuskan mendekat dengan segelas besar air.
“MU Liverpool.” Zack mendongak. “Lah, kirain udah tidur.”
Saka mendenguskan tawa miris. Andai semudah itu.
“Kepikiran, ya?” tanya Zack tiba-tiba.
“Apaan?”
“TOD tadi.”
Kening Saka berkerut. “Maksud?”
“Kirain lo kepikiran TOD yang tadi. Soal Martha.”
Saka tersedak ludah sendiri. “Mar—apa?!”
Saudaranya malah tergelak. Saka ingin bertanya lanjut, tapi Zack tiba-tiba bangkit dan berseru-seru sewaktu seorang pemain menggiring bola mendekati gawang lawan.
“Gol, dong! GOL—ahelah, Tolol!” Tembakan barusan mengenai tiang. Zack kembali duduk sambil mengumpat-umpat.
“Lo nggak nyadar, ya? Anak-anak udah pada tahu, kali,” kata Zack lagi.
“Tahu apa?”
“Tahu isi.” Zack terkikik. “Ya tahu soal perasaan lo ke Martha, lah!”
“Hah?”
“Mungkin lo pribadi yang tertutup, Ka. Tapi, perasaan lo itu kayak buku yang kebuka. Gampang kebaca, kecuali sama orang rabun. Atau, yang pura-pura rabun.”
Saka hanya bisa terbengong, ketika Zack berlagak menganalisis satu per satu gejala kebucinannya. Dari Saka yang gemar memandangi Martha diam-diam. Saka yang khawatir berlebihan tiap Martha minum miras, merokok, atau apa pun yang membahayakan kesehatannya …
“Kok …?” Hanya itu komentar Saka kemudian. Rasanya melayang dan tidak nyata. Meski Saka juga ingat bahwa dia tidak pernah berusaha bersembunyi.
Saudara kembarnya malah terkekeh. Matanya kembali menatap layar, fokus pada tayangan permainan lapangan di sana.
Ketika suasana mereda kembali karena babak injury, Saka bertanya lagi, “Tapi … kalau lo bilang anak-anak udah pada tahu,” ia menenggak ludah susah payah, “berarti Martha … juga?”
Zack tidak langsung menjawab. Dia menenggak kopinya, dan menerawang. “Kalau soal Martha, gue nggak tahu. Bisa dibilang dia itu kebalikan lo. Dia pribadi yang terbuka, gampang akrab sama siapa aja, tapi perasaannya nggak ketebak.”
Saka mengangguk pelan. Setuju. Martha yang diketahuinya memang begitu. Saking penuh akan warna, Saka bingung menerka mana warna gadis itu yang sesungguhnya.
“Tapi, kalau gue yang IQ-nya jongkok ini karena semuanya diserap sama lo aja bisa tahu soal perasaan lo, dan gue yakin itu bukan karena that bullshit bahasa batin antarkembaran yang geblek itu, gue yakin dia juga sebenernya udah nebak. Cuma ada dua kemungkinan alasan dia diam. Pertama, dia nunggu lo ngasih kepastian. Kedua, dia nggak tertarik sama lo. So …,” Kepalan tangan Zack menumbuk lengan atas Saka, “… kenapa lo nggak confess aja?”
